The Red Shoes

The Red Shoes

Kim Myungsoo, and Han Neulmi.

Aku, dirimu, dan sepasang sepatu merah.

Not in a correlation with IU’s new song: The Red Shoes. Just using the title. Plot is purely mine. So is Myungsoo.

© – Nisaiueo / 2013

///

Dari sudut pandangku, Kim Myungsoo

Saat itu, aku tengah menikmati tahun terakhirku di sekolah menengah atas. Aku, bersama teman-temanku, Kim Sunggyu, Jang Dongwoo, Nam Woohyun, Lee Seongyeol, Lee Howon, dan Lee Sungjong, sedang duduk di atas bench di bawah pohon rindang di belakang sekolah, menikmati waktu istirahat siang.

“Mungkin milik Kim seonsaengnim.” Komentar sepele itu keluar dari bibir Woohyun, yang langsung ditandas oleh Sunggyu.

“Mana mungkin! Kau tahu kaki Kim seonsaengnim sebesar apa. Ini sih ukurannya kecil begini!”

Sepasang sepatu merah tergeletak di tengah-tengah kami. Sepatu dengan hak datar, tanpa merek, bahkan tanpa nomor ukuran. Bermodel vintage seperti oxford shoes, dengan tali berbentuk pita di bagian depan, dan berbahan suede.

“Di mana kau menemukannya?” tanya Seongyeol mengarah padaku.

“Di langit-langit studio musik,” jawabku.

Memang. Aku menemukannya tadi pagi saat istirahat jam pertama, saat aku hendak mengambil gitar akustik yang kutinggal di studio usai latihan band kemarin. Tepat saat itu, tentu saja aku kaget bukan kepalang, melihat sesuatu tergantung tepat di depan mata.

Setelah aku sadar itu hanya sepasang sepatu, aku malu bukan main. Untung saja tidak ada orang di sana.

“Coba taruh saja di kantor petugas kebersihan,” usul Howon, “mungkin nanti yang punya akan mencari ke sana.”

Aku hanya menganggukkan kepalaku walau aku enggan mengikuti saran Howon.

///

Rintik hujan semakin deras turun dari langit, tidak memberiku kesempatan sama sekali untuk pulang. Aku melirik jam tanganku, ini sudah pukul lima sore dan sekolah sudah benar-benar sepi. Semua temanku sudah pulang lebih dulu, sedangkan aku tadi memutuskan untuk di studio musik sebentar, menyelesaikan tugas mata pelajaran kesenian —satu-satunya mata pelajaran yang kusuka— lalu hendak menuju ruang petugas kebersihan, menyerahkan sepasang sepatu merah yang kutemukan tadi pagi. Tapi sialnya, semua petugas kebersihan tampaknya sudah pulang dan ruangannya terkunci.

Dan saat aku hendak pulang, tahu-tahu hujan turun dengan deras.

Ya, bagus sekali. Terjebak di sekolah. Sore hari. Dengan sepasang sepatu merah di dalam tasku yang sudah berhasil mengotori beberapa buku karena debu yang menempeli pelapis suede-nya.

Aku berdecak kesal dan memutuskan untuk kembali ke studio musik. Mungkin bermain gitar sebentar menunggu hujannya mereda. Aku kemudian berjalan menuju studio musik di sudut koridor sebelah kanan sekolah. Sambil mengedarkan pandangan ke koridor kiri, aku menemukan seorang gadis berseragam  tengah berlutut di balik pot tanaman. Tampak mencari sesuatu.

Siapa gadis itu? Ini sudah lewat jam pulang, dan kenapa ia masih ada di sini?

Aku menengok ke sekitar. Berusaha mencari siapapun yang lewat —entah petugas kebersihan atau staf tata usaha. Seketika angin dingin meniup tengkukku.

Jangan-jangan dia bukan…

Gadis itu kemudian berdiri dan berbalik. Menemukanku. Menemukan pandanganku.

Strike one, Kim Myungsoo. Dia secara langsung menatapmu.

Kedua mata berpupil hitamnya menatapku langsung dari kejauhan. Seakan menarikku untuk terus balik menatapnya, tanpa sadar bahwa tadi aku bahkan mencurigainya sebagai hantu. Ada sebuah binar dari matanya yang gelap.

Tergerak, tubuhku menyeberangi lapangan yang biasa kami pakai untuk upacara, menuju ke koridor kiri, dan tahu-tahu aku mendapati diriku berdiri di depannya. Gadis berambut cokelat lurus sebahu dengan kulit putih pucat.

Kami hanya diam.

Oke, dia ini manusia atau hantu?

Aku melihat ke bawah, sekedar untuk memastikan apakah kakinya menginjak tanah atau tidak. Dan yang kudapati adalah, kakinya berbalut kaos kaki putih yang mulai kotor, dan menginjak tanah.

Baguslah, dia bukan hantu.

“Err.. apa yang kau lakukan? Ini sudah sore.” Bodoh. Aku terdengar seperti orang yang serba ingin tahu. Seperti Woohyun saja.

“Aku mencari sepatuku.”

“Sepatu?”

Ia mengangguk.

“Sepatu seperti apa?” tanyaku padanya.

Ia kemudian menyelipkan helaian rambutnya ke belakang daun telinga seraya kembali berlutut di depan pot lain, menjawab pertanyaanku tanpa melihat ke arahku, “warnanya merah. Suede, dan ada tali berbentuk pita di depannya.”

Aku mengernyitkan dahiku, dan kemudian teringat akan sepatu yang kutemukan pagi tadi. Aku melepas ransel dari bahuku, membukanya dan menemukan sepasang sepatu merah itu masih bersemayam di dalamnya.

Aku mengeluarkannya dan berjalan menghadapnya, menyodorkan sepasang sepatu itu.

“Ini?”

Ia mendongak. Perlahan kedua matanya terlihat biasa saja, namun perlahan membulat dan aku bersumpah aku melihat binar-binar bahagia di dalam matanya.

“Kau temukan di mana?!” pekiknya, sepertinya ia senang bukan main, dan langsung menyambar sepatu merah itu. Tanpa menunggu lagi, ia segera meletakkan sepasang sepatu itu dengan hati-hati dan memakainya.

Klop! Seperti magnet, begitu kedua kakinya masuk ke dalam sepatu itu, terlihat pas di mataku.

“Oh.. aku menemukannya di studio musik tadi saat istirahat. Err.. aku berniat menyerahkannya ke petugas kebersihan sore ini, tapi..”

“Ah terima kasih!” pekiknya senang, “mungkin Jinyoung atau Jaebum yang menyembunyikannya di sana. Ah, aku sangat berterima kasih!”

Aku hanya mengangguk grogi, menggaruk tengkuk belakangku yang tidak gatal, sementara ia mengetuk-ngetukkan kedua kakinya ke lantai koridor, dengan senyum yang terus berkembang, dan aku berani bersumpah, senyumnya manis sekali.

“Kalau begitu, aku pulang dulu,” ia mengambil ransel bergambar bunga-bunga yang ia letakkan di pot pertama di mana ia mencari sepatunya, lalu membungkuk, “aku benar-benar mengucapkan terima kasih.”

“Oh, ya, sama-sama,” jawabku makin grogi.

Ia lalu berjalan memunggungiku dengan langkah yang lebar dengan masih mengetuk-ngetukkan kakinya ke lantai koridor. Aku hanya bisa menatap punggungnya, rambut cokelatnya, dan ranselnya, sampai ia kemudian berhenti tiba-tiba, langsung menatapku, dan aku seperti lupa cara bernafas.

“Kau tidak pulang?”

Aku lagi-lagi menggaruk tengkukku sembari menyengir gugup, “ya, sebentar lagi.”

Ia mengangguk dan kemudian melambai,  “baiklah. Sampai jumpa,” lalu kembali berjalan dengan langkah riang sampai kemudian terhenti saat aku berteriak.

“Hei, Nona! Tunggu!”

Ia berbalik lagi. Kedua matanya menatapku, “ya?”

Tanpa meminta izin, aku berlari kecil ke arahnya dan mengulurkan tanganku, “aku Kim Myungsoo. Kelas 3-2. Kau?”

Ia melihat uluran tanganku, lalu mendongak dan menatap mataku. Yah, sial.. kalau begini aku makin grogi.

Gadis itu tersenyum dan menjabat uluran tanganku, “aku Han Neulmi. Kelas 1-1. Senang berkenalan denganmu, Sunbae.

///

Saat kau telah menemukan seseorang yang kau tahu akan berperan penting dalam setiap detik hidupmu, kesunyian bukanlah lagi hal yang membuat canggung suasana atau membingungkan.

Karena cukup dengan adanya ia, di sampingmu, semua sudah terasa lengkap.

Bahkan tanpa perlu saling berucap kata.

Aku, dengan gitar akustik hitamku.

Dan dia, dengan novel fiksinya.

Di bawah naungan langit biru dan pohon rindang di taman kota, beralas tikar berwarna merah muda dengan keranjang piknik di sampingnya.

Hanya ada aku, dia, dan sepasang sepatu merahnya.

///

One thought on “The Red Shoes

  1. Pingback: The Red Shoes [Ficlet] | SM Town Fanfiction

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s