Coba Katakan: 1

Mark Tuan (GOT7), Lee Mijoo (Lovelyz)

.

2011

“Coba katakan.”

Mark Tuan mengalihkan pandangannya dari buku Biologi, dan menolehkan kepalanya ke arah Jackson Wang, teman sebangkunya yang sedari tadi entah sedang apa. Yang jelas, mengganggu Mark adalah salah satu kegiatan yang amat disukai Jackson. Seperti sekarang ini.

“Apaan, sih?” Mark bertanya, lebih terdengar menggerutu.

“Coba katakan.”

“Katakan apa?” Mark mengernyitkan dahi. Kebingungan dengan perkataan Jackson barusan, bercampur dengan rasa kesal melihat wajah Jackson yang benar-benar sengak.

“Katakan pada Lee Mijoo kalau kau menyukainya.”

Mark nyaris tersedak air ludahnya sendiri, “siapa?”

“Lee Mijoo,” Jackson mengangkat dagunya, mengarah ke arah seorang gadis berambut hitam panjang sepunggung yang sedang duduk di bangkunya, bangku kedua dari depan.

Lee Mijoo, gadis yang tadi disebut-sebut Jackson, tampak tidak mendengar bahwa ada yang menyebut namanya di sudut kelas. Ia masih terlalu sibuk menyalin sesuatu, ditambah kedua telinganya disumbat earphone.

“Siapa yang suka?”

“Mark Tuan.”

“Aku?” Mark menunjuk dirinya sendiri dengan nada terkejut. Untung saja, jam istirahat masih di permulaan, ruang kelas tersebut hanya berisi ia, Jackson, Park Jinyoung yang sedang tidur di sudut lain, dan tentu saja Mijoo yang tengah duduk di bangkunya.

“Aku sering melihatmu menatap Lee Mijoo, tahu. Kadang-kadang suka tersenyum sendiri. Creepy, man,” Jackson

I’m not,” gumam Mark, dengan cepat menenggelamkan lagi pandangannya pada buku Biologi, berusaha menyerap informasi apapun pada bab virus demi kelangsungan ulangan hariannya dua puluh menit lagi.

“Jelas-jelas kau sering tersenyum sendiri tiap melihat Lee Mijoo. Kau juga terlihat sewot saat Lee Mijoo berduet dengan Im Jaebum untuk tugas pasangan di pelajaran seni minggu lalu. Aku ini, pintar membaca raut wajah orang, tahu.”

Mark merasakan pipinya semakin memanas. Sial, semua yang diutarakan Jackson memang benar adanya.

“Sejak kapan?” tanya Jackson, lagi, “cerita-ceritalah pada kawanmu ini, Bung. Sudah nyaris satu tahun kita duduk bersebelahan, siapa tahu naik kelas besok, kita tidak sebangku lagi.”

Mark menutup buku Biologinya. Ia sudah tidak mau tahu dengan struktur tubuh virus. Ia butuh orang untuk mendengar curahan hatinya. Seorang Lee Mijoo sudah terlalu kejam telah merenggut pikirannya selama nyaris satu tahun belakangan, dan tidak ada yang tahu betapa tersiksanya Mark.

Ia tidak tahu bahwa menyukai seorang perempuan setelah masa puber bisa sebegini menyebalkannya.

“Sejak setelah masa orientasi.”

“Hari pertama pakai seragam SMA?”

Mark mengangguk.

“Kok bisa?” Jackson bertanya lagi. Kepo. Ingin tahu bagaimana manusia yang tampak tidak memiliki emosi apapun, berekspresi datar, dan hemat bicara seperti Mark bisa suka pada seorang perempuan. Lee Mijoo, lagi! Gadis itu memang cantik, tapi terlalu cerewet untuk ukuran Mark.

Jackson pikir, Mark memiliki selera gadis seperti Jung Soojung, anak kelas sebelah yang cantik tapi jutek, atau Kim Sojung, yang didapuk jadi perempuan paling cantik satu angkatan, dan ternyata putri Wakil Menteri Kesehatan Korea.

“Dia sangat cantik dengan seragamnya, dan saat dia tertawa dengan Kang Seulgi menertawakan Jung Daeun yang pakai lip tint belepotan ke mana-mana,” Mark menatap punggung Mijoo dari kejauhan, “dan saat dia panik karena dompetnya tertinggal di rumah. Wajahnya lucu sekali.”

Jackson mengangkat alisnya. Ia pun menjadi saksi atas kejadian yang baru saja Mark tuturkan, tapi menurutnya semua itu biasa saja.

Jadi benar ya, kata orang-orang. Jatuh cinta membuat orang terlihat bodoh dan norak sekaligus.

Mark tanpa sadar menyunggingkan senyum saat mengingat momen kapan ia jatuh cinta pada seorang Lee Mijoo, kemudian kembali merubah raut wajahnya saat sadar bahwa Jackson menatapnya dengan tatapan yang bercampur.

Jijik, bercampur iba, bercampur bingung.

“Kenapa?”

Jackson menggeleng, “tidak apa-apa. Kau pasti belum pernah menyukai perempuan, ya, sebelumnya?”

Mark kemudian merubah raut wajahnya menjadi kesal, “memangnya kenapa?”

“Pantas saja norak, ckckckck,” Jackson berdecak, “lalu kenapa kau tidak melakukan pendekatan?”

Mark menggeleng, “belum ketemu waktu yang tepat.”

“Sampai kapan?”

Mark mengangkat bahunya, menyadari bahwa Mijoo sudah melepas earphone, kemudian gadis itu tengah mengeluarkan compact powder, dan berkaca.

“Masih ada tiga tahun waktu di sini. Masih ada waktu panjang untuk mendekati Lee Mijoo.”

.

2012

By the way, Lee Mijoo ganti warna rambut.”

Itu ucapan Jackson tepat sedetik setelah lonceng berbunyi, menandakan kelas Kimia yang melelahkan telah berakhir sore itu.

“Sudah tahu,” Mark merespon, membiarkan Jackson duduk di sebelahnya.

Sial memang, setelah pengumuman kenaikan kelas dua bulan lalu, ia kebagian satu kelas lagi dengan Jackson, dan duduk sebangku lagi dengan anak yang hobi cengengesan itu. Sialnya lagi, ia sudah pisah kelas dengan Mijoo. Ia dan Jackson masuk kelas sains, sedangkan gadis yang kini berambut panjang cokelat tersebut masuk kelas sosial.

“Cantik juga, ya.”

Mark langsung menengok ke arah Jackson dengan tatapan galak, dan tidak suka. Ia benci jika ada yang mengatakan Mijoo cantik, selain dirinya. Apalagi keluar dari bibir Jackson yang notabene tahu benar bagaimana sukanya Mark pada gadis anggota klub jurnalistik tersebut. (Bahkan Mark pernah ikut bergabung dengan klub jurnalistik pada awal masuk sekolah, namun langsung hilang di pertemuan berikutnya karena tidak kuat dengan tugas artikel dan tetek bengek lainnya setiap minggu.)

Oops, sorry, Bro,” Jackson menyengir, “aku pulang duluan, ya. Youngji sudah menunggu.”

Mark yang masih membereskan buku-bukunya di dalam tas, hanya merespon dengan anggukan.

“Sebentar lagi hujan, Mark. Jangan lupa pakai payung,” Jackson menepuk bahu Mark dan segera melesat keluar kelas, berbaur dengan murid-murid lainnya yang berebutan ingin pulang sebelum hujan turun.

Mark melirik ke arah langit dari jendela kelas, mendapati langit sudah menggelap, tanda memang sebentar lagi, hujan akan turun.

“Tsk,” Mark berdesis kesal, dan mencari-cari payung dan jaket di dalam ransel hitamnya. Ia memang selalu membawa payung dan jaket, terutama di saat cuaca sedang tidak menentu seperti sebulan belakangan ini, karena ibunya terus-terus berteriak menyuruhnya berjaga-jaga.

“Brengsek,” umpat Mark. Ia tidak berhasil menemukan payung, hanya sebuah jaket berwarna abu-abu butut yang mengendap di bagian dasar ranselnya. Walaupun ia sudah ada jaket, ia tidak suka jika harus berbasah-basahan di antara rinai hujan.

Mark segera keluar dari kelas setelah menyampirkan jaket di atas bahunya dengan asal, dan memanggul ranselnya. Mungkin karena langit yang semakin menggelap, dan suara petir mulai terdengar, anak-anak satu sekolah berlomba-lomba untuk pulang, sehingga saat ia sampai di pintu utama sekolah, keadaan sudah sepi. Tinggal satu dua siswa berdiri di halte bis seberang sekolah, dan di dalam gedung sekolahpun hanya terlihat guru-guru yang berlalu lalang.

Benar saja, tidak lama usai Mark tiba di pintu utama, hujan langsung turun begitu derasnya, membuat ia ingin mengumpat dengan seribu makian.

Aaaaah! Yang benar saja!”

Seorang gadis yang baru saja tiba di pintu utama sekolah, langsung terdengar mengeluh, membuat Mark menoleh.

Mati. Matilah Mark Tuan. Mati.

Mark membeku, tepat saat ia tahu siapa yang sekarang berdiri dengan jarak kurang dari lima meter darinya.

Lee Mijoo.

Iya, Lee Mijoo yang itu.

Gadis berambut cokelat panjang sepunggung tersebut mengubek-ubek ranselnya, berusaha mencari benda apapun yang dapat menyelamatkan hidupnya. Entah payung, jaket, cardigan, atau scarf sekalipun.

Masih mengubek-ubek, hujan turun semakin deras dan kejam. Bukan hari yang mujur bagi Mijoo, gadis itu menutup tasnya dengan raut wajah kesal. Ia menoleh dan mendapati satu sosok laki-laki menatapnya seperti tidak berkedip.

Sadar bahwa sang target menyadari keberadaannya, Mark berdeham, memutar otak, mencari bahan pembicaraan agar tidak terlihat creepy karena menatap Mijoo terlalu lama.

“Hujan, ya.”

Goblok. Maki Mark dalam hati. Dari seribu pick up line, kenapa harus ‘Hujan, ya’ yang muncul?

“I-iya,” Mijoo mengangguk, “Mark.. Mark Tuan yang dulunya sepuluh tiga, kan?”

Mark mengangguk, setengah senang, setengah nervous. Lee Mijoo meningatnya!

“Iya.”

Lalu mereka berdua jadi berdiam diri. Tidak bergerak dari posisi masing-masing di pintu utama. Mijoo bertanya-tanya dalam hati mengapa si lelaki jangkung berambut jabrik bernam Mark ini tidak langsung lari menerobos saja ke halte depan, toh Mark punya jaket.

Di sisi lain, Mark bertanya-tanya dalam hati, apa yang harus ia lakukan selanjutnya.

Nggak pulang?” Mark bertanya, mencoba basa-basi, walaupun ia sadar pertanyaannya sangatlah basi. Jelas-jelas Mijoo mau pulang, tapi terhadang hujan.

“Maunya sih gitu. Tapi kan hujan gini.”

Mark mengangguk lagi, “mau pakai?” sambil mengulurkan jaket abu-abunya kepada Mijoo. Ia tidak tahu mengapa, bahkan ia lupa bahwa jaket tersebut mengendap di ransenya terlalu lama dan only God knows how bad the smell of the jacket is. Yang ia inginkan adalah melihat Mijoo bisa pulang.

“Eh?” Mijoo terperangah. Gadis itu kemudian mengambil jaket Mark ragu-ragu, “kau sendiri gimana?

“Aku nggak masalah. Belum terburu-buru pulang, juga.”

Bullshit sekali, pemirsa. Mark sadar bahwa ia ada janji setengah jam lagi untuk menjemput Raina, adik perempuannya, di tempat les biola.

Mijoo masih terlihat ragu, kemudian dibukanya gumpalan jaket Mark tersebut, membuka zippernya, dan membentangkan jaket abu-abu tersebut secara lebar, lalu menoleh ke arah Mark seraya tersenyum, “kita berdua muat kok kalo jaketnya dijadiin payung. Payung darurat.”

Apa?

Kita.

Berdua.

Masa bodoh kalau Mark dimaki norak. Kenyataannya memang ia tengah norak setengah hati begitu Mijoo berkata demikian. Tapi tentu saja, norak di dalam hati. Lelaki hemat bicara itu tidak mengatakan apa-apa.

Mijoo menggaruk tengkuk belakangnya yang tidak gatal, “aku kan butuh pulang.. kau juga butuh pulang.. jadi daripada kau meminjamkan aku jaket, tapi kau kehujanan untuk berjalan sampai di halte sana, lebih baik kita berdua berjalan bersama di bawah jaket ini saja… err.. bagaimana, Marksshi?

Mark masih tidak merespon.

“I-itupun kalau kau mau, sih,” Mijoo jadi malu sendiri. Kedua pipinya memanas, entahlah, ia jadi merasa momennya sore ini seperti salah satu cuplikan adegan drama yang biasa ditonton Ibunya tiap malam.

“Ayo.”

Mark kemudian memegang sisi lain dari jaket tadi, membentangkan jaket tersebut di atas kepalanya, dan juga di atas kepala Mijoo. Mijoo refleks mendekat, memastikan agar tubuhnya tidak terkena rinai hujan, dan membuat Mark tiba-tiba sakit kepala karena ujung lengan kemeja Mijoo menyentuh ujung lengan kemejanya.

“Eh, sorry sorry,” Mijoo langsung menjaga jarak. Tidak sadar dengan dentuman aneh di jantung Mark saat ia berjarak begitu dekat dengan lelaki itu, “ayo.”

O-okay,” Mark mengangguk, kembali memastikan jaketnya sudah terbentang dengan sempurna, “hitungan ketiga, lari ya, Mijoo-sshi.”

Menyebut namanya saja membuat lidah Mark kelu barusan.

“Satu…”

“Dua….”

“Tiga!”

Sepasang anak manusia berseragam SMA tersebut lari sekuat tenaga yang mereka bisa, beratapkan bentangan jaket abu-abu butek milik Mark.

Mijoo mendekap ranselnya di depan dada dengan satu tangan, tidak membiarkan air merembes ke dalam ransel dan merusak buku-bukunya, sedang tangan lainnya memegang ujung jaket Mark, membuat air mulai dengan lancar membasahi lengan dan masuk ke kemejanya.

Mark mencoba mengatur bentangan jaket, begitu melihat lengan Mijoo yang kebasahan, refleks lelaki itu menurunkan tangan Mijoo, dan membiarkan kedua tangannyalah yang membentangkan jaket, sembari terus berlari, namun tetap dengan langkah yang tidak terlalu jauh dari langkah lari yang diambil Mijoo.

Ia pun baru sadar bahwa ia tadi menyentuh tangan Mijoo saat menurunkan tangan gadis itu dari ujung jaket, dan Mijoo sendiri refleks mendekatkan dirinya pada Mark agar air tidak mengenai kemejanya lebih parah saat Mark menurunkan tangannya.

Mark tidak akan pernah lupa momentum sore ini.

Hujan, Mijoo, dan scent of strawberry yang menguar dari sela-sela rambut Mijoo.

// to be continued //

Aku tau ini so cheesy dan pasaran dan mainstream, but I only can think of school love story if it’s about my another favorite crackship: Mark x Mijoo.

Hope you guys love this.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s