Rewind // Chapter 1

Rewind

Jung Soojung | Kim Jongin | Kang Jiyoung | Oh Sehun 

Karena semua orang sudah bilang, kalau tidak ada pertemanan terdiri dari lawan jenis yang sejatinya tidak memiliki perasaan lebih.

/// 

Bagian Satu

 

Hari itu, masih di pertengahan musim semi, namun sang surya sudah memancarkan sinarnya tak kalah di kala musim panas. Membuat semua orang mengernyit dalam terik, ingin sekali mengakhiri hari ini, dan berdoa semoga cuaca besok jauh lebih mendukung.

Sementara itu, berusaha menghindari sinar matahari dengan berlindung di bawah pohon rindang, seorang gadis berseragam SMU mengetuk-ngetukkan jari di atas permukaan lid telepon genggam berwarna biru muda sambil terus menerus melirik jam tangan hitam yang melingkari pergelangan tangan kiri kurusnya. Kakinya terus begoyang-goyang di atas rerumputan taman belakang SMA Hanrim. Tidak sabar menunggu sesuatu. Dahinya mengernyit, menahan panas yang menerobos dari celah-celah dedaunan.

Dengan tidak sabaran, ia segera membuka lid telepon genggamnya, menekan deretan nomor yang sudah ia hafal di luar kepala —walau pada akhirnya, nomor itu akan berganti dengan sebuah nama di layar telepon genggamnya.

Jongin.

 

Begitu nada sambungan berhenti, dengan cepat dan tidak sabaran, Jung Soojung segera bersuara dengan gaya bossy-nya yang khas, “di mana? Udah setengah jam aku nungguin. Mau sengaja ngebakar aku biar makin hitam atau bagaimana sih?”

Terdengar suara berisik sesaat, sampai akhirnya suara berat khas milik Kim Jongin menyapa pendengaran Soojung, “iya bawel, Sehun memangnya belum sampai di sana?”

“Menurutmu!? Kalau udah ada Sehun, aku nggak bakal nelfon kamu buat minta kamu datang cepat. Aku berangkat duluan saja dengan dia.”

Terdengar suara berisik-berisik lagi, lalu terdengar suara Jongin kemudian, “oke oke, aku ke sana. Jangan berangkat duluan! Aku nggak tahu rumah baru Kangji. See you there in a minute, boss.”

Soojung mendengus kesal dan menekan tombol end pada telepon genggamnya. Ia duduk di atas bench di halaman samping sekolahnya dengan raut tidak sabaran. Ia benci menunggu. Ia tipe yang tepat waktu. The on-time bossy girl. Begitu kakak lelakinya, Daehyun, memanggilnya —dan segera diikuti oleh Jongin dan Sehun, kedua sahabatnya yang tak sengaja mendengar panggilan itu saat mereka sedang main (baca: mengacak-acak) ke rumah Soojung.

“Soojung!”

Terdengar suara serak dari kejauhan. Oh Sehun, dengan rambut cokelat khasnya, dan senyum kakunya, melambaikan tangan. Langkah lelaki kurus itu semakin lebar, mendekati Soojung. Gadis itu lantas berdri, membalas lambaian Sehun. Tidak butuh waktu lama, lelaki itu sudah berdiri di depan Soojung.

“Maaf lama, rapatnya ngaret.”

Soojung mengangguk mengerti sembari melipat kedua tangannya di depan dada, “seenggaknya kamu terlambat karena alasan yang jelas. Coba lihat si hitam Jongin itu. Tadi dia kabur mau ngumpul sama geng motornya, dan sekarang belum terlihat juga batang hidungnya.”

Sehun yang baru sadar kalau sosok salah satu sahabatnya belum muncul kemudian berdecak, “anak itu.. masih main geng motor juga? Udah kelas tiga gini.”

Soojung mengangkat bahu. Baru saja Soojung hendak membuka lid telepon genggamnya demi menelepon Jongin, sosok yang ditunggu-tunggu kemudian berteriak dari parkiran motor yang memang tersambung dengan halaman samping, hanya dibatasi pagar seukuran perut orang dewasa.

“Sehun! Soojung!”

Sesosok lelaki berambut hitam acak-acakkan dengan kulit kecokelatan terbakar matahari melambaikan tangannya, “ayo!”

Soojung memutar kedua bola matanya dan melirik Sehun, “ayo. Kau bawa motor, kan?”

Sehun mengangguk, mengiringi langkah Soojung ke arah parkiran motor, di mana Jongin sudah menunggu mereka berdua. Ia kemudian melompati pagar dengan sekali gerakan mudah, dan menunggu Soojung untuk mengikuti hal yang ia lakukan barusan, kemudian bertanya, “kau mau ikut naik motorku?”

Soojung menggeleng, “aku bareng Jongin.”

Sehun kemudian mengangguk paham, “oh.. oke.”

Tidak butuh waktu lama, motor yang dikendarai Sehun sudah melesat keluar dari parkiran SMA Hanrim, diikuti motor yang dikendarai Jongin dan ditumpangi Soojung. Ketiga sahabat itu lantas melaju membelah lalu lintas Seoul yang ramai —terlebih Jongin dan motornya dengan kecepatan yang membuat Soojung teriak-teriak.

“Jongin awas lampu merah!!!!”

///

Kedua motor besar itu berhenti di depan sebuah rumah yang bisa dikatakan cukup besar bagi mereka. Desainnya minimalis, namun halamannya cukup luas dan tampak asri. Suasana terlihat tenang, dan ketiga sahabat itu sudah berdiri di depan pagar rumah yang bertuliskan Kim Hyung-Seok di bagian dinding pagarnya.

“Cepat tekan belnya,” Soojung menyenggol siku Jongin —dengan hati-hati agar kue yang dipegangnya tidak jatuh—, yang dibalas dengan tatapan menolak dari mata pria itu. Soojung segera mengangkat alisnya tinggi-tinggi, “udah ngaret, lupa beliin kue, masih mau nolak disuruh-suruh? Benar-benar……”

Yang disikut bersikeras menggeleng, “ayolah, Soojung.. Kamu aja.”

“Hei. Mana rasa minta maafmu karena sudah terlambat, dan lupa membeli kue? Kamu pikir ya, kalau tadi di jalan kita nggak lewatin bakery, bisa-bisa kita kasih surprise tanpa kue, tahu!” omel Soojung pada Jongin yang malah tidak begitu mendengar. Pria itu malah menepuk-nepuk jaket hitam kulit kebanggaannya, mengusir pergi debu-debu yang hinggap di sana.

“Brengsek, Jongiiiiiiiiin!!!” Soojung berteriak di telinga Jongin. Sangat khas Jung Soojung kalau ia benar-benar sudah habis kesabaran akibat Jongin. Kata kasarnya tanpa perlu lagi disaring kalau sudah kesal, dan Jongin juga tidak ambil hati dengan kebiasaan Soojung, karena toh dia kadang melakukan hal serupa —walau ia anti mengatai perempuan secara langsung.

“Kalian teriak-teriak saja terus. Sekalian saja teriak agar Jiyoung bisa dengar kalau kita mau memberi kejutan padanya,” Sehun yang mulai memasang wajah bosan melihat Soojung dan Jongin, kini angkat bicara, “panas nih. Cepat tekan belnya.”

Jongin berdecak karena Soojung bersikeras menyuruhnya lewat tatapan tajam yang gadis kurus itu miliki. Pria bertubuh sedikit kekar itu kemudian melangkah lebih maju daripada kedua sahabatnya, “selalu aku terus yang jadi babu. Dasar awas sa—”

Kriet… pagar berwarna cokelat yang terbuat dari kayu itu terbuka, membuat tangan Jongin yang baru mau menggapai tombol bel berhenti di udara, dan membuat Soojung juga Sehun menahan nafas mereka.

Seorang gadis berambut hitam sebahu dengan poni sedahi keluar dengan piyamanya. Kedua matanya yang agak bulat tampak sayu, dan kemudian terkejut melihat tiga manusia berseragam yang berdiri dengan raut cengo yang terukir di wajah masing-masing.

“Jongin? Soojung? Sehun?”

Ketiga sahabat itu kemudian diam sesaat sebelum akhirnya secara kompak menyengir inosen, sambil sedikit cengengesan, “eh Kang Jiyoung… Selamat ulang tahun….”

///

Kang Jiyoung berjalan masuk ke rumahnya, paling depan dari sahabat-sahabatnya sembari memegang kue ulangtahun yang tadi dipegang Soojung, —membiarkan ketiga sahabatnya mengikuti langkahnya, dan membiarkan ketiga pasang mata sahabat dekatnya itu mengedarkan pandangan mereka ke sekeliling rumah persis orang norak, “aku keluar karena kupikir aku mendengar suara Soojung.”

Jongin dan Sehun dengan kompak melirik Soojung tajam, sedangkan yang dilirik hanya balas mendelik. Tatapannya seakan berkata ‘apa?! Mau salahin aku?!’ namun seperti biasa, Jongin dan Sehun tidak mau lebih lanjut mengajukan protes pada Soojung yang sebenarnya menggagalkan rencana kejutan mereka.

“Ibu, ada Soojung, Jongin, dan Sehun!”

Jongin, Sehun, dan Soojung, kompak berpandangan. Sudah dua tahun ini mereka bersahabat, dan baru kali ini mereka akan bertemu dengan ibunya Jiyoung. Mereka memang sering berganti tempat kumpul, kadang di rumah Soojung yang besar, kadang di apartemen Jongin yang berantakan, kadang di rumah Sehun yang damai, dan kadang di apartemen kecil milik Jiyoung. Hanya saja, Ibu Jiyoung adalah wanita pekerja keras yang super sibuk. Setiap mereka bertandang ke apartemen Jiyoung, keadaannya selalu rapi, tapi kosong. Jiyoung sering bercerita kalau Ibunya berkerja dari jam delapan pagi sampai jam sebelas malam. Ketiga sahabat itu hanya pernah melihat sosok Ibu Jiyoung dari fotonya.

“Oh, mana? Kebetulan Ibu sedang memasak cukup banyak malam ini.”

Seorang wanita yang Soojung perkirakan berkepala empat, keluar dari dapur dengan baju rumahan dan celemek yang menutupi bagian depan tubuhnya. Kedua matanya yang bulat sepertinya memang beliau turunkan pada putri sematawayangnya, Jiyoung. Kerutan mulai terlihat di sudut mata, namun aura kecantikannya tampak tidak terusik sama sekali. Soojung yakin kalau Nyonya Kang sangat muda pastilah mirip dengan Jiyoung.

“Ibu, ini Soojung, lalu ini Jongin, dan yang ini.. Sehun,” Jiyoung memperkenalkan satu persatu sahabatnya pada Sang Ibu, dilanjutkan oleh ketiga sahabat itu membungkuk secara kompak.

“Waah, Bibi sudah sering mendengar nama dan cerita mengenai kalian dari Jiyoung,” Nyonya Kang tersenyum hangat pada ketiga remaja di depannya, “terima kasih ya sudah menjaga Jiyoung dengan baik di sekolah.”

“Ah, Bibi, justru Kangjilah yang banyak berjasa bagi kami,” Jongin menyengir, “kalau tidak ada Kangji, nilai mata pelajaran eksak saya bisa E semua…”

Mereka tergelak, sedangkan Jongin menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal.

“Oh iya, Jiyoungie, coba buatkan minuman untuk teman-temanmu. Oh iya, mana Ayah?”

Raut Jiyoung kemudian sedikit berubah mendengar pertanyaan sang Ibu, lalu seketika merubah rautnya lagi, kembali seperti biasa, “Ayah ada di ruang kerja. Oh iya, kalian mau minum apa?”

Soojung dan Sehun hanya menggeleng tipis, sedangkan Jongin dengan noraknya langsung berseru, “es sirup boleh kok, Kangji. Panas banget soalnya di luar. Fuh sampe keringetan begini.”

Soojung langsung melengos melihat perilaku Jongin, kemudian teringat sesuatu saat melihat Jiyoung meletakkan kuenya di atas meja ruang keluarga, “oh iya, kamu belum tiup lilin, lho, Kangji,” Soojung langsung menyikut Jongin, “mana korek api sama lilinnya??”

Jongin yang meringis karena disikut oleh siku Soojung yang tajam lantas membuka tasnya, mengeluarkan pemantik api otomatis yang selalu ia bawa —karena ia merokok— dan menyerahkannya pada Soojung. Merasa ada yang kurang, Soojung langsung mengangkat alisnya, “lilinnya?”

“Lho, aku nggak beli.”

“Ih. Kemarin kan disuruh beli kue sama lilin…”

“Lah kan aku lupa kuenya.. makanya lupa juga sama lilinnya,” Jongin mengangkat bahu, “lagian siapa suruh tadi pas beli kue nggak sekalian beli lilin?”

Kalau dalam keadaan hanya ada mereka berempat, dipastikan Soojung langsung memaki-maki Jongin, ditambah pukulan keras di bahu pria itu. Namun karena ada Ibunya Jiyoung, Soojung hanya menarik nafas sambil tersenyum sinis pada Jongin, “baiklah… pfffttt Ya Tuhan ampuni dosa hambaMu satu ini…..”

Ibu Jiyoung terkekeh pelan, “Bibi ada lilin, kok. Bagaimana?”

“Boleh, Bi..,” Soojung menjawab, “ada di mana, Bi? Biar Soojung yang ambilkan.”

“Ah, dari sini kamu lurus, belok kanan ada tangga, nah di bawah tangga itu ada lemari. Buka yang paling kanan, di rak paling atas ada lilin-lilin dan minyak aromaterapi. Ambil saja.”

Soojung mengangguk mengerti, “baik, Bi.”

Seraya meninggalkan Nyonya Kang yang bersenda gurau dengan putrinya, juga dengan Jongin dan Sehun, Soojung berjalan menuju arah yang dimaksud. Baru saja ia berbelok, seorang pria yang ia perkirakan berusia tiga puluhan turun, dan menatap Soojung sambil tersenyum. Soojung balas tersenyum kikuk.

“Temannya Jiyoung, ya?”

Soojung membungkuk dan menyunggingkan senyum sekilas, berusaha sok ramah, “halo, Paman.”

Pria itu terkekeh, namun Soojung menangkap nada aneh pada kekehannya. Ya, katakanlah ia sok tahu, tapi selama delapan belas tahun ia hidup, ia memiliki insting yang tinggi dan ia tidak suka bagaimana ia mendengar suara ayah tiri Jiyoung itu, “iya.. Wah temannya Jiyoung ternyata cantik, ya… Pantas saja, Jiyoungnya memang cantik, temannya juga cantik…”

Soojung hanya tersenyum masam sambil mencerna ucapan pria yang ia yakini bernama Kim Hyungseok —alias ayah baru Jiyoung—, “err.. iya.. terima kasih, Paman..”

“Paman ke kamar mandi dulu, ya..”

Gadis itu lagi-lagi hanya tersenyum masam, “err.. iya, Paman..”

Lelaki itu kemudian berjalan ke kamar mandi, membuat Soojung lantas bergidik secara refleks. Entahlah, baginya, ayah baru Jiyoung itu aneh.

Dan ia harap kali ini instingnya salah.

///

Saengil chukkhahamnida. Saengil chukkhahamnida! Saranghaneun uri Kangji, saengil chukkhahamnida!”

Nyanyian khas setiap perayaan ulangtahun itu dinyanyikan oleh tiga orang remaja dan seorang wanita yang merangkul putri sematawayangnya dengan hangat. Jiyoung, yang terharu, menghapus air mata yang sudah siap meluncur dari pelupuk matanya. Tahun lalu, mereka memang tidak merayakan ulangtahunnya secara kejutan, hanya sekedar ucapan dan hadiah saja. Tapi tahun ini masuk tahun kedua persahabatan mereka, dan ini menjadi hadiah terindah bagi Jiyoung.

“Terima kasih.. Aku nggak nyangka kalian mau ke sini..,” Jiyoung tersenyum, “kalian tahu dari mana rumah baruku?”

“Sehun yang mencarinya di bagian administrasi. Untung saja alamatmu sudah diganti dengan alamat baru,” Soojung menjelaskan, sementara Sehun tersenyum bangga. Jiyoung menatap Sehun dan tersenyum lebar.

“Makasih…”

“Ayo ayo tiup lilinnya, Jiyoung,” Jongin mengambil kue yang disodorkan Soojung dan menyodorkannya pada Jiyoung, “ayo tiup biar cepat dipotong-potong kuenya.”

Jiyoung terkekeh, “okay..

Make a wish dulu!” seru Soojung, “ayo Kangji.”

Jiyoung hanya terkekeh lagi melihat teman-temannya. Ia memejamkan matanya, mengucapkan harapan-harapannya di usia barunya yang menginjak angka sembilan belas, dan kemudian meniup lilin besar yang tertancap di kuenya dengan semangat.

Semua bertepuk tangan, sang Ibu mengecup pipi Jiyoung dengan hangat, “selamat ulang tahun.. Ibu sayang padamu.”

Jiyoung tersenyum dan menerima pelukan dari Soojung. Gadis berwajah jutek dan bertubuh kurus itu memang terlihat angkuh dan asal bicara, tapi jauh di dalam hatinya, Soojung merupakan orang terbaik yang pernah Jiyoung temui. Dari Soojunglah, nama panggilan ‘Kangji’ yang sering diucapkan Soojung dan Jongin itu berasal, dan kini ia sering dipanggil ‘Kangji’ oleh teman-teman sekolahnya.

Kemudian Jongin. Pria itu tadinya pura-pura mau memeluk Jiyoung, namun akhirnya Jongin hanya mengacak rambut Jiyoung dan tersenyum, sambil menyelamatinya. Jiyoung tidak tahu bagaimana hari-harinya di SMA tanpa Jongin yang selalu menjadi bahan amukan Soojung.

Dan Sehun. Pria kurus dan tinggi itu memang sekilas mirip Soojung. Dingin, tidak tersentuh, tapi ternyata sangat pengertian. Dan Jiyoung, hanya bisa menahan degupan jantungnya saat Sehun mengajaknya high five sembari menyelamatinya.

“Ayo ayo, semua foto dulu. Bibi ingin menyimpan foto kalian,” tahu-tahu, Nyonya Kang sudah memegang sebuah kamera polaroid yang Jiyoung ingat itu adalah miliknya, “ayo merapat, biar Bibi ambil foto kalian.”

Jiyoung segera memegang tangan Soojung dan berdiri di samping Sehun. Jongin mengambil posisi di samping Soojung dan mereka semua merapatkan diri pada masing-masing, dan tersenyum lebar ke arah kamera.

“Oke.. satu.. dua… tiga, say cheese!

Cheese!”

///

Jung Soojung. Delapan belas tahun. Gadis berambut hitam panjang dengan raut angkuh itu kerap dipanggil boss akibat sikap bossy-nya yang sudah dikenal seluruh penghuni kelasnya. Berasal dari keluarga berkecukupan. Ayahnya seorang petinggi bank swasta terkemuka di Korea, sedangkan sang Ibu menjadi ibu rumah tangga yang kerap aktif di berbagai kegiatan sosial. Kakak satu-satunya, Jung Daehyun, adalah mahasiswa tingkat akhir yang lebih sering mendekam di rumah dengan televisi daripada pergi ke tempat kuliah —tentu saja tanpa sepengetahuan orangtuanya.

Gadis bertubuh kurus itu memiliki kedua mata yang agak besar dengan tatapan yang sulit diartikan orang. Menurut Jiyoung, pertama kali ia bertemu Soojung, tatapan Soojung seperti merendahkan orang. Menurut Jongin, tatapan Soojung seperti wanita yang sedang PMS, dan menurut Sehun, tatapan Soojung seperti kucing galak. Soojung sendiri sih masa bodoh mau dikata seperti apa.

Tingkah lakunya bar bar, semaunya. Tidak berarti dia mengupil sembarangan —yucks—, tapi Soojung lebih ke semaunya sendiri. Apapun yang ia lakukan, selama tidak mengganggu orang, ia akan bertanggung jawab akan hal itu. Tidak juga tomboy, karena gadis itu tidak mengerti sepakbola, dan tidak juga feminin, karena dia benci drama-drama yang menjual air mata. Selalu tepat waktu, dan benci menunggu. Kadang omongannya tidak disaring terlebih dahulu, sehingga orang yang tidak begitu mengenalnya pasti merasa tersinggung pada awalnya.

Namun walau terlihat jutek dan angkuh, Soojung sebenarnya memiliki rasa setiakawan yang tinggi. Seterlambat apapun teman-temannya, ia akan menunggu, walau ia sangat benci menunggu dan bisa-bisa memasang wajah jutek satu hari penuh, tapi ia lebih memilih menunggu jika ia sudah memiliki janji dengan temannya. Ia memang sering mengancam akan pergi duluan kalau yang ditunggu tak kunjung datang, tapi walau harus menunggu selama dua jam, toh Soojung akan melakukannya. Dan ia tidak pandang bulu dalam memilih teman. Siapa sangka gadis sepertinya berteman baik dengan seorang gadis polos macam Kang Jiyoung?

Kang Jiyoung. Sembilan belas tahun —resmi dari sehari lalu. Rambutnya hitam lurus sebahu, dengan poni rata di dahi. Wajahnya cantik dan selalu tersenyum. Senyum itu yang pertama kali membuat Soojung memutuskan untuk duduk di samping gadis itu. Tidak pernah sakit hati dengan perkataan Soojung yang kadang terdengar sarkastik, karena ia kenal betul Soojung. Dulu, hanya tinggal berdua dengan ibunya yang merupakan seorang karyawati, sebelum sampai ibunya menikah lagi dengan pria yang sepuluh tahun lebih muda dari Sang Ibu, membuatnya menolak pada awalnya.

Sudah cantik, pintar, badannya bagus, sampai-sampai banyak lelaki yang mau mendekatinya —membuat Jongin dan Sehun ekstra protektif terhadap sahabat mereka yang satu ini, karena masalahnya Jiyoung ini terlalu polos— dan Jiyoung sendiri masih menganggap mereka semua sekedar ingin berteman dengannya. Toh hatinya sendiri sudah tertambat pada satu sosok pria, walau ia masih tidak mau mengakui perasaan itu.

Selain itu, Jiyoung juga yang paling sensitif di antara mereka. Pada awal-awal kedekatan mereka semua, Soojung tidak sengaja berkata ‘bodoh’ pada Jiyoung dan Jiyoung langsung ngambek bicara pada Soojung. Setelah dijelaskan oleh Jongin dan Sehun, ditambah Soojung yang minta maaf secara langusng, ia tahu kalau Soojung tidak bermaksud begitu. Cepat menangis juga keahlian Jiyoung. Pernah suatu kali di bioskop, mereka menonton film, dan Jiyoung menangis. Dia satu-satunya orang yang menangis di bioskop, padahal adegannya tidak sedih, hanya adegan anak kecil diculik oleh sekelompok penjahat. Dan saat itu, Jongin, Sehun, dan Soojung langsung sibuk menghentikan tangisan Jiyoung. Pertama kali dipanggil Kangji oleh Soojung —karena ada yang namanya Nam Jiyoung di sekolah mereka— dan diikuti oleh Jongin, dan teman sekelas mereka, juga beberapa teman sekolah. Hanya saja Sehun lebih senang memanggilnya dengan nama Jiyoung, dan Jiyoung senang akan hal itu.

Kim Jongin. Sembilan belas tahun. Badannya benar-benar sudah terbentuk akibat bermain basket. Kulitnya kecokelatan terbakar matahari, dan rambutnya hitam pendek acak-acakkan dan selalu disisir sekenanya dengan jari. Terlihat seperti anak bengal, terutama karena ia perokok aktif, dan sering membolos. Masuk geng motor SMA sejak kelas satu, dan ia sumber sakit kepala bagi seluruh guru SMA Hanrim karena selalu ada Jongin di balik peristiwa tawuran sekolahnya dengan SMA lain —tentu saja bersama geng motornya itu.

Selalu buruk di pelajaran eksak, ia buruk di pelajaran bahasa. Namun diam-diam, ia menyukai menari. Ia senang menari di kamarnya, dengan latar lagu Michael Jackson atau lagu jazz instrumental. Ia menyembunyikan fakta itu dari teman-temannya karena ia takut disebut banci. Hanya Soojung yang tahu, karena saat itu Soojung tidak sengaja melihat Jongin di ruang seni saat ia baru selesai rapat klub jurnalistik.

Dibalik sikap bengalnya, ia anak mami sejati. Walau ia hanya tinggal dengan kakaknya, Kim Taemin, dan kedua orangtuanya tinggal di belahan dunia lain, ia selalu menelepon ibunya setiap minggu pagi. Setiap menonton film mengenai pengorbanan Ibu, air mata yang keluar dari mata Jongin tidak kalah banyak dari yang dikeluarkan Jiyoung. Tidak pernah ambil hati dengan sikap kasar Soojung, walau selalu menyuruh Soojung untuk menjadi perempuan sejati.

Oh Sehun. Delapan belas tahun. Macam anak teladan di serial televisi. Bertubuh kurus, dengan wajah yang sering dibilang cool oleh gadis-gadis di sekolah —sok cool, kalau kata Soojung— dan rambut cokelat yang selalu disisir rapi. Ia dan Soojung sering diejek sebagai ‘si kembar bertubuh tulang’ oleh Jongin karena keduanya memang kurus dan tinggi. Ayah dan Ibunya merupakan pegawai pemerintahan yang selalu memberikan perhatiannya pada Sehun, dan kakak perempuannya, Seeun.

Wakil ketua organisasi siswa di sekolah, anak teladan yang disukai guru-guru, karena selain berwajah tampan, juga sopan pada seluruh warga sekolah. Bahkan guru-guru selalu memasang wajah khawatir setiap melihat Sehun bergaul dengan Jongin. Pernah mencoba merokok, namun akhirnya malah batuk-batuk dan ditertawai habis-habisan oleh Jongin dan Soojung. Membolos hanya sekali seumur hidup, yaitu saat kejutan ulangtahun Soojung.

Ia tidak tahu kenapa ia bisa membiarkan anak bandel macam Jongin duduk di sebelahnya, yang kadang membuatnya terpaksa mencium aroma rokok yang menguar dari tubuh teman sebangkunya itu. Ia juga tidak tahu kenapa ia bisa begitu saja dekat dan bersahabat dengan gadis angkuh macam Soojung dan gadis cengeng macam Jiyoung. Ia seringkali berpikir bahwa ia-lah satu-satunya yang normal di antara mereka berempat. Dan tentu saja, ia selalu menjadi tempat Jongin meminta pertolongan di setiap Jongin terkena masalah. Bagaimanapun, image anak baik-baiknya selalu meluluhkan hati para guru.

Mereka berempat pertama bertemu di kelas satu, saat masa orientasi. Soojung memutuskan untuk duduk dengan Jiyoung yang tersenyum ramah padanya, dan Jongin memutuskan untuk duduk di sebelah Sehun mengingat hanya ada satu kursi kosong karena ia telat datang.

Yang memersatukan mereka pertama kali adalah tugas kelompok Sejarah. Mereka meliput Istana Gyeongbuk dan akhirnya mereka memutuskan untuk berkelompok lagi di tugas kelompok berikutnya. Dan berikutnya, dan berikutnya. Sehingga mereka terbiasa bersama, dan lama kelamaan dekat sekali.

Bahkan, tanpa perlu banyak bercerita, hanya dengan keberadaan satu sama lain: Soojung yang sering sibuk baca majalah sendiri, Jiyoung yang sibuk mengotak-atik soal matematika, Jongin yang sibuk main nintendo, dan Sehun yang sibuk menulis agenda rapat, itu sudah lebih dari cukup.

/// to be continued ///

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s