Amor Curse [2/?]

amor-curse

Casts: Choi Minho (SHINee), Han Neulmi (OC), Lee Jonghyun (CN Blue), Kwon Yuri (SNSD), and others | Genre: Romance, AU | Rate: PG-15 | Length: Chapters 

Disclaimer: I do own the words, Neulmi, and Minho. Inspired by Karla .M. Nashar’sLove, Hocus, Pocus. Poster is made by superdaebakdreamer. Plagiarism is strictly unallowed.

Amor Curse

© – Nisaiueo / 2013

– Part 2 –

2 minggu kemudian

Sunbae, ini taruh di mana?”

 

Neulmi sedang sibuk mencoret-coret kertas inventaris yang dijepit di papan jalannya begitu seorang adik kelas memanggilnya sambil mengangkat sebuah pot bunga yang berat dengan raut kelelahan. Berharap sang kakak kelas segera menjawab pertanyaannya sebelum tangannya dilanda keram berkepanjangan.

 

“Ah! Taruh di sana saja, Sungjong! Di dekat panggung utama!” jawab Neulmi sambil menjulurkan lehernya, “ya terus.. terus… Stop!” Neulmi mengangkat tangannya, “berhenti di sana!”

 

Melihat adik kelasnya sangat berkeringat, Neulmi mencari-cari sosok bertanggung jawab di acara ini. Tentu saja sang ketua acara, Choi Minho.

 

Tidak dapat dilihatnya Choi Minho di penjuru hall utama SMA Shinhwa. Ia juga tidak melihat sosok Seo Joohyun sebagai penanggung jawab, atau Lee Seongyeol yang berposisi sebagai wakil ketua, namun ia merasa perlu menyuruh anggota panitia untuk beristirahat —dengan atau tanpa izin dari mereka yang memiliki posisi lebih tinggi darinya di kepanitiaan ini.

 

“Semuanya istirahat!” teriak Neulmi kepada anggota panitia acara yang tengah berkerja, dan melirik tumpukan makanan yang sudah disediakan Cho Hyunyoung sang seksi konsumsi.

 

Dalam sekian detik, manusia-manusia kelaparan itu meninggalkan apapun yang tengah mereka kerjakan demi nasi yang tersedia untuk memenuhi permintaan cacing-cacing di perut mereka yang sudah menggelar konser sendiri.

 

Neulmi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya lalu duduk di sisi hall. Meneguk air minumnya dan mengelap keringat yang turun dari pelipisnya.

 

“Oh, jadi kau berani memberikan perintah tanpa persetujuan ketua acara?”

 

Suara yang terdengar angkuh bagi Neulmi membuat gadis itu mendongak. Mendapati sosok Minho yang tinggi menatapnya seperti menatap seorang anak kecil.

 

“Kenapa? Joohyun saja tidak keberatan,” Neulmi mengedikkan bahunya begitu melihat Joohyun yang baru tiba dari luar usai membeli beberapa perlengkapan untuk bawahan-bawahannya segera ikut mengambil jatah makan siangnya, dan bergabung dengan anggota-anggotanya.

 

“Tapi yang berhak memberi perintah untuk istirahat itu aku,” Minho melipat kedua tangannya.

 

“Salah sendiri kau menghilang,” balas Neulmi sengit, “lagipula kau mau menunggu mereka semua mati kelaparan sambil memegang perlengkapan untuk besok malam, huh? Dasar egois.”

 

“Siapa yang egois?” tanya Minho protes disebut seperti itu, “aku tidak menghilang, asal kau tahu, Neulmi-SSI, aku ke belakang untuk mengecek suara untuk bintang tamu.”

 

Neulmi kemudian teringat sesuatu dan menepuk dahinya keras, “oh iya! CN Blue!!!”

 

Secepat kilat, Neulmi meninggalkan Minho yang belum selesai mengajaknya bertengkar —berlari menuju bagian belakang hall.

 

Minho mengerutkan keningnya sebelum mengumpat, “dasar gadis aneh!”

 

.

.

.

Neulmi berjalan menuju bagian belakang hall yang sepi. Tampaknya semua kru yang bertugas di belakang hall sudah menyerbu makanan dan ikut makan bersama di pelataran hall yang sudah tertutup tenda.

 

Neulmi merasakan perutnya bersuara, meminta diberi makan, namun ada yang lebih penting dari sekedar makan.

 

Ia harus menuju toilet sebelum bertemu Jonghyun hari ini.

 

Jika dilihat seksama, Neulmi benar-benar kacau. Rambut cokelatnya dicepol tidak karuan, poni ratanya sudah miring ke sana kemari, ditambah wajahnya yang lusuh karena keringat, dan juga bagian lengan panjang kaos ungu kesayangannya sudah kusut karena ditarik paksa sampai siku.

 

“Oh! Neulmi!”

 

Neulmi berhenti melangkah saat ia menoleh ke belakang untuk mencari tahu siapa yang memanggilnya.

 

Sedetik kemudian, Neulmi merasa kebas dan menyapa balik pria itu sekenanya, “oh~ J —Jonghyun oppa. Annyeong…

 

.

.

.

Maksud hati ingin membetulkan penampilannya terlebih dahulu, Jonghyun malah menemukannya dalam keadaan kacau. Namun pria itu tampaknya tidak terganggu dengan penampilan Neulmi.

 

Oppa sudah melakukan check sound?” tanya Neulmi pada Jonghyun sebagai basa-basi.

 

“Sudah tadi,” jawab Jonghyun, lalu pria itu menatap Neulmi, “kau sudah makan? Kulihat semua anggota panitiamu tengah makan siang.”

 

“Ah~,” Neulmi menyengir sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, “aku nanti saja.. Hehe.. aku masih kenyang —”

 

Ucapan itu kemudian disusul oleh suara gemerisik yang berasal dari dalam perut Neulmi, membuat gadis itu malu setengah mati, namun membuat Jonghyun menahan tawanya.

 

“Jelas kau sangat ‘kenyang’ sekali, hm?” tanya Jonghyun membuat pipi tembam Neulmi memerah.

 

Demi Tuhan, Neulmi sangat malu! Parah! Pokoknya kalau Jonghyun ilfeel kepadanya karena bisa mengeluarkan suara sebesar itu dari perut, ia berjanji akan membenci perutnya dengan cara tidak mengisi perutnya dengan pizza selama dua bulan ke depan!

 

“Ayo kita makan. Kebetulan aku belum memakan jatah konsumsiku,” ajak Jonghyun, membuat Neulmi terpaksa menyengir seadanya sambil mengikuti pria berambut hitam itu berjalan menuju hall.

 

.

.

.

Minho melengos begitu melihat sosok musuh bebuyutannya tengah berjalan ke arah hall dengan seorang pria yang ia kenali sebagai pengisi acara bazaar besok malam.

 

Pantas saja dia bersikeras meminta CN Blue yang mengisi acara. Ternyata salah satu personilnya itu pacar si pendek —batin Minho meminum air mineralnya keki. Ia masih terus mengamati Neulmi yang tertawa-tawa dengan Jonghyun, tanpa sadar Dongwoon yang baru selesai melahap makan siangnya mengambil sebotol air mineral dan berdiri di sebelah Minho.

 

“Cemburu melihat musuh bebuyutan bersama pria lain, eo?” tanya Dongwoon meneguk air mineralnya yang langsung dibalas tatapan tajam dari Minho. Merasa pertanyaannya tidak salah, Dongwoon mengangkat bahunya, “apa? Aku hanya bertanya.”

 

“Cemburu mwoya. Cih,” Minho berdesis melihat Neulmi yang kini mulai mengambil jatah konsumsinya dan duduk bersama Jonghyun di sisi hall.

 

“Kalian itu belum sadar juga ya?” tanya Dongwoon menggelengkan kepalanya, “ingat, Minho-ya. Benci dan cinta itu dipisahkan oleh sebuah garis yang sangat tipis. Jangan terlalu membenci Neulmi jika kau tidak mau jatuh cinta padanya.”

 

Minho menoyor kepala Dongwoon kesal, “kurasa kau keracunan makanan, Son Dongwoon. Kau tidak tahu latarnya kami saling membenci jadi kau tidak tahu bahwa aku dan gadis itu tidak—akan—pernah—bersatu. Kau mengerti, bung?”

 

Usai berkata seperti itu, Minho meremukkan botol air minumnya yang kosong dan pergi ke arah lain sebelum Dongwoon mencegahnya.

 

.

.

.

  1. Kebencian itu dilatari oleh kecerobohan Neulmi. Berlatar di depan kedai kopi di kawasan Hongdae, Neulmi yang tengah terburu-buru keluar dari kedai kopi sambil memegang telepon genggamnya tidak sengaja menabrak Minho yang baru saja hendak masuk ke dalam kedai kopi. Walhasil, capuccino  hangat yang sebenarnya sama sekali belum ia seruput itu setengahnya tumpah menodai kaos putih Adidas Minho di bagian bahu. Boro-boro minta maaf, Neulmi langsung mengambil langkah seribu sebelum Minho mengeluarkan sumpah serapahnya. Saat itu, mereka berdua baru saja lulus SMP dari sekolah yang berbeda.

 

  1. Kedua, mereka bertemu di toko buku saat libur musim panas. Keduanya mengejar sebuah novel detektif yang laris manis dan ternyata tinggal ada satu eksemplar di toko buku tersebut. Neulmi yang bersikeras mengambil novel itu melawan Minho yang mengaku sudah berkeliling Seoul demi mencari novel itu. Tidak peduli bahwa keduanya menjadi bahan tontonan para pengunjung toko buku, keduanya tetap bertengkar padahal mengetahui nama satu sama lain saja belumdan berakhir dengan pengusiran keduanya oleh sekuriti toko buku.

 

  1. Ketiga, kalau waktu bisa diputar, Neulmi sampai mati tidak mau bersekolah atau mendaftar di SMA Shinhwa begitu tahu kalau pria menyebalkan yang dua kali menaikkan emosinya bersekolah di tempat yang sama. Sial memang tidak dapat ditolak, Neulmi dan Minho kembali bertengkar saat apel pagi Masa Orientasi hanya karena posisi saat berbaris. Keduanya akhirnya terpaksa tutup mulut saat mendapat detensi bersamaan dari senior mereka.

 

  1. Keempat, saat mereka awal kelas satu, Minho dengan sengaja melempar kepala Neulmi dengan bola basket. Walau meleset, keisengan Minho itu menjadi panjang urusannya karena Neulmi berhasil menonjok Minho tepat di muka pria itu.

 

  1. Kelima, yang namanya Choi Minho tidak akan sudi dikalahkan oleh seorang wanita. Ia memutuskan untuk membuat hari-hari Neulmi seperti neraka selama mereka berdua bersekolah di sana.

 

Terlalu banyak poin-poin peristiwa kebencian di antara Minho dan Neulmi, membuat Minho sebenarnya ingin menertawai kekonyolannya. Entah, ia sangat bahagia melihat raut kesal Neulmi. Melihat sepasang bibir gadis itu merengut, pipi tembamnya menjadi merah, dan keringat mengalir di sudut dahinya akibat mengomeli atau bahkan memaki Minho.

 

Melihat Neulmi yang tertawa-tawa malu-malu kucing dengan Jonghyun membuat Minho mengalihkan pandangannya. Dasar norak! Nggak punya tempat lain untuk pacaran, huh?

 

.

.

.

“Mau berangkat bareng, besok?”

 

Neulmi yang baru saja turun dari motor Jonghyun menahan bibirnya untuk menganga lebar begitu mendengar ajakan Jonghyun. Gadis itu kemudian mengangguk—berusaha tidak terlihat begitu antusias, “boleh. Jam setengah tujuh. Bagaimana? Aku harus ada briefing panitia semacam itu.”

 

“Baik, ma’am. Setengah tujuh. On time, okay?”

 

Neulmi hanya mengangguk saat Jonghyun mengacak rambutnya.

 

“Masuk duluan sana. Sampaikan salamku pada abeoji, eommonim, Taekyung, dan Yeonrin.”

 

“Baiklah,” Neulmi menyelipkan helaian rambutnya ke balik daun telinga, “terima kasih sudah mengantar, oppa. Jaljjayo~

 

Jonghyun membalas dengan senyuman sebelum pria itu membelokkan motornya ke pelataran rumahnya sendiri. Neulmi hanya mengamatinya di balik jendela rumah dan tersenyum sendiri.

From: Yuri Noona

Maaf, besok aku ada rapat lomba tari di Konkuk. Semoga bazaarnya berhasil, ne. Oh iya, aku tidur duluan ya. Aku lelah sekali hari ini. Jaga kesehatanmu. LY.

 

Minho menghela nafasnya sesaat sebelum meletakkan handphone-nya ke atas nakas, dan membaringkan tubuh jangkungnya ke atas kasur.

 

“Jadi lomba tari itu lebih penting ya daripada aku.”

 

Minho mematikan lampu kamarnya dan memejamkan matanya.

 

Gadis bernama Kwon Yuri benar-benar menyita pikirannya.

 

.

.

.

Hari H

Neulmi mematut bayangannya di depan cermin. Ia berkali-kali memutar-mutar tubuhnya ke sana kemari di depan cermin seraya membetulkan tatanan rambutnya yang sudah rapi, dan beberapa kali merapikan poni sedahinya —membuat Yeonrin, adik bungsunya yang sedang mengerjakan PR jadi berdecak kesal.

 

Yak eonni! Keumanhae! Berhentilah memutar-mutar tubuhmu itu. Aku jadi pusing melihatnya, tahu!”

 

Neulmi menghiraukan protes adiknya itu dan kemudian mengambil slingbag kecil berwarna hitam yang senada dengan gaun tanpa lengan berwarna hitam yang dipakainya.

 

“Menurutmu, gaunnya terlalu ngepas di tubuhku tidak? Tubuhku jadi kelihatan gendut tidak?”

 

“Tidak,” jawab Yeonrin sekenanya bahkan ia tak perlu menatap eonni-nya dengan seksama, “sudah sana cepat turun sebelum Jonghyun oppa datang.”

 

“Rambutku bagaimana? Digerai begini saja apa diikat saja? Perlu pakai jepit tidak?”

 

“Aish,” Yeonrin menggerutu kesal dan meletakkan pulpennya dengan gusar di atas kasur, “kau terlihat baik-baik saja, eonni. Okay? Jadi berhenti bertanya-tanya dan cepatlah turun.”

 

Neulmi masih saja mematut bayangannya di cermin saat terdengar teriakan ibunya dari lantai bawah, “NEULMI-YA!! JONGHYUN SUDAH MENUNGGU!! CEPAT TURUN!”

 

Neulmi dengan sigap menarik sepatu hak tingginya dari bawah meja rias dan menoleh pada adik bungsunya, “doakan aku, ya?”

 

“Ya ya ya. Sana cepat turun!”

.

.

.

 

“Neulmi.”

 

Neulmi menoleh begitu ia turun dari motor Jonghyun dan menyerahkan helm yang dipakainya, “ya, oppa?

 

Jonghyun berdeham kecil, “uhm, saat band kami tampil nanti, aku akan menyanyikan satu lagu, Yonghwa hyung sudah mengizinkannya. Jadi saat kami tampil, tolong simak kami baik-baik, eo?

 

Neulmi tersenyum, memperlihatkan eyesmile-nya, “keureomnyeo!”

 

Jonghyun turun dari motornya, menggantung helmnya dan helm milik Neulmi di atas stang motor kesayangannya dan berjalan bersama Neulmi menuju hall SMA Shinhwa yang tampak tidak begitu ramai karena baru ada kru-kru panitia yang tengah mempersiapkan acara.

 

Neulmi dan Jonghyun berpisah di hall. Neulmi bergabung untuk briefing, sedangkan Jonghyun pergi ke belakang panggung untuk bertemu teman-teman satu band-nya.

 

.

.

.

Bazaar tahun ini benar-benar terlihat eksklusif. Panitia yang dibawahi oleh Minho benar-benar membuat acara yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.

 

Biasanya, bazaar diadakan setiap siang hari, namun kali ini, bazaar diadakan malam hari, dibalut dengan pentas siswa dan penampilan musik —sangat menarik para sponsor dan donatur. Belum lagi tema yang diusung adalah semi formal, sehingga terlihat seperti acara resmi.

 

Neulmi tersenyum puas sambil meneguk sodanya begitu Minho tahu-tahu sudah berdiri di sebelahnya.

 

“Kulihat kau datang dengan si gitaris itu, huh?”

 

Neulmi menoleh dan mendesis, “tsk, itu bukan urusanmu, Minho-ssi.

 

“Pantas saja kau begitu ngotot ingin mereka yang tampil malam ini.”

 

Neulmi meniup helaian poninya —tanda ia tengah kesal, “kau kok cerewet sekali sih malam ini. Toh mau aku berangkat dengan Jonghyun oppa kek, mau CN Blue bintang tamunya kek, itu bukan urusanmu. Jinjja.”

 

Minho tertawa melihat pipi Neulmi yang mulai memerah, “ya ampun, Nona Han ini benar-benar cepat terpancing ya.”

 

Neulmi mendengus, “kalau kau yang memancing, tentu saja aku cepat bereaksi,” Neulmi menantang Minho lewat tatapan matanya, “karena manusia sepertimu tidak bisa didiamkan begitu saja.”

 

“Oh ya?” Minho mengangkat sebelah alisnya membuat Neulmi memicingkan matanya dan melengos pergi sebelum membuang gelas plastik sodanya.

 

“Enyah saja kau, Choi Minho.”

 

Neulmi paling malas kalau disuruh berdebat dengan si jangkung—egois—tak—pernah—mau—kalah—itu. Gadis bergaun hitam tanpa lengan itu kemudian berusaha mencari sahabatnya, Nicole. Semua panitia tampak larut dalam acara, membuat Neulmi seperti tidak ada teman bicara. Sedangkan Jonghyun oppa-nya tampak tengah bersiap dengan band-nya.

 

“Ayo cepat katanya ramalannya lumayan jitu, lho!!”

 

Neulmi menoleh mendengar seruan seorang gadis yang ia kenali sebagai adik kelasnya. Gadis berambut pendek itu menarik dua temannya yang lain dan berlari ke arah sebuah stand yang memang sengaja dibentuk seperti tenda kecil.

 

Neulmi melangkahkan kakinya ke stand itu. Ia tahu itu stand apa. Tentu saja, itu stand peramal Lee. Bibi dari Lee Minyoung, teman satu angkatan Neulmi yang nyentrik dan sering menggelar stand ramal dadakan setiap istirahat.

 

Penasaran, kaki Neulmi terus melangkah menuju stand yang paling ramai itu. Antrian diisi siswa-siswi dan tamu yang tampak antusias minta diramal, membuat Neulmi melengos. Hari gini masih percaya dengan ramalan? Yang benar saja.

 

“Oh, Neulmi! Neulmi!”

 

Suara khas itu menyapa indra pendengaran Neulmi, membuat gadis itu kemudian mencari sumber suara. Seorang gadis berambut cokelat gelap dengan tanda lahir di bawah dagunya, berteriak keras pada Neulmi, membuat sosok lelaki di sebelahnya segera menjawil pipi gadis tersebut untuk mendiamkannya.

 

Oh, wae, jagiya? Yak! Han Neulmi!!!”

 

Neulmi mendapati seluruh pasang mata antrian stand peramal itu mengarah padanya akibat teriakan Nicole. Gadis itu merengut dan menghampiri Nicole di luar garis antrian, “ya~ apa yang kau lakukan di sini?”

 

“Aku?” tanya Nicole, gadis itu kemudian memeluk lengan Kibum yang notabene kekasihnya dan menyengir ke arah Neulmi, “tentu saja kami akan meminta ramalan Nyonya Lee!”

 

Mwo? Kau serius?” tanya Neulmi menatap Nicole dan Kibum secara bergantian. Kibum cuma menyengir-nyengir, kemudian ia melihat sosok Minho tak jauh dari stand dan meneriaki nama sahabatnya itu.

 

“Oi Choi Minho!”

 

Neulmi dan Nicole refleks ikut menoleh ke arah Minho yang balas menoleh. Neulmi segera membuang mukanya begitu melihat Minho, sedangkan yang diteriaki tampak kebingungan sambil menghampiri Kibum, Nicole, dan tentu saja—Neulmi.

 

Begitu menyadari stand apa yang tengah diantri Nicole dan Kibum, Minho langsung melengos malas dan menabok kepala Kibum pelan, “ya~ apa yang kau lakukan di sini? Kau ikut-ikutan minta ramal?”

 

“Nicole yang menyuruhku,” Kibum balik menabok kepala Minho, “sialan kau asal menabok kepalaku. Lama tahu aku merapikan rambutku jadi seperti ini.”

 

Minho berdecak melecehkan, “apa yang kalian lakukan di sini, huh? Dan —eiy, Han Neulmi? Oh, rupanya berharap mendapat ramalan bagus mengenai masa depannya bersama si gitaris itu?”

 

“Diam saja kau, Choi Minho,” dengus Neulmi lalu menarik tangan Nicole, “ayo keluar. Kau ini kenapa masih percaya hal hal begini sih. Neo jinjja!

 

Aish, wae?” tanya Nicole protes, “aku kan penasaran. Kata orang-orang yang sudah diramal sih, Nyonya Lee ini jitu lho ramalannya. Ia bahkan tahu apa ketakutan terbesar Kim seonsaengnim sampai-sampai wajah Killer—Kim seonsaengnim memerah dan langsung keluar dari stand. Kudengar sih ramalan miliknya tahun ini kurang beruntung,” bisik Nicole pada Neulmi, Minho, dan tentu saja Kibum. Ia lalu merubah wajahnya menjadi aegyo, “ayolah Neulmi. Masuk yuk ke stand ini. Sekaliii saja. Kalau kau tak suka ramalannnya, kau boleh keluar deh.”

 

Ya ya yak! Mwoya? Lee Minyoung saja tidak menghasutku seperti ini. Shirheo!” tolak Neulmi dengan tegas.

 

“Ayolah Neulmi! Hanbeonman! Jebaaaal,” Nicole menarik tangan Neulmi sedangkan Minho tertawa melihat Neulmi yang dengan tegas masih menolak.

 

“Masuklah sana, poni dora. Siapa tahu keberuntungan menyertai ramalanmu,” Minho asal ucap membuat Neulmi menoleh.

 

“Ha. Sejak kapan kau berdoa untuk keberuntunganku, tiang listrik?”

 

“Berdoa saja gitaris itu memang jodoh sehidup sematimu,” Minho terkekeh sinis, sedangkan Neulmi melengos sebal.

 

“Selanjutnya!” Lee Minyoung tahu-tahu muncul dari dalam stand begitu sepasang anak kelas dua keluar dari stand dengan wajah bahagia. Gadis berambut pendek hitam itu tampak cukup menarik perhatian dengan riasan mata serba gelap dan bajunya yang seperti jubah, “err.. Nicole-ssi?”

 

Ne! Kami akan masuk!” Nicole menarik tangan Neulmi, “bertiga!”

 

Mwo? Mwoya!” Neulmi mencoba melepas tangannya namun Kibum malah menarik tangan Minho.

 

“Ayo kau juga diramal sekalian, Minho-ya!”

 

Mwoya?” Minho menolak, namun sepasang kekasih itu bersikeras menarik ia dan Neulmi.

 

.

.

.

 

“Selamat malam, yeorobeun.”

 

Suara halus namun berat milik Jonghyun menyapa pendengaran seisi hall. Mereka yang notabene sebagian besar adalah kaum hawa, langsung berteriak. Maklum, wajah Jonghyun memang wajah magnet bagi para perempuan.

 

“Maaf menginterupsi sebentar, nama saya Lee Jonghyun, dan saya akan menyanyikan sebuah lagu solo. Ciptaan saya sendiri khusus malam ini. Yonghwa sudah mengizinkan saya untuk bernyanyi solo sekali saja.”

 

Yonghwa, salah satu gitaris CN Blue yang berambut cokelat tersenyum karismatik.

 

“Lagu ini saya buat sambil memikirkan bagaimana jadinya jika saya dan dia berpisah. Maka dari itu, saya mengutarakan kekhawatiran saja melalui sebuah lagu.”

 

Jonghyun tersenyum dan sudah bersiap duduk di kursi, sudah mengganti gitar elektriknya dengan gitar akustik. Sepasang matanya mencari sesosok gadis yang sudah berjanji akan menonton penampilannya malam ini.

 

Ia masih mencari gadis berponi dengan gaun hitam tampa lengan yang berpipi tembam itu. Terakhir dilihatnya, gadis itu sedang mengambil minum.

 

Hyung,” tegur Minhyuk, drummer yang berada di belakangnya.

 

“Oh. Ya,” Jonghyun tersadar. Sedikit kekecewaan hinggap dalam dadanya, “lagu ini saya persembahkan untuk Nona Han Neulmi.  Annyeong Saranga—Goodbye My Love.”

 

.

.

.

 

Neulmi melirik Nicole bingung sementara Minho melirik Kibum dengan lirikan maut. Lee Youngri, bibi dari Minyoung tampak aneh. Kedua matanya dirias begitu gelap namun dipadu dengan eyeshadow hijau dan biru terang. Hidungnya ditindik, dan ia memakai lipstik merah menyala pada bibirnya.

 

Keponakannya, duduk di samping bibinya. Gadis yang teman seangkatan Kibum, Nicole, Minho, dan Neulmi itu menatap keempat temannya secara bergantian, “siapa yang mau diramal duluan?”

 

“Aku!” Nicole mengacungkan tangannya. Nyonya Lee menarik tangan Nicole secara tiba-tiba, membuat Neulmi dan Kibum terkejut.

 

“Nicole Jung. Sepuluh Oktober 1991. Hm…. Scorpio, ya?”

 

Nicole mengangguk pelan sementara kedua matanya bertukar pandang dengan Neulmi.

 

“Nasibmu cukup baik.. Kau memiliki orangtua yang baik, walau sedikit sibuk. Kekasihmu juga tulus padamu.. Sahabatmu juga…”

 

Nicole menyunggingkan senyum senang.

 

“Keuanganmu sepertinya akan cukup tersendat,” Nyonya Lee mengangguk-anggukkan kepalanya, “kesehatanmu.. Aku bisa membaca garis umur yang cukup panjang di sini, tapi tahun ini kau akan menderita sebuah penyakit. Hindari itu dengan banyak berolahraga.”

 

Eoh?” Nicole bengong, namun dicamkannya baik-baik ucapan sang peramal dalam benaknya, dan mengangguk mengerti, “bagaimana dengan masa depanku, ahjumma?”

 

“Bibiku tidak suka dipanggil ahjumma,” Minyoung tiba-tiba menyela, “panggil saja beliau Madam Lee.”

 

Minho dan Neulmi nyaris tertawa mendengar nama panggilan bibinya Minyoung itu jika saja Madam Lee tidak menatap tajam mereka berdua.

 

“Ada yang lucu, Han Neulmi, dan Choi Minho?”

 

Neulmi dan Minho serempak menggeleng. Madam Lee lantas melepas tangan Nicole secara terburu-buru dan menatap Neulmi dan Minho secara bergantian. Matanya kemudian memejam. Kedua tangannya mengayun-ayun di udara bak seorang pemandu paduan suara, membuat Nicole dan Neulmi berjengit dan mundur sedikit dari tempat duduk mereka.

 

“Aku bisa merasakan atmosfer aneh di sini….”

 

Keempat anak muda itu saling berpandangan bingung, walau Minho tampak lebih tidak peduli, dan Neulmi tampak lebih penasaran.

 

“Dua insan yang saling membenci sampai ke dalam pembuluh nadi mereka akan dipersatukan melalui sebuah ikatan. Garis jodoh akan mempertemukan mereka sebentar lagi.”

 

Nicole mengerutkan keningnya, “maksud Madam? Aku dan Kibum?”

 

“Tidak, tidak. Bukan,” Madam Lee menggeleng dan membuka matanya, lalu tersenyum misterius, “jodoh memang tidak dapat disangka bukan begitu, Neulmi-ssi dan Minho-ssi?”

 

Neulmi dan Minho nyaris saja terjengkang dan dengan kompak mereka berteriak, “KAMI?!”

 

Minho langsung membantah ramalan Madam Lee keras-keras, “maksud Anda itu KAMI?! Aku dan Han Neulmi si poni dora pendek ini?!”

 

Neulmi memasang muka mual mau muntah dan langsung protes, “Anda pasti salah meramal.”

 

“Tidak tidak. Aku tidak pernah salah,” Madam Lee tersenyum misterius, “garis jodoh sudah menunggu kalian. Kalian tinggal hanya memperbaiki yang ada dan menjemput garis itu.”

 

“Omong kosong,” dengus Minho membuat Madam Lee menoleh cepat. Wanita itu tampak menjaga ekspresinya agar tetap tenang walau sirat kekesalan terpancar di kedua matanya. Ia tidak pernah dianggap remeh apalagi dikatai omong kosong.

 

“Aku tidak akan mendengar omong kosong macam ini. Kau terlalu banyak membual, dasar peramal aneh.”

 

Minyoung langsung ikut memandang Minho. Bibirnya nyaris terbuka, ingin melayangkan protes pada teman seangkatannya itu, namun sang bibi segera menghentikan niat keponakannya itu.

 

“Aku tidak pernah memaksa orang untuk percaya.”

 

“Aku tidak akan pernah sudi berjodoh dengan si tiang listrik tengil menyebalkan ini,” desis Neulmi, tidak terima dengan ramalan Madam Lee.

 

“Memangnya aku sudi? Dasar poni dora.”

 

“Ayolah Nicole, kita keluar dari sini!” Neulmi menarik tangan Nicole. Ia benar-benar kesal.

 

“Tapi ramalanku belum selesa-”

 

Kkajja!!”

 

Neulmi berdiri dan menarik Nicole keluar dari stand ramalan. Nicole terpaksa mengikuti Neulmi karena ia khawatir melihat wajah Neulmi yang memerah karena kesal, begitu juga Kibum yang terpaksa mengikuti kekasihnya itu keluar.

 

Minho berdiri dan menatap Madam Lee tajam, “dasar pembual.”

 

Madam Lee hanya tersenyum misterius, “kau bisa lihat sendiri besok.”

 

.

.

.

 

“Dia gila.”

 

“Ramalannya lebih gila lagi,” Neulmi menanggapi sementara Nicole dan Kibum tidak berani berkomentar apa-apa. Sepasang mata Minho menyala marah, terlihat benar-benar kesal, sedangkan sepasang bibir Neulmi mengerucut.

 

“Err.. tidak bisakah kalian lupakan saja ramalan tad—“

 

“TENTU SAJA TIDAK BISA!” Minho dan Neulmi menjawab bersamaan, membuat Kibum yang tadi hendak mengeluarkan pendapat langsung membungkam mulutnya, disambut oleh sikutan dari Nicole.

 

Keempat anak manusia itu diam saja. Keempat pasang mata itu menonton keriuhan penonton di hall dari kejauhan. Musik yang biasanya terdengar keras di setiap penampilan CN Blue kini terdengar agak sedikit mendayu, membuat Neulmi teringat sesuatu.

 

“Omo! Omo omo omo!” Neulmi berteriak kencang dan menggoyang lengan Nicole dengan cepat, “aku sudah berjanji akan menonton penampilan CN Blue! Astaga!” Tanpa dikomando, Neulmi segera menarik lengan Nicole, membuat Nicole kebingungan sembari melambai pada kekasihnya.

 

“Si Han Neulmi itu freak. Dasar gadis aneh,” Minho mendengus lalu menarik Kibum, “kkajja. Kita ke hall saja.”

 

Kibum yang dasarnya juga ikut bingung, jadi mengekori Minho menuju hall. Tidak menyadari bahwa Madam Lee tersenyum penuh misterius dari balik tirai peramalnya.

 

.

.

.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s