A Day For Neulmi [Part 1/?]

Casts:

  • Han Neulmi
  • Lee Jinki
  • Choi Minho

Rate: PG – 15

Genre: Romande, AU

Category: Chaptered

Disclaimer: Inspired by a film titled Hari Untuk Amanda.

A Day For Neulmi  [Part I]

Nisauieo © – 2012

~

“Han Neulmi…”

“Would you marry me?”

Neulmi tidak bisa mempercayai apa yang terjadi saat ini pada dirinya. Seorang Choi Minho, salah satu most wanted bachelor in Korea melamarnya! Memintanya untuk menjadi istrinya! Menjadi Nyonya Choi!

Ia tidak menyangka bahwa malam ini adalah malam penantian panjangnya usai menjalin kasih dengan pengusaha muda itu selama satu tahun.

Di depannya, sosok Minho –yang begitu sempurna dengan balutan tuksedo berwarna serba putih– berlutut, mengangsurkan sebuah cincin yang bersemayam di sebuah kotak kecil berwarna putih berbeludru halus. Neulmi mengamati cincin itu dan Minho bergantian.

Cincin itu.. sangat cantik. Berbahan emas putih asli yang begitu mengilat  di bawah temaram sinar rembulan, dengan batu safir berwarna biru langit sebagai matanya.

“Minho..”

I ask you once again,” Minho menarik nafas pelan dan tersenyum, “Han Neulmi, would you marry me?”

Di pikiran Neulmi, berputar-putar untaian kalimat romantis untuk menjawab lamaran Minho –seperti yang ia biasa lihat di layar kaca atau layar bioskop–, mungkin ia bisa menjawab lamaran Minho dengan kalimat romantis, seperti ‘demi bumi dan lautan yang begitu indah diciptakan Tuhan, I would. I really would’. Namun dalam kenyataannya, Neulmi tidak pandai mengatakan langsung untaian kata yang biasa ia rangkai.

Sebagai jawabannya, Neulmi mengangguk. Pipinya yang memang sudah merona, semakin merona lagi. Menunjukkan warna merah yang begitu jelas tercetak di kedua pipinya yang putih.

Minho berdiri, mengeluarkan cincin itu dari kotak kecilnya, dan memasukkan cincin tersebut di salah satu jari Neulmi. Begitu pas. Seakan memang cincin itu diciptakan untuk Neulmi.

Thank you…,” Minho memeluk Neulmi.

Sekali lagi, Neulmi begitu pas di dalam pelukannya. Seakan gadis itu memang diciptakan Tuhan untuknya.

Neulmi membalas pelukan Minho.

Ia begitu bahagia malam ini.

I love you,” Minho melepas pelukannya dan menatap kedua manik mata Neulmi, sambil menepiskan helaian rambut Neulmi ke belakang daun telinga gadis itu.

Sepersekian detik kemudian, Minho mendaratkan ciumannya di bibir Neulmi. Merengkuh Neulmi semakin dalam di pelukannya, mengecup manis stroberi di bibir gadis itu.

Bintang-bintang bersinar indah, menemani sang rembulan yang seakan ikut berbahagia atas pasangan yang tengah saling menukar cinta di lantai teratas gedung Choi Corporation. Langit malam juga begitu syahdu menjadi latar belakang dikaitkannya jalinan cinta mereka berdua.

Tapi layar cerita belum ditutup.

Karena ini barulah awal mula dari semuanya…

  ~

Hi, Ex.

Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau di luar servis area. Cobalah beberapa saat lagi atau tinggalkan pesan usai mendengar nada –.

Neulmi tidak perlu mendengar rentetan panjang sang mesin operator, dan langsung mengakhiri panggilan itu dengan menekan layar sentuh iPhone-nya dengan sedikit kuat.

Dammit,” umpat Neulmi pelan, dan frustasi, “terus saja tidak aktif! Like I care!”

Neulmi mendengus kesal sambil berusaha kembali fokus pada pekerjaannya dengan mengetuk-ngetukkan jarinya di kursor Mac Book tak karuan. Pikirannya campur aduk. Mulai dari kesal, sedih, hingga marah. Bagaimana tidak? Ini sudah ketiga kalinya Minho tidak dapat dihubungi!

Neulmi lalu menekan extension 232 pada telepon yang terdapat di kubikel tempatnya bekerja dan begitu tersembung ia segera mengatakan apa yang ia inginkan.

“Han Neulmi igeoyeo. Tolong pesankan saya bento di restoran Jepang depan. Sama ocha-nya satu ya. Bawa ke sini. Komaseubmnida.”

Usai yang dihubunginya mengatakan iya, Neulmi menutup telepon sambil menatap layar Mac Book-nya yang tengah menampilkan transkrip hasil wawancara yang dilakukan bagian reporter dengan Miss Korea kemarin malam.

Sepersekianmenit kemudian, Neulmi mendapati iPhone-nya bergetar kecil, tanda ada sebuah pesan masuk. Neulmi mengangkat smartphone-nya itu dengan sigap, berharap Minho mengiriminya pesan, namun pesan yang datang bukan dari Minho, melainkan dari orang lain.

From: +82xxxx

Nona Han Neulmi, gaun pernikahan anda beserta calon suami anda sudah selesai kami kerjakan. Hari ini pada pukul empat bisa fitting?

Neulmi melirik jam tangan swatch yang melingkari pergelangan tangan kirinya. Sudah pukul setengah empat sore. Matahari sudah tidak seterik siang, dan bersiap akan kembali ke peraduannya dua jam lagi. Neulmi pun yakin sebentar lagi, jam pulang kerja akan selesai, dan mungkin Minho bisa menjemputnya di kantor, lalu calon suaminya itu akan mengajaknya makan malam usai fitting gaun pengantin –.

Nado lovey dovey oh oh oh oh~ lovey dovey oh oh oh oh~

Neulmi terkejut saat ia mendapati smartphone-nya bergetar lebih kencang dan lama, disertai nada reffrain dari ringtone-nya. Neulmi melongokkan kepalanya ke atas layar dan mendapati sebuah nama.

Choi Minho~ calling

I win,” gumam Neulmi sambil menekan tombol hijau di layar sentuhnya, “halo sa –”

“Kamu nelpon aku, Neulmi? Maaf sayang, aku tadi habis meeting dengan pemegang saham. Oh ya, ada perlu apa?”

Mendengar rentetan pertanyaan Minho ditambah suara berisik di belakangnya, mood Neulmi turun drastis. Memangnya harus ada perlu untuk menelepon calon suaminya sendiri?

“Tadi aku mau ngajak makan siang, tapi tadi handphone kamu nggak aktif,” jawab Neulmi menutup lid Mac Booknya, “masih sibuk?”

“Ah, ya, gitulah. Ada kesalahpahaman kecil di antara para pemegang saham. Lagi agak ribet,” jawab Minho, “kamu udah makan, kan?”

Neulmi mengangguk. Namun sesaat ia merasa bodoh. Mana mungkin Minho melihatnya menganggukkan kepala?

“Udah. Oh iya, asisten desainer Kim sms tadi, baju pengantin kita sudah jadi. Kamu bisa kan nyempetin waktu untuk fitting sore ini?”

Terdengar suara berisik di teleponnya, membuat Neulmi menghela nafasnya berat.

Another crowd where her husband-soon-to-be-is.

Sorry, lurve. I’d love to fitting the tuxedo, but I don’t think i have time today..,” terdengar suara Minho amat sangat merasa menyesal, “bisa kita undur fitting bajunya? Mungkin, besok?”

“Besok aku mau nganter invitation,” jawab Neulmi mengelus dadanya penuh sabar. Ia memang harus banyak bersabar memiliki calon suami pewaris perusahaan besar yang super duper sibuk macam Choi Minho.

“Kalau begitu, habis fitting, kita anter invitation,” masih terdengar suara Minho yang khas, “habis itu kita dinner. How is it?”

Selalu ada cara bagi Minho untuk meluluhkan hati Neulmi. Sudah seratus lima puluh sembilan kali rasanya Minho berhasil meluluhkan kekesalannya.

Fine. I’ll tell them to cancel the fitting,” Neulmi mencoba tersenyum.

Kemudian terdengar suara perempuan samar-samar yang Neulmi taksir adalah suara Im Jinah –sekretaris Minho yang Neulmi kenal baik sebagai tunangan Kim Jonghyun, sahabat Minho yang dikenalkan kepada Neulmi beberapa waktu lalu, “Tuan Choi meminta Anda menemuinya sekarang. Urgent, Tuan.”

Terdengar helaan nafas Minho di seberang, lalu ia kemudian berkata pada Neulmi, “I gotta go. So, I guess we meet each other tomorrow at 2PM, k?”

Neulmi tidak menjawab, namun Minho kemudian berkata lagi, “Take care of yourself well. I love you.”

Neulmi cuma bisa diam saat Minho memutuskan telepon terlebih dahulu.

Ah –Neulmi meletakkan kepalanya lemas terkulai di atas meja kerjanya. Lagi-lagi prioritas persiapan pernikahan mereka diletakkan di posisi sekian.

~

“Emang susah punya calon suami pengusaha. Ke sana ke sini, nanti tahu-tahu calon istrinya kabur, tahu rasa deh!” dumel Sunhwa saat kakak perempuannya itu masuk ke kamarnya tanpa izin. Ia memang senang adik perempuannya menikah dengan salah satu bujangan kaya yang diinginkan delapan puluh persen wanita di Korea, tapi kalau sudah mendengar cerita Minho yang mengundur suatu janji seenak jidat, ia kesal juga.

“Ya gimana lagi, Eonn,” Neulmi merespon kakak perempuannya itu tanpa niat, “namanya juga kerja.”

“Iya sih, tapi Junho nggak gitu-gitu amat waktu kita mau nikah,” Sunhwa duduk di samping Neulmi yang tengah memilah-milah wedding invitation-nya yang berjumlah seratus lima puluh lebih di atas ranjang, “padahal waktu itu dia lagi gencar-gencarnya dipromosiin di kantornya. Tapi bisa aja tuh manage persiapan pernikahan kita.”

Minho and Junho oppa are different, Eonn, you know that,” balas Neulmi.

Sunhwa hanya memutar bola matanya dan memandangi nama-nama calon tamu yang tertera di invitation. Sedangkan adiknya tengah ribet mencoret-coret nama calon tamu di kertas miliknya saat telah menyamakan nama tersebut dengan invitation. Maksudnya biar invitation-nya nggak double, dan meminimalisir terjadinya nama calon invitation yang tidak mendapat invitation.

Cuma dikit, Mi, invitationnya?” tanya Sunhwa ingin tahu. Masalahnya, calon adik iparnya kan pengusaha, mana mungkin cuma sedikit tamunya nanti.

“Banyak, eonn. Totalnya ada tujuh ratusan. Tapi lima ratusnya udah dikirim ke kantornya Minho, soalnya itu invitation buat tamunya semua.”

“Berarti dua ratus invitation ini mau lo kirim sendiri?” tanya Sunhwa tidak percaya.

Neulmi tergelak, “enggaklah! Kalo gitu ngapain gue nyewa wedding planner, coba?” gadis itu lalu mengikat rambut cokelatnya yang agak mengganggu sambil melanjutkan ucapannya, “ya kira-kira cuma sepuluh aja yang gue anterin langsung, sekalian silaturahmi. Sisanya paling gue nyuruh wedding planner kirim via kurir.”

Sunhwa geleng-geleng kepala. Adiknya ini walau sudah menyewa wedding planner terbaik di Korea, tetap saja jatohnya capek sendiri –maklum, seorang control freak.

“Kok kayaknya ada yang kurang ya,” tangan Sunhwa merebut list calon tamu pernikahan adiknya dengan cepat, dan meneliti satu persatu nama di sana dengan matanya.

“Heeeh,” Neulmi hendak merebut daftar nama itu dari kakaknya, “lo ngapain sih.. udah balik sana ke apartemen lo, ntar keluarga lo nggak ada yang ngurus makan malem, lagi. Malem-malem malah nangkring di sini.”

“Yeee, sensi banget sih lo. Ini kan rumah emak gue juga. Junyoung sama Junmi lagi liburan di rumah ibunya Junho. Nah laki gue tadi bilang mau ditraktir bosnya yang habis dipromosiin jadi direktur,” cerocos Sunhwa, “aduh mana ya.. kayaknya ada yang kurang deh.”

“Nyari nama siapa, sih? Kakak adek ipar lo udah gue undang semua kok,” ucap Neulmi kalau-kalau kakaknya itu mencari nama dari keluarga suaminya.

“Nggak.. tapi..,” Sunhwa lantas berseru, “NAH! Gue tau siapa yang kurang!”

“Siapa?” tanya Neulmi berhasil merebut kembali daftar tamunya, “gue yakin nggak ada yang kelewat kok.”

Sunhwa menggeleng-gelengkan kepalanya, “LEE JINKI. Lo nggak ngundang dia ke nikahan lo, Mi?”

~

Neulmi memandang langit-langit kamarnya dengan bimbang. Sebuah perasaan gelisah menelusup ke dalam sanubarinya.

Dua minggu lagi, dia akan resmi menjadi Nyonya Choi. Dia akan resmi menjadi bagian dari keluarga socialite itu. Dua minggu lagi, sebuah babak baru kehidupannya akan dimulai.

Neulmi menghela nafasnya perlahan.

Apa menikahi Minho adalah keputusan yang tepat?

Calon suaminya itu sibuk 24/7. Mengurusi inilah, itulah, berbeda dengan Neulmi yang berkerja sebagai editor di sebuah perusahaan majalah yang waktu kerjanya teratur, tidak seperti Minho yang setiap waktu harus stand-by.

Pikiran Neulmi melayang kembali saat Minho melamarnya, dan pikiran itu membuatnya memejamkan matanya sebelum terlelap hingga pagi hari.

~

“Neulmi~!”

Neulmi yang baru selesai mandi menoleh ke arah mamanya yang tengah mempersiapkan sarapan, di samping papanya yang tengah membaca koran, “ya, Ma?”

“Tadi ada yang nganter kotak buat kamu. Mama taruh di atas meja ruang tamu.”

“Bingkisan apa?” tanya Neulmi mengerutkan keningnya.

Nyonya Han mengedikkan bahunya tanda ia tidak tahu, membuat Neulmi akhirnya memaksakan diri berjalan ke ruang tamu. Dilihatnya sebuah kotak yang tampak agak usang, berbentuk persegi panjang yang cukup besar –sebesar kotak sepatu, dan berwarna biru. Sebuah logo adidas tampak tertera di salah satu sisi.

Nggak perlu waktu lama untuk mencerna siapa si pengirim kotak itu. Neulmi tahu persis orang yang memiliki kotak itu.

~

“Masa lo nggak bisa, sih, Eonn?” Neulmi menarik-narik lengan baju Sunhwa yang sedang mengangkat baju kotor ia dan suaminya dari kamar mandi ke belakang. Seperti anak kecil, Neulmi mengikuti Sunhwa ke mana-mana sedari ia datang ke apartemen tempat tinggal kakaknya, kakak iparnya –yang sedang mandi, dan keponakan-keponakannya yang tidak terlihat batang hidungnya karena mereka tengah berlibur ke rumah nenek kakek Lee.

“Nggak bisa, Mi,” Sunhwa menggeleng. Menaruh keranjang berisi baju kotor di atas meja dan berbalik ke arah adiknya yang sudah memasang wajah memelas, “gue sama Junho mau jemput anak-anak hari ini.”

“Besok-besok kan bisa, Eonn,” Neulmi masih memelas, “ayolaaah~ please, I’m begging you awholehartedly nih. Dan lo haru tahu kalau si Jinki tuh ngirim kotak kenangan ke rumah tadi pagi! Nih kotaknya!” Neulmi mengangkat kotak yang daritadi dibawanya dari rumah.

“Besok gue, Junho, sama anak-anak mau piknik ke pantai,” jawab Sunhwa, “kita udah janji sama Junyoung – Junmi buat ke pantai. Minggu depan Junho ada dinas ke Gwangju,” kakaknya itu lantas melanjutkan ucapannya sambil melirik kotak biru yang dibawa Neulmi, “balikin aja itu kotak sekalian ngasih invitation lo. Beres, kan?”

Neulmi merengut. Ia juga sebenarnya tidak enak meminta bantuan pada Sunhwa. Tapi bagaimana lagi?

Yang ia miliki hanya Sunhwa, karena Minho baru bisa menemaninya pukul 2 siang nanti.

“Udah, lo sendiri aja, Mi,” Sunhwa kembali melanjutkan pekerjaannya, “lo kan tau jelas semua alamat yang mau lo kunjungin itu. Lo nggak bakalan nyasar.”

“Ih, tapi, Eonn…

Sunhwa berbalik lagi, kali ini menatap adiknya skeptis, “lo takut berhadapan dengan mantan lo sendirian, ya?”

“Ih, nggak!” seru Neulmi –tidak terima dibilang taku bertemu mantan pacarnya, “nga –ngapain takut?!”

“Yaudah kalo nggak takut, lo pergi gih, sana!” Sunhwa mengusir adiknya itu dengan kekehan geli.

Neulmi hanya pasrah saat Sunhwa mendorongnya keluar pintu apartemen sambil mengedipkan matanya.

~

Did God bless her? Itu yang berputar-putar di kepala Neulmi. Calon tamu yang harus ia antarkan invitation yang berjarak paling dekat dari gedung apartemen Sunhwa adalah Jinki.

Dalam artian lain, rumah Jinki searah dari apartemen Sunhwa, dan searah dengan tujuannya yang lain.

Neulmi menimbang-nimbang sejenak di dalam taksi. Bagaimana jika terakhir saja ia memberikan invitation itu pada Jinki? Jadi ia tidak perlu berlama-lama bertemu pria sipit itu, dengan alasan ia lelah, atau apapunlah begitu.

Namun Neulmi kembali menimbang-nimbang.

Neulmi meremas kesepuluh jarinya dan memejamkan matanya. Ia akan mengikuti kata hatinya.. kata hatinya.. kata hati..

Stop, ahjusshi.”

Neulmi bahkan tidak memercayai dirinya sendiri saat mulutnya berkata sendiri untuk meminta sang supir taksi menghentikan kendaraannya. Dan ia seperti berada di alam bawah sadar saat tubuhnya keluar dari taksi usai mengangsurkan beberapa lembar won.

And, there she is. Berdiri di depan pintu sebuah rumah berlantai satu yang tampak asri dengan halaman cukup luas mengelilinginya.

Shit,” maki Neulmi. Ia tiba-tiba merasa pengecut karena begini takutnya untuk menghadapi Jinki. Oh ayolah, Jinki hanya mantan pacarnya.

Baru saja Neulmi hendak menekan bel pintu, seseorang sudah membukakan terlebih dahulu untuknya.

Beberapa saat yang diperlukan kedua orang yang saling bertatapan itu sampai keduanya menyadari siapa yang berada di depan mereka.

“Neulmi?”

“Jinki?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s