Fallin in Winter [1/?]

tumblr_me2vogTVQR1qfg7plo1_1280_large

 

 

Fallin in Winter [1]

 

Casts: Lee Neulmi, L || Genre: Romance, Life, AU ­­|| Rate: PG — 13 || Category: Chaptered || Disclaimer: Plot is owned by Nisaiueo. Plagiarism is strictly unallowed.

 © – Nisaiueo / 2013

///

 

14 Desember 2012

 

Butiran salju tak hentinya turun di seluruh negara berempat musim kecuali negara bagian selatan, seperti Australia dan teman-teman di sekitarnya —tak terkecuali Korea Selatan yang tengah dibanjiri salju. Butiran-butiran tersebut menumpuk, bahkan menggunung, memenuhi sisi jalan dan tak henti membuat para petugas kebersihan kota mengumpat. Terpaksa, beberapa para peserta wajib militer harus ikut membantu membersihkan jalanan kota Seoul dari salju agar tidak terjadi kejadian yang tidak diinginkan.

 

Tapi tidak semuanya membenci salju.

 

Lee Neulmi, salah satunya.

 

Wanita berumur dua puluh tiga tahun itu tersenyum, walau salju tak henti mengotori mantel cokelatnya yang hangat. Ia tidak pernah membenci salju, walau tidak terhitung sudah berapa kali ia merasa beku —kedinginan —dan tidak berdaya karena musim dingin. Toh dia tidak peduli. Yang penting ia bersyukur masih bisa bernafas dan menjalani hidupnya yang baik-baik saja sampai detik ini. Ia bersyukur masih diberi kesempatan untuk bertemu dengan natal, pada tahun ini.

 

Tubuhnya yang cukup tinggi untuk ukuran wanita Korea itu melangkah menuju apartemennya. Dengan kedua telinga yang tersumbat dua button earphone iPod dan kedua tangan yang memeluk belanjaan persiapan malam natal —yang sebenarnya kurang lebih masih seminggu lagi— berbungkus kertas belanjaan cokelat, ia bersenandung kecil, mengikuti vokal khas Adam Levine, vokalis Maroon Five super seksi yang akan selalu menjadi tipe idealnya.

 

Sebenarnya waktu belum menunjukkan larut malam. Baru pukul delapan post meridien Korean Standard Time jika menurut Baby-G Casio putih yang melingkari pergelangan tangan kiri Neulmi, namun langit seakan menunjukkan bahwa sudah pukul sepuluh. Dan itu jelas membuat sebagian besar penduduk Seoul memilih untuk berdiam diri di kediaman masing-masing ditemani penghangat ruangan dan secangkir cokelat panas.

 

Neulmi menjilat bagian atas bibirnya dan menengok sepuluh bungkus minuman cokelat hangat yang menyembul di antara kotak sereal dan sebungkus kimchi instan. Ia tidak sabar sampai di apartemen,

 

Jarak dari supermarket ke gedung apartemennya tidak begitu jauh, sebenarnya. Namun langkahnya cukup sulit bergerak cepat seperti biasanya pada malam begini. Beri kutukan pada sepasang sepatu boots biru tua yang terpaksa ia pakai karena boots merah marun kesayangannya tertinggal di Jeolla-do, kediaman orangtuanya.

 

Neulmi baru saja hendak menaiki undakan gedung apartemen yang sudah dua tahun ia tempati belakangan ini, saat ia tidak sengaja mendengar sebuah rintihan.

 

Tolong..”

 

///

Neulmi menatap sosok pria yang tidak berdaya di depannya dengan berbagai ekspresi.

 

Antara khawatir, bingung, penasaran, cemas, was-was, dan kasihan.

 

Pria di depannya ini ia temukan satu jam lalu dalam keadaan babak belur. Memar biru-biru kemerahan tercetak di seluruh bagian wajahnya. Darah kering membentuk sebuah pola garis dari ujung bibir kanannya. Untung saja hidungnya tidak sampai patah.

 

Belum lagi sekujur tubuh pria itu dihiasi berbagai memar yang Neulmi terka merupakan akibat dari tekanan benda tumpul —well, Neulmi bukan dokter dan ia bodoh dalam pelajaran biologi semasa SMA, tapi ia merupakan penonton maniak serial TV CSI.

 

Pokoknya, secara garis besar, keadaan pria-yang-belum-Neulmi-ketahui-namanya-ini sangat mengenaskan. Ditambah dengan salju yang nyaris menutup tubuhnya.

 

“Aish, eottohkhae?” tanya Neulmi pada dirinya sendiri —bingung.

 

Seharusnya ia bawa saja pria ini ke rumah sakit. Namun saat Neulmi menemukannya, dan berlutut di sampingnya, lelaki ini mengeluh untuk tidak dibawa ke rumah sakit sampai akhirnya pria ini hilang kesadaran.

 

Jangan rumah sakit…

 

Dan dari nada pria ini memohon padanya untuk tidak dibawa ke rumah sakit, Neulmi tahu bahwa pria ini bersungguh-sungguh memohon untuk tidak dibawa ke sana.

 

Rambut hitam pria di depannya ini lurus, walau tampak tidak begitu halus untuk diraba. Pendek, namun ia menutupi sebagian dahinya dengan poni —tipikal potongan rambut pria pada jaman sekarang. Matanya sipit, dan ia tampak seperti anak kecil ketika tidur.

 

Keadaan pria di depannya ini sudah lebih mending daripada saat ditemukan. Setidaknya, Neulmi membersihkan lukanya, mengompres memarnya, dan membersihkan salju dari tubuh juga rambutnya.

 

Neulmi memutar-mutar telepon genggamnya dengan bimbang. Pria yang tengah tidur di atas kasurnya ini tidak memiliki identitas —Ya, Neulmi tidak menemukan dompet, telepon genggam, apalagi kartu identitas pada saku celana dan jaket cokelat kulitnya yang sudah Neulmi gantung di balik pintu.

 

“Haruskah aku menelepon Jinki oppa?” Neulmi menggigit bagian bawah bibirnya, “atau kutelepon saja kantor polisi? Siapa tahu dia ini orang hilang yang dirampok di jalanan?”

 

Neulmi berkutat dengan pikiran-pikiran anehnya, “omo! Jangan-jangan dia sebenarnya penjahat? Aish, apa yang harus kulakukan, ya Tuhan..”

 

Neulmi menggenggam erat rosario yang senantiasa berada di dalam tasnya, dan kini tengah ia kalungi. Ia tidak kenal pria ini, namun niatnya baik, bukan? Tuhan pasti melindunginya, kan?

 

///

Ia merasakan dunianya berputar tiada henti begitu syaraf otaknya kembali berfungsi. Terlebih saat kedua matanya berkedut dan membuka dengan sendirinya perlahan-lahan. Namun rasa perih yang dirasakannya jauh lebih baik —dalam artian, hanya terasa ngilu. Perih dan sakit tidak begitu kentara terasa, tidak seperti sebelumnya. Sebelum ia terjatuh, tersaruk-saruk, dan dalam ketidakberdayaan, tergeletak di pinggir undakan tangga sebuah gedung apartemen.

 

Sebelum seorang wanita berteriak melihatnya, dengan panik, berlutut di sampingnya, bertanya apakah ia masih hidup dan mengatakan padanya bahwa ia akan membawanya ke rumah sakit.

 

Wanita itu..

 

Ia mengernyit melihat keadaan sekitarnya.

 

Ia berada di sebuah ruangan bernuansa putih yang tidak terlalu luas namun tidak terasa padat. Hanya ada beberapa furnitur penting, namun sebuah meja dengan sebuah laptop dengan lid terbuka dan puluhan gumpalan kertas di sekitarnya sebagai sampah itu sangat mengganggu.

 

Ia melihat keadaannya sendiri.

 

Ia masih memakai kaos abu-abu yang bau amis akan keringat, kotoran, dan sedikit darah. Juga celana jeans belel yang sudah sepantasnya masuk ke tempat sampah. Namun ia mendapati sebuah handuk basah berada di atas tubuhnya, begitu juga sebuah tangan dengan kuku berwarna ungu violet.

 

Seorang wanita berambut hitam kecoklatan yang dikuncir satu acak-acakkan tengah tertidur. Wajahnya sedikit tertutup karena posisi kepala perempuan itu miring dan menempel pada kasur. Ia dalam posisi duduk —pasti sangat tidak nyaman— dan gurat lelah terlihat di wajah perempuan itu.

 

“Ha —halo?”

 

Suara serak aneh itulah yang membangunkan wanita itu dari tidurnya.

 

///

“Kau sudah sadar?” Neulmi langsung terbangun dan mendapati pria asing itu sudah membuka matanya, “bagaimana keadaanmu? Perlu ke rumah sakit? Aku tidak ahli mengurus orang sakit, jwesonghamnida.”

 

Neulmi menunduk. Ia benar-benar bingung saat ini. Namun ia tidak mendengar balasan apapun selain sebuah jawaban keluar dari sepasang bibir milik pria itu.

 

“Apa kau punya pakaian pria?”

///

Ia mematut bayangannya di cermin berukuran tiga puluh kali tiga puluh sentimeter di kamar mandi milik wanita yang semalam menolongnya.

 

Ia terlihat jauh lebih baik. Lebih bersih. Memar-memar memang masih menghiasi wajahnya, namun segala debu dan keringat sudah pergi dari wajahnya.

 

Bau tubuhnya juga jauh lebih baik walau kini tubuhnya wangi bunga -wangi khas sabun milik wanita itu, dan ia memakai kaos lengan panjang garis-garis juga celana abu-abu selutut pemberian wanita itu -yang katanya milik kakaknya yang tertinggal.

 

Ia memegang kepalanya. Ada sesuatu yang mengganjal pikirannya sedari ia sadar dari ketidaksadarannya. Ia tidak tahu apa itu.

 

///

 

Terdengar suara derit pintu saat Neulmi tengah menyicip sundubu buatannya di atas kompor. Neulmi menoleh dan menemukan pria-yang-sampai-sekarang-belum-bernama itu berjalan ke arahnya, dengan penampilan yang jauh lebih bersih walau masih memar-memar di beberapa bagian.

 

“Merasa baikan?” tanya Neulmi mematikan kompor dan mengambil dua mangkok kosong dari rak piring.

 

Pria itu mengangguk sebagai jawaban dan duduk di salah satu kursi meja makan.

 

“Bajunya muat, kan?” tanya Neulmi menoleh sebentar ke arah pria itu dan kembali berkutat pada kegiatannya di depan kompor, tanpa sadar kalau pria di belakangnya memerhatikan dirinya tanpa kedipan.

 

“Aku tidak tahu apa kesukaanmu, anyway,” Neulmi berbalik secara tiba-tiba —membuat pria itu refleks mengalihkan pandangannya— dan meletakkan semangkuk sundubu di depan pria asing tersebut.

 

“Ehm. Ini cukup,” jawab pria itu sedikit berdeham dan mendongak pada Neulmi, “trims.”

 

Neulmi mengangguk dan duduk di depan pria tersebut. Ia menyelipkan helaian rambut tipisnya yang terurai di sela-sela daun telinganya sebelum tersenyum pada pria asing itu, “selamat makan.”

 

Hening kemudian mewarnai lingkungan meja makan dan dapur. Hanya terdengar dentingan sendok, dan detak jam dinding yang tergantung manis di dinding dekat ruang tengah. Neulmi menyesal mengapa tidak menyalakan televisi sebelum ia memasak.

 

“Ehm,” Neulmi berdeham kecil, berniat membuka pembicaraanku, “kita belum berkenalan, bukan? Namaku Lee Neulmi. Kau?”

 

///

 

Ia menegang.

 

Seluruh bagian tubuhnya seakan membeku. Begitu juga dengan jantungnya yang sesaat berhenti berdetak. Seperti alarm, kepalanya seakan berdering hebat begitu wanita bernama Lee Neulmi ini menanyakan namanya.

 

Nama.

 

Ia tergagap.

 

Ia akhirnya tahu apa yang mengganjal pikirannya sejak tadi.

 

“Aku…”

 

“Aku tidak tahu namaku.”

 

///

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s