Rewind [Prolog]

Rewind

Jung Soojung | Kim Jongin | Kang Jiyoung | Oh Sehun

Karena semua orang sudah bilang, kalau tidak ada pertemanan terdiri dari lawan jenis yang sejatinya tidak memiliki perasaan lebih.

///

Prolog

Seorang wanita muda duduk di depan laptopnya yang menyala. Sederet kata —hanya satu paragraf permulaan berbentuk prolog— berbaris apik tertampil di permukaan layar empat belas incinya. Kacamata minus dengan bingkai hitam sudah sedikit merosot dari hidung mancungnya. Dahinya yang cukup lebar mengerut, sedemikian rupanya dengan sepasang bibir merah mudanya.

Stuck.

Ia mengalami masa-masa yang sangat dibenci oleh seluruh penulis di muka bumi ini:

Writers Block.

Ia mengetuk-ngetukkan jarinya dengan gemas di atas meja, sementara kini ia menggigit bibir bagian bawahnya. Pikirannya berdenyut-denyut, berusaha menggali dan menarik paksa ide yang harus ia tuang dalam bentuk kata malam ini.

Lagu-lagu jadul milik Westlife bahkan sudah beratus kali menggema di apartemen mungilnya. Hanya saja ia masih belum bisa menyelesaikan kerjaannya, sedangkan tenggat waktu sudah memburunya.

Ia benci mengalami hal ini. Di mana ia memiliki ide fantastis pada awalnya, dan ia terantuk dengan blockade pikirannya sendiri. Mungkin, fiksi yang kali ini ia ketik tidak begitu cocok dengannya. Seorang penulis seperti dirinya, biasa berkutat dengan fiksi mengenai kehidupan orang-orang dewasa, dengan sejelimet persoalan di dalamnya, dan tahu-tahu penerbitan tempat ia mengabdi menyuruhnya untuk membuat fiksi dengan genre remaja. Memberi udara segar pada karya sastra penerbitan mereka, begitu kata atasannya.

Dan ia, yang sudah sepuluh tahun lalu meninggalkan masa remajanya, harus terpacu untuk menulis ulang mengenai dunia yang abstrak dan berwarna-warni itu.

Pikirannya terhenti di karakter fiksional bernama Kim Hyerin. Prolog yang ia rangkai belum ada apa-apanya dan tahu-tahu ia stuck. What’s on earth? Dirinya jarang sekali mengalami ini. Ya, beri saja tepuk tangan yang meriah pada Song Qian, atasannya yang menetapkan genre tersebut. Membuat susah orang lain saja.

Dunia remaja.. spotlight selalu diberikan pada masa-masa SMA, bukan? Wanita itu masih mengetuk-ngetukkan jarinya dengan gemas. Penghangat ruangan di musim dingin masih menyala, dengan secangkir latte hangat yang sudah mulai mendingin akibat tak terjamah sama sekali.

Seorang gadis kutu buku yang menyukai pangeran berkharisma di sekolahnya lalu mereka bertabrakan di lorong, berkenalan, berciuman di bawah hujan, dan menjalin hubungan penuh kasmaran? Basi. Kalau ia menyerahkan naskah itu pada atasannya —the highness Amber Liu— bisa langsung dilempar ke tempat sampah dengan sukses.

iPhone putihnya bergetar di samping lampu meja. Layarnya menyala, menampilkan sebuah notif menandakan ada pesan singkat masuk. Wanita itu meraih teleponnya dan membuka pesan tersebut.

Dari: Amber

Bagaimana? Sudah menyelesaikan draft novel barumu?

Ia menggertakkan giginya kesal.

Belum. Stuck. Have no idea at all.

Pesan balasan langsung masuk sekejap saja usai ia mengirimkan pesan tad.

Memangnya kau tidak punya kenangan apapun semasa SMA? Menyedihkan sekali.

Ia memutar kedua bola matanya.

Thanks. I take it as a compliment, by the way.

Ia memutuskan untuk mematikan iPhone-nya untuk sementara dan kembali fokus kepada layar laptop dan papan ketik yang sudah menunggu untuk disentuh. Apa? Apa yang harus ia ketik? Kalau ia tidak menghasilkan barang draft sedikitpun sesuai tenggat waktu, lalu tidak berhasil menyelesaikan proyek novel ini, bisa-bisa ia tidak makan seminggu. Uang royalti karya terdahulunya sudah tinggal satu persepuluhnya saja.

Wanita itu kemudian melirik iPhone-nya yang dengan sukses hanya menampilkan warna hitam di layarnya. Tak bergeming sama sekali. Pesan masuk yang dikirim Amber beberapa saat lalu mengusik pikirannya.

Memangnya kau tidak punya kenangan apapun semasa SMA? Menyedihkan sekali.

Ia menelan ludah. Bohong, jika ia tidak punya. Nyaris semua orang memiliki kenangan tersendiri mengenai masa sekolah mereka, dan begitupun dengan dirinya. Semua orang memiliki kenangan, baik menyenangkan, menyakitkan, datar, ataupun sangat berwarna. Dan ia tidak bisa mengategorikan kenangan masa sekolahnya dulu.

Ia tidak menampik kalau kenangan masa sekolahnya sangat menyenangkan, dan ia tidak pula menampik kalau kenangan masa sekolahnya menyiratkan kegetiran yang membekas di benaknya. Jelas, tanpa sedikitpun keburaman.

Kenangan masa sekolahnya berujung manis, hanya saja tidak semanis yang ia harapkan.

Dalam sepersekian menit, ditambah renungan dan segala macamnya, ia segera menggerakkan kursor, memblock seluruh paragraf yang sudah ia rangkai, dan menekan tombol backspace tanpa menyesal sedikitpun.

Wanita itu menegakkan sandaran kursi birunya, dan ia bersiap untuk mengetik kisah baru.

Kisah yang kembali direwind layaknya sebuah film berjalan di dalam pikiran, dan imajinya.

///

yep, another story which just popped out in my mind. Mind my unfinished stories juseyo /grins/

5 thoughts on “Rewind [Prolog]

  1. wah, itu soojung kan? atau jiyoung? #soktau. pasti kisah nya tentang mereka berempat #soktaulagi wkwk. ditunggu chapter 1nya, semoga ga kena wroter’s block!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s