Kafein [1/?]

© – Nisaiueo / 2013

Dari sudut pandangku, Choi Minho.

Pertama kali aku melihatnya, di penghujung musim gugur.

Saat itu, aku tengah berkencan dengan buku sketsaku —seperti biasa, mencoba menggali ide untuk berkerja, kali ini desain sebuah rumah bergaya mediteran pesanan klien yang entah mengapa agak sulit diwujudkan dalam bentuk blueprint— dan ia baru saja masuk ke kedai kopi yang ramai ini.

Lonceng kecil yang dikaitkan dengan pintu masuk kedai, berdentang pelan. Beberapa  pelayan meneriakkan kata ‘Selamat Datang’ dengan sekenanya sedangkan tangan mereka tengah bersikukuh di balik konter, membuatkan pesanan-pesanan para pengunjung kedai kopi yang cukup ramai ini.

Aku sendiri ke sini karena aku menyukai frappuccino-nya. Mampu membuatku terjaga semalam suntuk walau aku harus merelakan beberapa won dari uangku setiap harinya. Frapuccino milik mereka seperti obat wajib untukku sebelum lembur meyelesaikan permintaan klien.

Gadis itu tidak terlalu menarik perhatian, pada awalnya. Suara para pengunjung yang cukup ramai, dan pelayan yang berlalu lalang mengantarkan pesanan, ia bagai tak terlihat. Walau sempat, aku meliriknya.

Rambut hitamnya lurus jatuh ke atas bahu, walau kuakui rambutnya tampak tidak sehalus rambut wanita-wanita lain. Tampak terlihat beberapa helai rambut yang mencuat-cuat. Tubuhnya tidak bisa dikatakan pendek, kutaksir tingginya hanya beberapa senti kurang dariku. Tubuhnya tidak kurus seperti wanita Korea jaman sekarang, ia malah terlihat chubby. Kedua pipinya tampak menggembung pelan melihat keadaan sekitarnya yang ramai, membuatnya terlihat sedikit menggendut.

Ah iya, hari itu, ia memakai sweater berwarna kuning mustard dengan logo universitas di tengahnya, dengan kerah kemeja warna putih menyembul dari bagian leher bajunya, dipadu celana jeans hitam dan ia memakai sneakers putih. Di tangannya, tersampir sebuah jaket tipis berwarna  hitam, dan di balik punggungnya, tersembul sebuah ransel berwarna cokelat.

Ia tampak berkali-kali menatap seisi kedai kopi dan ke arah pintu masuk secara bergantian. Mungkin ia sedang memutuskan apa sebaiknya ia pergi atau tetap di dalam kedai. Namun satu yang harus kusyukuri hingga sekarang, saat itu, ia memutuskan untuk tetap di dalam kedai, memesan segelas green tea latte dan dari situlah kami berkenalan.

///

Saat itu, aku sedang mendapat inspirasi dari warna kuning mustard yang ada di sweater wanita itu dan segera menuangkan ide itu untuk menjadi warna pokok di salah satu kamar rumah yang tengah kupikirkan desain bagian dalamnya, dan seorang wanita tahu-tahu menginterupsi kegiatanku dan berdeham kecil.

“Ehm.”

Aku berhenti dan mendongak. Wajah wanita chubby itu tampak semakin menggembung saja karena kini ia tengah menekan sepasang bibirnya, membuat pipinya semakin bulat saja. Kaki kanannya mengetuk-ngetuk permukaan lantai kedai.

“Err.. maaf, kursi lain sudah penuh. Boleh duduk di sini?”

Aku baru sadar bahwa memang tidak ada kursi kosong di kedai itu. Kuanggukkan kepalaku dan kudengar ia bergumam kecil, mengucapkan kata terima kasih.

Wanita itu duduk di depanku, dan aku bisa melihat wajahnya lebih detail. Manik matanya hitam namun tidak begitu pekat. Kelopak matanya hanya satu, namun matanya tidak menyipit lurus. Hidungnya tidak pesek, dan bibirnya tipis namun berbentuk sangat lucu.

Pardon?” tanyanya dengan bahasa Inggris. Namun tak lama kemudian, ia berdeham, “ehm, ada yang salah denganku?”

Rupanya dia sadar bahwa ia tengah diperhatikan. Aku yang tidak sadar bahwa ia kini sudah membuka MacBook-nya dan sepertinya bersiap hendak melakukan sesuatu. Tangan kanannya bahkan sudah memegang sebuah kacamata frame berwarna hitam dengan model modern seperti jaman sekarang, setengah bundar.

“Tidak,” jawabku sedikit gelagapan karena tertangkap basah. Ia kemudian tampak asing dengan situasi itu dan ia lantas menjilat sepasang bibirnya dan kemudian tersenyum awkward.

Seorang pelayan mengantarkan pesanannya. Segelas green tea latte. Saat minumannya datang, ia langsung menyeruputnya pelan dan senyum kecil terukir lagi di bibirnya. Aku tidak bisa berlagak tidak memerhatikannya, karena dia memang terlihat lucu.

Saat itu aku berpikir, bahwa sayang sekali untuk tidak mengetahui namanya.

Dan saat itu pula, aku menjulurkan tangannku. Memperkenalkan diri.

“Choi Minho. Kau?”

Awalnya ia memang terlihat sedikit terkejut mendapati seorang stranger tahu-tahu mengajaknya berkenalan. Aku bisa melihat binar kecurigaan di sepasang bola matanya, dan dengan suara pelan dan sedikit bingung, ia mengucapkan namanya.

“Neulmi. Han Neulmi.”

///

Kedua kali setelah pertemuan di kedai kopi tempo hari —yang diakhiri dengan ia yang pulang duluan karena ditelepon oleh seseorang— kami bertemu lagi di bis kota.

Sore itu, adalah jam pulang kerja. Silahkan bayangkan bagaimana padatnya subway pada jam itu, sehingga aku memutuskan untuk pulang dengan bis kota, lagipula tempat pertemuanku dan klien cukup jauh dari pemberhentian subway, ditambah mobilku memang tengah menginap di bengkel karena lecet di sana-sini. Dan aku terkejut saat menemukan seorang wanita berambut hitam sebahu itu di halte.

Kali ini, dia memakai baju lengan panjang berwarna cokelat tua dan celana jeans panjang berwarna abu-abu dan sebuah syal berwarna krem menutupi lehernya. Tangannya, lagi-lagi tersampir sebuah jaket tipis berwarna hitam.

Aku memutuskan untuk tidak menyapanya, namun aku naik ke bis yang sama dengannya.

Tidak ada tempat duduk yang kosong, karena aku orang terakhir yang naik. Dan entah kebetulan atau bagaimana, tapi satu-satunya tempat kosong yang ada, berada di sebelah wanita itu.

Han Neulmi.

Tanpa sedikitpun ragu, aku berdiri di dekat kursi. Kulihat ia memejamkan matanya dan kemudian membukanya kembali. Refleks, ia menoleh ke arah sebelah kirinya, dan ia cukup kaget menemukan sosokku yang berdiri di dekatnya.

“Oh. Kau.”

Aku hanya tersenyum kecil. Menunggu ia menawari tempat duduknya, namun ia tidak bergeming. Matanya malah menyiratkan rasa awas akan hadirku. Memangnya wajahku menyiratkan seorang kriminal, apa?

“Apa kursinya kosong?” tanyaku padanya. Ia mendongak dan mengangguk, sedikit memepetkan dirinya pada dinding bis, dan membiarkanku duduk di sampingnya. Ia kemudian mengeluarkan telepon genggamnya dan entah ia melakukan apa.

Wanita ini terlalu lucu untuk dibiarkan begitu saja. Aku mencoba mencari celah untuk berbicara dengannya. Saat itu pikiranku tengah brilian-briliannya untuk bertanya mengenai pekerjaannya. Bermula dari gedung di dekat halte di mana kami bertemu.

“Kau berkerja di Kim Group’s Company?”

Ia menoleh dan mengangguk, “kau juga?”

“Tidak,” aku menggeleng, “kebetulan saja aku sedang bertemu klien. Orang KGC. Kau berkerja di anak perusahaan yang mana?”

Dia tersenyum kecil, “anak perusahaan milik yang bungsu. Majalah Take. Kau tahu? Yang di lantai enam.”

“Kau berkerja di sana?” tanyaku lagi. Sepertinya dia mulai terbuka padaku, karena ia mulai menaruh telepon genggamnya ke dalam tas dan mulai menaruh fokusnya padaku. Bagus, Choi Minho. Kau memang sangat berbakat dalam mengajak orang lain berkenalan. Terutama seorang wanita.

“Ya, sebagai akuntan di sana.”

“Akuntan?” tanyaku tidak percaya. Aku menatapnya dari atas sampai bawah. Gaya berpakaiannya lebih mirip seorang penulis lepas atau seorang ulzzang. Tidak mencerminkan bahwa ia adalah seorang akuntan sama sekali.

Neulmi terkekeh kecil, “kau adalah orang ke-seratus empat puluh delapan yang terlihat tidak percaya dengan pekerjaanku,” ia menyelipkan helaian rambut ke belakang daun telinganya, “di Majalah Take, kau tidak perlu berpakaian formal. Makanya aku langsung apply ke sana setelah aku lulus,” ia lalu menatapku lagi, “kau sendiri? Kutebak kau adalah insinyur sipil, atau arsitek? Atau mungkin desainer interior, semacamnya?”

Aku menganggukkan kepalaku, “tebakan keduamu benar. Dari mana kau tahu?”

Ia mengedikkan bahu, “saat si kedai kopi tempo hari, aku melihatmu tengah menggambar-gambar di buku sketsa, dan cara berpakaianmu tidak menggambarkan bahwa kau seorang seniman.”

“Oke, kau cukup teliti,” tanggapku, “tidak heran kalau kau adalah seorang akuntan.”

I take it as a compliment,” ia tersenyum, “trims.”

Hening sesaat. Ia tampak mencoba menikmati pemandangan jalan Seoul yang macet dan dipenuhi mobil, sedangkan aku masih mencoba mencari bahan pembicaraan. Perhatianku mengarah pada sebuah gelang yang dipakainya. Gelang bertuliskan ‘Maroon 5’, dan itu langsung mencuri perhatianku, “kau suka Maroon Five?”

Ia menoleh dan terlihat antusias, “kau juga? Aku sangat suka lagu Can’t Stop dan Wake Up Call, walaupun lagu Payphone, One More Night, dan Daylight tidak kalah enak.”

“Kau menyukai musiknya atau pure karena Adam Levine sangat tampan?”

Ia tertawa mendengar pertanyaanku, “the music itself, even I can’t resist how hot Adam Levine is.

“Dasar perempuan,” aku memutar kedua bola mataku, dan seuntai pertanyaan keluar begitu saja dari sepasang bibirku.

What about some coffee?”

///

Memang, pertanyaan ‘what about some coffee?’ memiliki kekuatan magis sepertinya. Sore itu kami kembali ke kedai tempat kami pertama kali bertemu. Berbeda dengan pertama kali, kami lebih rileks satu sama lain, bak sepasang teman lama. Kupikir ia adalah gadis yang kaku awalnya. Namun, tidak begitu pada kenyataannya. Setelah lama berbincang, ia mengaku bahwa ia memang kaku pada orang-orang yang tidak dikenalnya, namun jika sudah kenal dekat, ia adalah seorang talkative.

Ia besar di Korea walau menghabiskan masa sekolahnya di tiga tempat yang berbeda: Incheon, Busan, dan Gwangju. Ia lulusan dari SNU (bravo, aku bahkan gagal mengikuti tes universitas itu) dan pernah transfer studi ke Belanda. Ia pernah ditawari berkerja di perusahaan multinasional, namun ia menolaknya.

Pembicaraan itu terhenti karena ia sudah ditelepon ibunya untuk pulang, dan aku mengantarnya dengan bis. Sembari mengajaknya untuk makan bersama besok siang di restoran tak jauh dari Kim Group’s Company. Untungnya, ia mengiyakan.

///

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s