[ Jimin x Neulmi ] How I Met Your Father

How I Met Your Father

Casts: Park Jimin (BTS), Han Neulmi (OC) (plus Kim Seolhyun (AOA) and Lee Yooyoung (Hello Venus) || Rate: PG-17 || Genre: AU, Romance, Fluff || Length: Oneshot || Disclaimer: Owned by me. Jimin includes too.

tumblr_naz1jjBkEr1sv6cljo1_500

;

Univeristas Nasional Kyungpook, Daegu ; April 2018

“Malu, Seolhyun-ah.”

Kim Seolhyun memutar kedua bola matanya dengan gemas sembari meneguk kaleng sodanya yang sudah seperempatnya kosong, “kamu sama dia udah kenal dua tahun. Dua tahun! Apa bedanya kalau ketemu hari ini? Mumpung dia lagi ke Daegu!”

“Dua tahun lewat dunia maya,” Han Neulmi merapatkan kesepuluh jemarinya, dan menautkan mereka dengan erat, “kalau misalnya dia ilfeel ngeliat aku? Kalau misalnya aku terlalu jelek buat dia? Gimana?”

Lee Yooyoung yang baru bergabung dengan mereka usai berbicara dengan dosennya, lantas duduk di samping Neulmi, “si cowok dunia maya itu beneran mau ketemu kamu di sini?”

Seolhyun mengangguk antusias, sedangkan Neulmi terlihat depresi sembari memegang telepon genggamnya erat-erat. Kali ini Yooyoung tampaknya mengambil sisi di pihak Seolhyun, “kamu nyaman sama dia. Dia jelas banget nyaman sama kamu. Kamu juga butuh move on dari si Jaebum. Terus masalahnya apa, coba? Try once, Neulmi.”

Neulmi menarik nafas panjang, “waktu SMP aku pernah pengalaman kayak gini, and it turns really really bad, for God’s sake.

That was middle school era, Gosh!” Seolhyun mulai terlihat agak emosi. Kalau berbicara dengan seorang Han Neulmi mengenai self confidence, memang butuh tenaga ekstra. Teman kuliahnya ini memang tidak memiliki stok self confidence yang tinggi, dan acapkali membuat Seolhyun dan Yooyoung habis akal, “kamu sekarang seorang Han Neulmi yang gelarnya ada dua, pintar, cantik, dan astaga, aku bahkan nggak tahu kenapa kamu masih seminder dulu semasa semester satu.”

Yooyoung mengangguk-anggukkan kepalanya tanda ia setuju, “kamu dan Jaebum juga berhasil karena saling meet up! Coba kalo enggak? Gelarmu nambah satu lagi! Bachelor of Single!

Yang diledek hanya bisa diam. Matanya menerawang ke sebuah chat pada kakao talknya.

Jimin   : Kamu wisuda di Kyungpook kan besok? Sepupuku juga. Kalo aku ke Daegu, would you meet me there?

 

“Neulmi-ya,” tegur Yooyoung, “jangan sampai kami harus membajak telepon genggammu untuk mengatakan iya pada Jimin.”

;

Dan di sinilah ia, di hall terbesar milik Universitas Nasional Kyungpook, Daegu, dengan pakaian khusus mahasiswa yang baru lulus, menggenggam telepon genggamnya erat. Kedua orangtuanya sedang berbincang dengan kedua orangtua Jin Hyewon, salah satu teman kuliahnya yang ayahnya merupakan teman ayahnya juga. Dan Ia, sudah meminta izin untuk bertemu seseorang siang ini.

Bukan Jaebum, Ibu. Demi Tuhan, kami sudah putus,” berkali-kali Neulmi mengatakan hal itu pada ibunya.

Karena memang bukan Jaebum.

Tapi..

Jimin   : Sepupuku di barisan fakultas pertanian. Kamu di mana? Aku mau ke depan hall. Meet me there?

Neulmi : Aku tepat di depan hall. Sendirian. You gotta find me.

Mati. Ia mati. Ia melirik Seolhyun dan Yooyoung yang pura-pura sibuk berbicara dengan teman kuliah mereka, padahal Neulmi tahu, dua pasang mata temannya itu tengah mengawasinya.

Jimin   : Kamu pake baju apa?

Neulmi : Baju khas orang lulus kuliah..?

Jimin   : Aku tahu -_- any spesific details?

Neulmi : Rambutku cokelat gelap sebahu, aku pakai wedges cokelat, dan tanganku sibuk memegang iPhone putih.

Jimin   : Got you.

 

Refleks, Neulmi menoleh-nolehkan kepalanya ke kanan ke kiri dengan wajah gelisah. Sial, ia bahkan bisa merasakan eyelinernya mulai luntur, dan lipcreamnya! Ya ampun, apa masih terulas dengan baik di atas bibirnya? Bedaknya! Dahinya berkeringat hebat ini —shit shit shit— Neulmi tidak bisa kalem.

iPhone Neulmi bergetar kecil. Pesan kakao talk dari Seolhyun.

Seolhyun         : Calm down, girl. Chill

Neulmi             : Chill chill kepalamu!

Neulmi baru saja hendak menoleh ke arah Seolhyun, saat ia merasakan seseorang tengah mengawasinya, dan berdiri di belakangnya. Tidak begitu dekat, namun Neulmi bisa merasakan sosok itu.

Instingnya kuat, dan selalu tepat.

Dan ia, belum siap untuk memutar tubuhnya.

Jimin   : Turn around, Neulmi.

Perlahan, sembari mengulum bibir bagian bawahnya, Neulmi memutar tubuhnya.

Dan ia menemukan pandangannya bertabrakan dengan seorang pria bermanik mata sipit dengan surai hitam acak-acakkan dengan poni menutupi dahinya.

“Hai,” lelaki itu mengangkat sudut bibirnya, “Han Neulmi. I finally meet you.”

;

Berkemeja lengan panjang warna biru berpadu dengan celana formal berwarna hitam. Park Jimin, namanya. Kedua manik matanya sipit, dengan pupil berwarna hitam yang sayu, namun entah mengapa, memikat bagi Neulmi. Hidungnya tidak terlalu mancung, sepasang bibirnya cukup tebal, dan badannya tidak terlalu tinggi.

Oke, tidak tinggi malah.

Tapi otot bisepnya jelas tercetak di bagian lengan kemejanya, dan Neulmi sangat tahu itu karena seorang Jimin yang ia kenal di kakao talk memang sering pergi ke tempat fitness untuk membentuk tubuhnya.

Awkward. Itu yang mengelilingi Neulmi dan Jimin saat keduanya memutuskan untuk meneduhkan diri di bawah rindang pohon, memanfaatkan waktu yang sempit demi bertukar sapaan.

Sudah dua tahun ia mengenal Jimin dari dunia maya yang abstrak, baru kali ini ia bertemu dengannya langsung. Live. Bahkan sebelumnya mereka tidak pernah bertatap muka lewat webcam dan segala macemnya.

Teleponpun, tidak. Pure texting.

“Bagaimana grademu? Bagus?” tanya Jimin, membuat Neulmi menganggukkan kepalanya.

“Ya, lumayan,” jawab Neulmi, “maaf waktu kamu wisuda kemarin aku nggak bisa datang.”

“Kamu kan di Jerman,” Jimin tersenyum, “jadi, sekarang sudah resmi jadi akuntan, nih? Mau balik ke Seoul?”

Neulmi mengangguk, “iya.. pasti balik ke Seoul lah. Mau cari kerja juga…,” Neulmi lalu bertanya lagi, “kamu sendiri gimana di kantor yang baru? Betah?”

“Betah-betahin deh,” Jimin terkekeh pelan, “capek juga pindah-pindah. Nanti kamu sekali nemu tempat kerja, betah-betah ya.”

Neulmi mengangguk, dan ia bisa merasakan Jimin menatapnya, namun ia tidak sanggup menatap balik lelaki itu.

You’re cute as I imagine.”

Neulmi menoleh, dan ia mendapati Jimin tersenyum padanya hangat. Sehangat musim semi.

;

“Jadi jadi jadiiii?”

Setelah wisuda usai, sebelum Neulmi diseret pulang ke Seoul oleh kedua orangtua dan kedua adiknya yang berbondong-bondong menghadiri wisuda kakaknya itu, Seolhyun dan Yooyoung memberondongi kakao talknya dengan perintah untuk menghadap mereka di dorm Seolhyun. Jadilah sekarang, ia kabur dari keluarganya demi melapor pada Seolhyun dan Yooyoung.

“Jadi.. jadi apa?” tanya Neulmi, pura-pura bego, membuat Yooyoung menggoyangkan bahunya dengan ganas.

“YA JADI GIMANA GITU LOH SAMA JIMIN? ABIS KETEMUAN MALAH KABUR BUKANNYA LANGSUNG LAPOR SAMA KITA,” teriak Seolhyun, dengan raut sewot yang membuat Neulmi cekikikan.

Chill, girls,” Neulmi mengeluarkan iPhonenya dan mulai membuka aplikasi kakao talk, mencari pesan dari Jimin, “jadi.. sehabis ketemu, papaku menelepon. Jimin juga nggak enak kabur lama dari paman dan sepupunya.. so we say goodbye.”

Aaaaand?” tanya Yooyoung, tidak sabaran.

“Baca aja sendiri,” Neulmi menyodorkan telepon genggamnya pada Yooyoung, dan Seolhyun langsung meringsek maju, ingin ikut membaca pembicaraan antara Neulmi dan Jimin.

Jimin   : Thanks ya

Neulmi : Thanks for…?

Jimin   : Meeting me. It was a nice short meeting. Kamu lucu.

Neulmi : Thanks hehe

Jimin   : So.. menurut kamu aku gimana?

Neulmi : Not as handsome as INFINITE’s L, tho

Jimin   : -_- you’re not as hot as SNSD’s Jessica, too.

Jimin   : But you are cuter

“Cheesy banget sih,” komentar Yooyoung, lalu melanjutkan kegiatan baca membacanya.

Neulmi : Makasih lagi

Jimin   : Sampai di Seoul kapan?

Neulmi : Hm, besok sore kayaknya

Jimin   : Mind to meet me again in Seoul? Ada kafe baru deket kantorku, how about some coffee?

 

Rasanya Seolhyun dan Yooyoung tidak perlu tahu lagi kelanjutan pesan itu. Mereka kemudian mengembalikan iPhonenya pada Neulmi dan kemudian berteriak heboh.

“SUMPAH YA NANTI KALAU KAMU JADI SAMA JIMIN, TRAKTIR KAMI DI SEOUL!!!!”

;

Neulmi menggerakkan ibu jarinya di atas layar, membaca pesan-pesan dari Jimin sambil senyam-senyum sendiri selama perjalanan dari Daegu ke Seoul.

Jimin   : Yep, aku mau ngajakin kamu jalan terus di Seoul

Neulmi : Roger that, Captain

Jimin   : Aku ada toko buku yang cozy banget

Neulmi : and a café, please?

Jimin   : Oke, abis kafe, kita ngedate di bioskop. Fix

Ngedate.

Neulmi tersenyum simpul sembari mengetikkan balasan untuk Jimin.

Neulmi : Ayo. Nonton film horror. Deal?

Jiimin  : Kamu nggak bakal berani

Neulmi : Sok tau deh kamu T_T

Jimin   : Emang tau. I know you so well, Miss Han

Neulmi : Baru juga ketemu sekali :p

Jimin   : and I fall for you after all

 

Neulmi menyengir pelan dan menenggelamkan kepalanya pada bantal yang dibawanya dari Daegu.

Park Jimin ini.. benar-benar sesuatu.

; the end ;

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s