Amor Curse [Part I]

Image

Casts: Choi Minho (SHINee), Han Neulmi (OC), Lee Jonghyun (CN Blue), Kwon Yuri (SNSD), and others | Genre: Romance, AU | Rate: PG-15 | Length: Chapters 

Disclaimer: I do own the words, Neulmi, and Minho. Inspired by Karla .M. Nashar’s Love, Hocus, Pocus. Poster is made by superdaebakdreamer. Plagiarism is strictly unallowed.

Amor Curse

© – Nisaiueo / 2013

– Part I –

Mwoya?! Stand peramal?!”

Tanpa sadar, ucapan kaget dengan nada tinggi itu datang bersamaan dari dua bibir yang berbeda di dalam satu ruangan —ruang organisasi badan siswa SMA Shinhwa. Salah satunya keluar dari sepasang bibir milik Han Neulmi, koordinator bidang kreatifitas siswa, dan lainnya keluar dari bibir milik Choi Minho, sang wakil ketua badan siswa.

Para anggota badan siswa yang lain tidak bisa mempercayai apa yang baru telinga mereka tangkap.

Han Neulmi dan Choi Minho berbicara dengan kalimat yang sama, ekspresi yang sama, dan intensitas tinggi nada yang sama.

Han Neulmi dan Choi Minho, lho. Garis bawahi dua nama itu.

“Oh.. Daebak,” gumam seorang anggota badan siswa lain —Son Dongwoon yang bergumam senang di bangkunya. Memang sudah terkenal bahwa ia adalah Neulmi – Minho shipper. Tidak tahu apa motivasinya, tapi pria berwajah timur tengah itu sangat senang dan sangat yakin bahwa sesungguhnya kedua insan itu ditakdirkan untuk menjadi pasangan (dan fakta ini dibantah habis-habisan oleh Neulmi dan Minho karena keduanya sudah memiliki pasangan saat ini).

Daebak mwoya?!”

Sekali lagi. Kedua makhluk berbeda jenis kelamin itu kembali berbicara dengan kalimat yang sama, ekspresi yang sama, dan intensitas nada yang sama.

Kali ini, bukan hanya Dongwoon yang bergumam kesenangan. Anggota badan siswa lain ikut terkekeh geli, bahkan Dongwoon menepuk kedua tangannya bahagia.

Memang selalu ada dua suara yang menyuarakan beda pendapat di setiap rapat, dua suara dominan yang selalu bertengkar sampai titik darah penghabisan. Harus Seo Joohyun, sang ketua badan siswa yang turun langsung menghentikan keduanya.

Kali ini, Joohyun mengetukkan penggaris besi andalannya ke atas permukaan meja kayu guna mengembalikan fokus para peserta rapat dari peristiwa Neulmi — Minho yang entah ada angin apa bisa satu pertanyaan. Jika di rapat sebelumnya mereka bertengkar membicarakan tanggal acara yang harus diundur, maka keduanya kali ini menyuarakan keberatan mereka akan adanya stand peramal.

“Peramal? Oh c’mon Joohyun! Kita hidup di tahun  2012! Yang benar saja~!” Minho mendengus sambil melipat kedua tangannya.

“Joohyun-ah, kau pertimbangkan lagi deh pemikiranmu itu,” Neulmi menyuarakan ketidaksetujuannya dengan memasang wajah memelas pada sang ketua alias penanggung jawab umum acara.

“Malam penggalangan dana untuk amal tahun ini harus lebih sukses dari tahun kemarin karena kita sudah menjanjikan dana kepada lebih banyak panti asuhan dan panti jompo, Neulmi,” respon Joohyun atas ketidaksetujuan Neulmi. Gadis berambut sepunggung itu lantas menoleh ke arah Minho, “memangnya kenapa kalau kita hidup di tahun 2012? Toh ramalan bintang di majalah remaja masih punya banyak peminat.”

Joohyun menatap sepasang demi pasang mata para anggotanya dengan seksama, “Lee Minyoung mengatakan bahwa bibinya bersedia untuk meramal tanpa dibayar. Uang yang masuk dari stand ramal itu sepenuhnya akan masuk ke dana amal kita,” Joohyun lalu menoleh ke arah Park Chorong, sang bendahara, “berapa ekspetasi pemasukan dana untuk amal jika stand ramal itu tetap diadakan?”

“Dua kali lipat dari ekspetasi pemasukan dana tanpa stand peramal,” jawab Chorong usai membuka buku kas-nya, membuat Minho dan Neulmi masing-masing menghembuskan nafas berat.

Joohyun menatap anggotanya, “selain Neulmi dan Minho, ada yang keberatan dengan stand peramal?”

Tidak ada yang menjawab atau sekedar mengangkat tangan. Semuanya tampak setuju, bahkan Dongwoon mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Neulmi, Minho, atau kalian punya ide sendiri untuk mendapatkan dana dua kali lipat jika kita tidak mengadakan stand peramal?”

Neulmi dan Minho menggeleng bersamaan dan hanya bisa menggerutu dalam hati.

.

“Asik banget ada peramal! Aaaaa pokoknya kalau fix ada, kau harus bantu aku supaya aku bisa dapat antrian paling depan! Oke? Kau kan panitia!” Nicole —gadis berambut cokelat dengan tanda lahir manis di bawah dagunya— menarik-narik tangan Neulmi yang sedang memakan ramyeon-nya dengan khidmat.

“Aaaah apaan sih?!” Neulmi merengut usai menelan ramyeon-nya, “norak tahu, nggak? No — rak!”

“Norak apanya!” Nicole menjitak kepala sahabatnya itu pelan, “aku mau diramal kalau-kalau aku dan Kibum ada masalah.. omo! Andwae!” Nicole jadi heboh sendiri, “tidak —tidak! Aku mau diramal bagaimana kehidupanku setelah lulus SMA.. apa Kibum akan melamarku? Atau aku akan menikahi Lee Dongwook oppa?”

“Berhentilah bermimpi!” Neulmi meminum air mineralnya tanda ia telah menyelesaikan ritual makan siangnnya.

“Memangnya siapa yang akan meramal?” tanya Nicole antusias.

Neulmi mengarahkan dagunya ke arah pusat taman sekolah, di mana seorang gadis berambut pendek sedagu berwarna cokelat gelap tengah menggelar terpal hitamnya, lalu menyebar kartu-kartu tarotnya, dan taraaaa bagai sekumpulan lebah mengerubungi bunga yang begitu manis, beberapa siswa-siswi mengerubungi gadis itu. Meminta diramal sesuai kartu tarot mereka.

“Lee Minyoung kelas 3-1?!”

Neulmi mendesah pelan, “anniyo~ tapi bibinya Minyoung. Aish~ molla.”

Nicole menyeruput ttalgi ice-nya lalu menyikut Neulmi, “ngomong-ngomong, bagaimana dengan perkembanganmu dan Lee Jonghyun sunbaenim? Ada kemajuan tidak?”

“Ah~,” Neulmi merengut, “entahlah. Sampai sekarang kami masih seperti kakak dan adik. Mungkin aku memang seorang adik baginya.”

Ya~ babo~ jangan berpikiran seperti itu dulu!” Nicole menjitak kepala Neulmi (lagi), “kau harus terus berusaha!”

Neulmi menelungkupkan kedua tangannya di atas meja dan meletakkan kepalanya di atas tangan, “Jonghyun oppa itu anak band, kau tahu mantan pacarnya di SMA Kangnam? Im Yoona! Dia itu model online shop terkenal, kau tahu? Mana mungkin Jonghyun oppa menyukaiku? Dia membantuku jelas karena dia menganggapku sebagai adik!”

“Berpikir positif sedikit kan tidak ada salahnya, Neulmi,” Nicole menatap sahabatnya prihatin. Matanya lantas menangkap sesosok pria yang berjalan ke arahnya dengan semangat, “eo! Jagiya!”

 

Neulmi menoleh dan mendapati sosok Kim Kibum yang berambut cokelat berjalan ke meja mereka, “ya Tuhan -_-”

Nicole melambaikan tangannya dengan semangat, sementara Kibum seakan tidak sabar menghampiri pacarnya, meninggalkan sesosok pria lain yang jengah melihat Kibum dan Nicole.

Aish~,” dengus Neulmi melihat sosok Minho yang ikut mengekor di belakang Kibum, “kau lagi kau lagi!”

Minho menatap gadis berambut cokelat dengan poni rata di depannya itu dengan tatapan bosan, lalu menoleh pada Nicole yang sudah bertaut jemari dengan Kibum, “Ya~ Nicole Jung, bisa tidak sekali-kali kau lepas dari si poni dora ini? Aku bosan kalau menemani Kibum bertemu denganmu harus bertemu dia.”

YA!” teriak Neulmi menendang kaki Minho, “harusnya kau yang lepas dari Kibum! Aku bosan melihat curut sepertimu setiap bertemu Kibum! Dasar tongkat berjalan!”

“Apa katamu? Dasar pendek!”

“Aku tidak pendek! 165 sentimeter kau bilang pendek?!”

“Pendek!”

“TIDAK!”

Kini gantian, giliran Nicole dan Kibum menatap dua manusia yang beradu mulut itu dengan tatapan jengah.

.

.

.

Semua sudah tau kalau Choi Minho dan Han Neulmi itu adalah dua insan berbeda jenis kelamin yang paling sering ribut di sekolah. Dari mereka masa orientasi sampai menginjak bangku tahun ketiga SMA. Ada saja yang diributkan mereka mulai dari perebutan peringkat, bangku di kafetaria, sampai debat masalah organisasi intra sekolah mereka yang disebut badan siswa.

Maka dari itu, banyak yang mengira bahwa mereka sebenarnya jodoh. Apalagi Son Dongwoon. Ia —entah karena memang sok tahu atau bagaimana— berpendapat bahwa Minho dan Neulmi itu berjodoh, hanya saja mereka belum bertemu garis takdir yang kelak mempersatukan mereka (-____-).

Dongwoon berpendapat bahwa garis benci dan cinta di antara Minho dan Neulmi itu tipis, dan ia yakin benar akan prediksinya. Maka dari itu, ia membuat nama Neulmi – Minho shippers dan berusaha mendapatkan anggota yang sekiranya menyukai pasangan itu —walau Dongwoon sudah berkali-kali kena damprat oleh Neulmi dan Minho.

Terlebih mereka satu organisasi, membuat Seo Joohyun, sang ketua umum dilanda frustasi melihat rapat yang dipimpinnya terbelah menjadi dua kubu. Kubu para gadis yang memihak Minho, dan kubu para pria yang memihak Neulmi. Walau kadang, ia sependapat dengan Dongwoon bahwa sesungguhnya, Minho dan Neulmi itu saling melengkapi.

Minho adalah putra bungsu di keluarganya, sedangkan Neulmi adalah putri sulung di keluarganya. Minho jago olahraga apapun, sedangkan Neulmi angkat tangan soal olahraga. Minho menyukai pelajaran eksak, sementara Neulmi menyukai pelajaran bahasa. Minho tidak pandai berbahasa Inggris, namun Neulmi pandai berbahasa Inggris dengan fasih. Minho lebih otoriter, sedangkan Neulmi lebih demokratis.

Karena sering bertengkar, Neulmi —kalau sudah kesal— memberi embel-embel ejekan di belakang nama Minho, begitu juga sebaliknya. Sampai-sampai (lagi-lagi) Dongwoon berpendapat bahwa kelak itu akan menjadi panggilan sayang mereka (dan dibalas “huek!” oleh yang bersangkutan).

.

.

.

Sudah kesekian kali Minho melirik jam tangan Adidas hitam yang melingkari pergelangan tangannya. Ia menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, berharap sosok yang ditunggunya segera datang. Ia bahkan sudah menghabiskan dua cangkir kopi susu, namun wanita yang ditunggunya tak kunjung datang.

Minho melirik layar telepon genggamnya tanpa minat. Masih tidak ada panggilan, atau sekedar pesan konfirmasi bahwa ia pasti akan datang.

Lama-lama ia merasa bodoh telah menunggu wanita itu tanpa kepastian. Diliriknya lagi waktu yang sudah menunjukkan pukul lima sore. Merasa yakin ia telah dibodohi, Minho beranjak, bersiap meninggalkan kedai itu.

“Minho-ya.

Sebuah suara wanita yang amat ia kenal menelusuk ke dalam indra pendengarannya, membuat tubuhnya berbalik.

“Noona.”

.

.

.

“Aku tahu bahwa noona sangat sibuk. Aku tidak berharap kau bisa datang ke sini.”

Wanita di depan Minho menggelengkan kepalanya dengan begitu anggun sambil menyeruput machiato-nya walau raut letih tergambar dari wajahnya yang menggambarkan usianya di awal dua puluhan. Rambut panjang hitamnya terurai begitu indah, menambah poin kecantikannya yang membuat iri pengunjung wanita di kedai tersebut.

“Selalu ada waktu untukmu, Minho-ya.

“Yuri noona,” Minho perlahan memegang tangan wanita itu, “kita sudah dua tahun seperti ini. Aku ingin kepastian darimu.”

Wanita bernama Kwon Yuri itu menghela nafasnya pelan, “kau dan aku masih sangat muda untuk membicarakan hal  yang kau bahas lewat Kakao tadi malam.”

Minho melepas tangannya dari Yuri, menatap wanita itu dalam kekecewaan, “kau menolakku, noona?

“Tidak —bukan begitu,” Yuri menggeleng tegas dan meraih tangan Minho, menggenggam tangan pria itu tanpa ragu sedikitpun walau Minho masih mengenakan seragam SMA sedangkan ia sudah mengenakan jas almamater Universitas Konkuk, “kau belum lulus SMA, dan cita-citaku belum tercapai. Kau tahu mimpiku, Minho. Aku ingin mewujudkan cita-citaku sebagai penari.  Dan aku masih ingin melihatmu kelak sukses sebagai arsitek.”

“Kita bisa mewujudkannya usai bertunangan, noona,” balas Minho, “tidak bisakah? Aku tidak memintamu untuk menikahiku.”

“Hubungan ini tidak semudah yang kau pikirkan, Minho,” Yuri mencoba membuat lelaki muda di  depannya ini mengerti, “kita perlu pemikiran yang matang sebelum berjalan terlalu jauh. Aku tidak ingin kita berdua jatuh ke lubang yang salah nantinya.”

“Aku ingin,” balas Minho cepat mengeratkan genggamannya pada Yuri, “selama kau jatuh bersamaku.”

.

.

.

Sore itu, Neulmi tengah menikmati drama kesukaannya di layar televisi. Aktris Nam Gyuri tampak sangat menghayati perannya sebagai wanita yang koma, sehingga jiwanya harus masuk ke dalam tubuh wanita lain, membuat Neulmi ikut terharu menontonnya.

“Taekyung!!! Turun sekarang!!!!” suara teriakan yang Neulmi kenali sebagai suara ibunya menggema di rumah berlantai satu itu. Suara berasal dari dapur belakang, namun Neulmi yang berada di ruang depan dapat mendengarnya dengan jelas —kekuatan seorang ibu dalam meneriaki anaknya memang tidak bisa diragukan.

“HAN TAEKYUNG KUSURUH KAU KE SINI!!! PPALI!!

Neulmi yang tidak bisa mendengar teriakan ibunya terlalu lama itu segera bangkit dan membuka pintu kamar adik lelakinya yang terletak di sudut rumah.

Ya babo~ apa kau tuli? Ibu memanggilmu berkali-kali!” teriak Neulmi pada adik laki-lakinya, namun sang adik tidak mendengarkannya karena asyik bermain game di komputer dengan headset meggantung di kepalanya.

YA!” teriak Neulmi mencopot headset adiknya dengan paksa, dan segera dibalas oleh rengekan adiknya yang lebih muda darinya empat tahun itu.

YA NOONA! MWOYA?!”

 

Ibu memanggilmu! Cepat hampiri dia!”

Shirheo~,” jawab bocah lelaki yang berambut jabrik berwarna hitam itu —berhasil merebut headset dari tangan kakaknya, “aku sedang ngambek dengan Ibu. Ia tidak mau membelikanku game terbaru. Shirheo.”

YA!!” teriak Neulmi kesal nyaris menjitak kepala adiknya, namun sang Ibu segera menghentikan mereka berdua.

Jika Han Neulmi dan Han Taekyung sudah bertengkar, maka akan ada pemicu Perang Dunia ke III di kediaman keluarga Han.

.

.

.

Ne, aku pergi dulu, ahjumma. Annyeong haseyo!

Neulmi melangkah pergi dari rumah bercat cokelat itu usai mengantarkan titipan ibunya sambil membawa sebuah baskom berukuran sedang berwarna biru yang tertutup kain di tangannya. Bau bekas kimchi yang tadi menghuni baskom itu sudah tidak lagi mendera indra penciumannya karena Nyonya Park sudah membilas baskom tersebut dengan bersih.

Kimchi itu tadi adalah makanan untuk Nyonya Park, tetangga sebelah. Ibunya memang senang memberi makanan kepada sesama tetangganya, tidak peduli akan diberi kembali atau tidak.

Kita harus berbaik hati pada tetangga, Neulmi-ya. Jika kau memerlukan sesuatu, tetanggalah manusia pertama yang dapat kau mintai bantuan. Jangan pernah pelit kepada tetanggamu. Kau mengerti?

 

Itulah yang selalu dipatahkan ibunya setiap Neulmi bertanya mengapa sang Ibu dengan sukarela memberikan makanan —walau tidak istimewa— kepada tetangga-tetangga mereka.

Adik lelakinya, Taekyung, bersikukuh tidak ingin membantu ibunya, sedangkan adik perempuannya, Yeonrin, masih pergi kursus bahasa di pusat distrik dan baru pulang malam nanti, dijemput oleh ayah mereka.

Neulmi baru saja hendak membuka pagar rumahnya ketika ia mendengar sebuah suara pria memanggil namanya.

“Neulmi!”

Neulmi menoleh dan mendapati sesosok pria berambut hitam yang tengah memegang gitar itu melambai padanya dari teras rumah tetangga seberang. Membuat gadis itu perlahan tersenyum lebar.

.

.

.

“Band-ku ditolak dapur rekaman lagi.”

Neulmi menatap pria di sampingnya simpati. Telapak tangannya gatal ingin menepuk dan mengelus bahu Lee Jonghyun, namun ia tidak bisa. Ia takut kelepasan dan dianggap kurang ajar. Akhirnya Neulmi hanya bisa menggoyangkan tali ayunan yang ia duduki bersama Jonghyun di taman dekat rumah mereka.

“Kegagalan adalah awal dari kesuksesan, oppa,” jawab Neulmi sambil mencari bahan pembicaraan yang baik, “lagipula kau kan akan tampil di malam penggalangan dana sekolahku. Para sponsor yang melihat band-mu pasti akan tertarik! Jangan patah semangat begitu!”

Jonghyun tersenyum, “gomawo. Kau memang selalu bisa membuatku bersemangat lagi, Neulmi-ya.

“Ngomong-ngomong, bagaimana kuliahmu, oppa?”

Ia menoleh ke arah Neulmi, lalu kemudian mengalihkan pandangannya ke gitar Ibanez classic-nya lagi, “berjalan baik, karena aku ingin segera menyelesaikan kuliah hukum sebelum pindah ke departemen seni.”

“Whoa~ setidaknya kau siswa SNU, oppa. Seoul National University!”

“Kau juga akan menjadi mahasiswa di sana, Neulmi,” Jonghyun tersenyum dan menepuk kepala Neulmi dengan sayang, “kau harus persiapkan dengan baik semuanya. Apa yang akan kau ambil di sana? Sudah menentukan jurusan?”

“Eo!” Neulmi mengangguk antusias, “aku ingin mengambil sastra inggris.”

Jonghyun menatap gadis di depannya dengan tertarik, “sastra inggris? Bukankah kau mau mengambil departemen seni?”

“Mana boleh begitu,” Neulmi merengut, “oppa kan tahu, ayahku seperti apa. Lagipula tidak ada darah seni di keluargaku. Bisa-bisa aku ditertawakan kalau suatu saat disuruh menyanyi di depan umum.”

Jonghyun tertawa dan membetulkan senar-senar gitarnya, sementara Neulmi hanya senyum mesem-mesem tidak jelas sambil berusaha merapikan poninya. Ia baru sadar kalau ia sangat kacau sore ini. Ia belum mandi sore, ditambah rambutnya kucel sekali karena terlalu lama dikuncir, dan baju rumah yang dipakainya jauh dari kata layak.

“Kau tahu lagu Lucky?” tanya Jonghyun usai membetulkan senar-senarnya.

“Jason Mraz?” tanya Neulmi balik.

Jonghyun mengangguk, “ne. Ayo bernyanyi untukku.”

“Bernyanyi untuk oppa?” tanya Neulmi mengulang titah Jonghyun, dan segera menggeleng keras, “shirheoyo~ suaraku jelek sekali. Lebih jelek dari suara kadal.”

Jonghyun terkekeh pelan sambil menyentil dahi Neulmi, “ayo coba dulu. Hibur aku sekali-sekali.”

Neulmi tampak menimbang-nimbang, namun Jonghyun sudah lebih dulu menyanyikan bagian awal dari lagu tersebut, membuat Neulmi mau tidak mau meneruskan nyanyian lagu berbahasa Inggris itu.

Walau ia tidak memiliki darah selain Korea, pengucapan bahasa Inggrisnya patut ia banggakan karena ia menyukai bahasa itu.

Lucky I’m in love with my best friend.

Lucky to have been where I have been.

Lucky to becoming home again.

 

.

.

.

Bagi Neulmi, Lee Jonghyun adalah sosok idolanya.

Pria yang lebih tua darinya satu tahun itu adalah kakak kelasnya saat SMA, terlepas dari fakta bahwa ia tinggal di rumah tepat di depan rumah Neulmi. Ia anak tunggal, yang tinggal bersama ayah dan ibunya yang sering sekali berpergian ke luar kota, meninggalkannya sendiri bersama gitar kesayangannya.

Ia dan Neulmi bertemu di depan rumah Jonghyun saat Neulmi baru pindah ke lingkungan itu —sekitar Neulmi kelas tiga SMP. Neulmi diamanahkan Ibunya untuk memberikan sepiring kimbap kepada tetangga depan yang jarang sekali terlihat batang hidungnya.

Neulmi tak menyangka bahwa tetangga depannya adalah pria cuek yang sangat tampan (ini pendapat Neulmi, lain pendapat Nicole yang mengatakan bahwa Jonghyun biasa saja -_-). Awalnya Jonghyun tidak dekat dengan Neulmi, sebelum Neulmi masuk ke SMA yang sama dengannya.

Neulmi yang begitu ceroboh, melukainya pergelangan kakinya sendiri saat acara lari bersama di kegiatan masa orientasi siswa.  Dari situlah, Jonghyun mengobatinya dan menawarkan diri untuk mengantarkan Neulmi pulang dengan motornya (tidak, sebenarnya, dari lintasan lari, Jonghyun menggendong Neulmi di punggung sampai ke parkiran sekolah, baru mengantar pulang dengan motornya), dan mereka dua jadi dekat seperti kakak dan adik.

Kakak dan adik —batin Neulmi sambil menelan ludah. Ia tidak akan pernah lebih dari seorang adik bagi Jonghyun.

.

.

.

“Lagipula kau ini seperti sudah mapan saja pakai acara pertunangan-pertunangan!”

Minho menghiraukan ucapan Kibum sambil terus menekan tombol-tombol di joystick Play Station 3-nya, menggerakkan Lionel Messi menuju arah gawang, dan menekan tombol X sekuat yang ia bisa untuk mencetak gol, namun ia gagal.

“AISH!” Minho membanting joystick-nya, membuat Kibum yang asyik dengan iPod-nya menoleh ke arah Minho.

“Lagipula kenapa sih kau sangat mencintai Yuri noona?” tanya Kibum, tidak habis pikir dengan sahabatnya itu, “kau dan dia itu terpaut dua tahun lho.”

“Masa bodoh,” balas Minho bangkit dan membanting tubuh tingginya ke atas kasurnya, “aku mencintai dia dan dia mencintaiku.”

Kibum menggelengkan kepalanya, “kau bahkan bisa mengencani Jung Soojung, anak kelas 1 yang cantik keturunan bule itu. Kau juga bisa mengencani Goo Hara kelas 3-3 yang seperti boneka. Kenapa kau harus mati-matian mengajak seorang noona untuk bertunangan?”

Minho tidak menjawab, namun hanya memejamkan matanya.

“Jangan bilang kau akan mengajaknya menikah sebentar lagi?!”

“Empat tahun lagi,” jawab Minho, “begitu lulus kuliah, aku akan melamarnya.”

‘Kau sinting,” dengus Kibum, “kau bahkan belum mengikuti wajib militer!”

“Apa kau tidak mengerti?!” tanya Minho sambil membuka matanya, menatap tajam sahabatnya dari SMP itu, “kau tahu sendiri kalau aku tidak mau meninggalkannya!”

Pikiran Minho melanglangbuana jauh melintasi tahun demi tahun. Kilas balik memorinya itu berhenti saat Minho duduk di bangku kelas tiga SMP.

Kwon Yuri, saat itu sudah duduk di bangku kelas dua SMA. Perempuan yang sangat manis dengan kulit putih kecokelatannya. Perempuan yang sangat anggun dengan senyumnya, namun cekatan seperti seekor cheetah.

Sangat tipe ideal Minho.

Ia masih ingat detik demi detik pertemuannya dengan Yuri terjadi di kereta bawah tanah, saat keduanya sama-sama berdiri di tengah padatnya gerbong kereta. Minho menyelamatkan Yuri dari seorang pencopet.

Usai berterima kasih, Yuri memperkenalkan namanya, begitu juga dengan Minho. Lalu mereka bercengkrama, berawal menanyakan sekolah yang ternyata masih satu yayasan, berlanjut ke hal-hal yang Minho tidak pernah menyangka bahwa seorang gadis SMA dapat mengetahuinya, seperti nuklir yang dirahasiakan Korea Utara, atau piagam penghargaan PBB.

Sejak saat itu, Minho tidak akan melepaskan Yuri begitu saja.

Minho lantas menarik nafas panjang sebelum bergumam, “aku sangat mencintainya, Kibum.”

.

.

.

– to be continued –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s