The Same Moon

The Same Moon

Casts: Aron Kwak (NU’EST), Kwon Mina (AOA) || Rate: PG-15 || Genre: AU, Romance, Fluff || Length: Oneshot || Disclaimer: Owned by me.

;

Angin bertiup tidak begitu kencang, menembus helaian rambut hitam milik Kwon Mina yang panjang terurai. Kedua mata bulatnya mengerjap beberapa kali, namun posisinya masih sama sedari satu jam lalu. Ia berdiri di bukit kecil di salah satu sisi pantai Busan. Matanya menatap jauh ke arah pantai yang tenang, kemudian ia mengeluarkan suara.

 

“Kapan kau pergi?”

 

Kwak Aron yang mendengar pertanyaan yang dilontarkan gadis di sebelahnya, langsung menoleh. Kedua manik matanya mengamati surai hitam milik Mina, dan kedua manik mata milik gadis yang sudah sembilan belas tahun menjadi tetangganya itu.

 

“Besok. Pagi.”

 

Mina menganggukkan kepalanya mengerti. Gadis yang biasanya bercicit bak burung pipit itu kini terlihat lebih pendiam, lebih tepatnya sejak pesta kelulusan tadi pagi. Senyum cerianya saat mengetahui ia telah lulus SMA, memudar saat Aron memberitahukannya sesuatu hal yang begitu mendadak.

 

“Aku berangkat ke Adelaide besok pagi.”

 

Ya. Adelaide.

 

Bukan Seoul, bukan Gwangju, bukan Daegu, bukan Incheon, bukan Pulau Jeju, yang masih bisa ditempuh dengan transportasi darat dengan waktu singkat. Adelaide. Australia. Negara lain. Benua lain.

 

Mina bahkan tidak bisa menyunggingkan senyumnya lagi saat Lee Taemin, cowok paling tampan satu sekolah yang selalu dikaguminya sejak kelas satu membubuhkan tanda tangan di seragamnya. Ia juga tersenyum seadanya saat Lee Chanhee memaksa ia berfoto berdua saja dengan Aron seusai ritual coret-coret seragam.

 

Senyumnya membeku.

 

Ini terlalu mendadak. Aron tidak pernah bercerita bahwa ia mendaftar ke Adelaide, sedangkan Mina sendiri berkoar-koar dengan pendaftarannya ke Universitas Nasional Kyungpook di Daegu. Setiap ditanya, Aron hanya menjawab ‘aku masih memikirkannya’, dan tahu-tahu lelaki itu mengatakan bahwa ia akan berangkat ke Adelaide besok.

 

“Kau harus ingat semua pesanku,” Mina menyunggingkan senyum tipis. Gadis bertubuh mungil itu berusaha menahan buliran air mata yang sudah siap meluncur dari pelupuk matanya, “jangan terbiasa menunda makan. Maagmu akut, kau tahu.”

 

“Aku tahu,” jawab Aron. Ia memang tidak pernah berbicara panjang lebar. Kalau diibaratkan, ia adalah malam, dan Mina adalah siang. Mina bersinar cerah seperti matahari. Bibirnya tak henti berbicara atau menggelakkan tawa.

 

Mereka saling melengkapi, dan entah sejak detik kapan, di mana ada Mina, di sanalah ada Aron. Di mana Mina tengah kesulitan, maka ada Aron yang membantunya. Di mana Aron tengah marah pada dunia, maka ada Mina yang berada di sampingnya.

 

Aron bahkan lupa sejak kapan ia bergantung pada gadis mungil itu.

 

“Aron,” panggil Mina lagi, dengan suara yang sengau, “kau berjanji akan mengirim surat untukku, kan?”

 

Aron mengangguk, dengan senyum tpis yang selalu hanya ia perlihatkan untuk Mina ketika ia menghibur gadis itu, “ya. Tentu.”

 

“Awas kalau kau lupa,” Mina menyunggingkan senyum yang sama, dan ia segera menutupi sisi wajahnya dengan rambut panjangnya, tidak ingin Aron melihat bulir air mata yang tak lagi mampu tersimpan di pelupuk matanya.

 

Namun Aron sudah melihatnya dan ia tidak bisa berbuat apapun.

 

Keputusan Ayah dan Ibunya sudah bulat, dan ia harus melanjutkan kuliahnya di benua kangguru itu.

 

“Hei,” Mina lantas menoleh lagi ke arah Aron, dengan mata yang lebih sedikit berbinar, “lihat!” Mina menunjuk ke arah langit biru kelabu, pertanda sore sebentar lagi akan tegantikan dengan kegelapan sang malam, “bulannya sudah terlihat.”

 

Aron mengikuti arahan Mina, mendapati bulan sudah menyapa mereka pukul enam sore ini. Menemani beberapa pelayan yang bergegas untuk berlayar mencari penghidupan.

 

“Aron,” panggil Mina lagi. Gadis bermata bulat itu menatap lelaki yang tidak tahu sejak kapan sudah menjadi tempat bergantungnya, “apakah bulan yang aku lihat di sini dan yang kau lihat di Adelaide itu sama?”

 

“Ya, tentu,” Aron mengangguk. Jika ini adalah hari biasa di mana mereka bersenda gurau, maka Aron sudah menguliahi Mina degan ajaran bahwa hanya ada satu bulan di sekitar bumi, dan tidak peduli di manapun letak mereka, bulan yang mereka lihat adalah sama.

 

Namun kali ini Aron hanya menjawab singkat. Ia tak perlu merusak momentum terakhirnya bersama Mina dengan penjelasan ilmiah.

 

“Baguslah,” Mina tersenyum, mengalihkan pandangannya kembali ke arah langit, berpura-pura tidak tahu kalau Aron masih menatapnya, “dengan melihat bulan yang sama, jarak kita tidak sejauh yang kubayangkan.”

 

Aron masih menatap Mina dari samping, “hei, Mina.”

 

“Ya?” Baru saja Mina hendak menoleh, tahu-tahu Aron sudah memegang kedua pipi tembamnya, membuat pipi gadis itu secara spontan berubah warna menjadi kemerahan.

 

“Karena kita menatap bulan yang sama, kau harus paham bahwa jarak yang terbentang di antara kita tidak sejauh yang kau pikirkan.”

 

Kedua manik mata milik Aron menatap lurus ke dua manik mata milik Mina, membuat gadis itu hanya bisa mengerjapkan kedua matanya lugu, ditambah ia menahan rasa geli pada perutnya akibat sentuhan Aron. Demi Tuhan, sejak kapan Aron berefek begini dahsyat pada syaraf sensorinya?

 

“Maka dari itu,” Aron mengelus kedua pipi Mina, membuat Mina bisa merasakan kupu-kupu berterbangan tak beraturan di dalam perutnya, “kau harus menungguku sampai aku selesai dengan sarjanaku, oke?”

 

Belum sempat Mina membalas permintaan Aron, ia merasakan semakin banyak kupu-kupu yang berinvasi di dalam perutnya, ditambah ia merasakan mual di dalam lambungnya, dan hembusan angin sore yang meremangkan bulu kuduknya….

 

Saat Aron mendaratkan ciuman hangat di atas sepasang bibir merah mudanya.

; the end ;

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s