My Step Brother [Part II/?]

Title                 : My Step Brother [Part II/?]

Casts               :

–          Kim Myungsoo/L (Infinite) as Kim Myungsoo

–          Han Neulmi (OC) as Han Neulmi

–          Song Seunghyun (FT Island) as Song Seunghyun

–          ++ Yura (Girls Day) as Kim Yura, Lizzy (After School) as Park Lizzy, Lee Sandeul (B1A4) as Lee Sandeul, Kang Minhyuk (CN Blue) as Kang Minhyuk, Lee Jungshin (CN Blue) as Lee Jungshin

Rate                 : PG – 13

Genre              : Romance

Disclaimer      : This plot and all the OC(s) are belong to Nisaiueo – the others are not except L :p lol~ it’s fictional.

[Prolog] | [I] 

PART II

My friend is falling in love with my step sister

Makan malam kali itu agak sedikit sunyi. Hanya terdengar dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring. Sesekali terdengar perbincangan antara Daegwan dan Nayeon yang membicarakan ke mana mereka seharusnya menghabiskan waktu untuk berbulan madu dan itu membuat Myungsoo, juga Neulmi kurang nyaman.

“Oh, Myungsoo,” ayah Neulmi menatap putra tirinya, “kau bersekolah di Seoul Art High School, bukan?”

Myungsoo mengangguk –tanpa suara.

“Apa kau berminat pindah ke SMA di mana Neulmi bersekolah, di Cheongdam? Seoul Art sekolah yang bagus, hanya saja aku berpikir apakah kau mungkin mau pindah ke SMA umum..”

“Tidak, terimakasih abeonim,” jawab Myungsoo memotong ucapan ayah Neulmi, “aku sudah selesai makan malam. Apa aku boleh segera ke kamarku? Ada beberapa barang yang harus kutata.”

“Myungsoo,” panggil ibunya dengan nada tidak enak.

“Tidak apa-apa,” ayah Neulmi tersenyum, “jika aku butuh bantuan, panggil saja Janghyuk ahjusshi, Myungsoo-ya.”

“Aku bisa sendiri,” Myungsoo berdiri dan membungkuk singkat, lalu pergi ke kamarnya tanpa patah kata lain.

Neulmi terdiam dan menelan bulgoginya bulat-bulat. Entah kenapa bulgogi buatan Inha ahjumma yang biasanya enak, kini terasa hambar.

Pria bernama Kim Myungsoo itu benar-benar merusak selera makannya –batin Neulmi sambil menenggak air putihnya.

+++

Neulmi berdiri di depan cerminnya yang besar, melihat bayangan yang terpantul pada cerminnya. Bayangan seorang gadis dengan rambut dicepol, t-shirt garis-garis hitam dan celana training terpantul.

“Kau pasti bisa, Neulmi. Hwaiting!” Neulmi berbisik dan tepat saat itu, intro lagu Jumping dari KARA mengalun dari iPod yang sudah ia speakerkan. Neulmi menggerakkan badannya dan mengikuti irama, sekaligus sesekali menyenandungkan lagu girlgroup kesukaannya itu.

Ada sesuatu yang Neulmi tidak perhatikan sebelumnya, bahwa pintunya tidak tertutup sepenuhnya.

+++

Shit,” umpat Myungsoo –menghentakkan pensilnya dengan kesal dan melirik ke dinding sisi kanannya, di mana ia berbagi dinding dengan kamar Neulmi.

Suara lagu yang dikenal Myungsoo sebagai salah satu lagu milik girlgroup KARA membahana, membuat Myungsoo kehilangan konsentrasinya.

Myungsoo berdiri, “tch~ gadis itu…,” geramnya, menaruh gitarnya di atas ranjang dan membuka pintu kamarnya.

Myungsoo baru saja meletakkan kepalan tangannya di pintu, pintu kayu berwarna putih itu terdorong sedikit. Rupanya pintu tersebut memang bercelah sedikit.

“Apa yang dia lakukan?”

Myungsoo tidak bisa memercayai penglihatannya melihat Neulmi yang tengah menggerakkan badannya persis dengan tarian milik KARA yang ia sering lihat di televisi.

Gerakan gadis itu bahkan sangat persis –jika tidak dikatakan sempurna.

Suara lagu terhenti dan Myungsoo masih dalam keadaan kaget.

Gadis kekanak-kanakkan itu menari?

Gadis yang menghabiskan waktunya dengan bermain sepeda waktu kecilnya itu bisa menari??

Katakan bahwa Myungsoo berhalusinasi.

YAH!”

Myungsoo nyaris terjengkang saat mendapati Neulmi sudah berada di depannya, dengan posisi berkacak pinggang.

“Apa yang kau lakukan di kamarku?!”

Myungsoo mengerjapkan kedua matanya, “kau tadi.. MENARI?!”

Neulmi terkejut mengetahui fakta bahwa Myungsoo melihatnya menari.

“Sssh!!!” Neulmi membekap mulut Myungsoo, “diam.. Jangan sampai appa tahu.”

Wae?” Myungsoo melipat kedua tangannya di dada, “kau dilarang ayahmu menari?”

K -keunyang annira! Kau tidak mengerti, sudah sana kembali ke kamarmu dan jangan masuk ke kamarku tanpa izin!”

Brak~!

Myungsoo terjengkang ke belakang akibat Neulmi menutup –setengah membanting– pintu kamarnya. Myungsoo mendengus dan berteriak, “kalau nggak mau ketauan jangan nyetel lagu keras-keras, dasar bodoh!”

+++

“Neulmi, kau pulang jam berapa hari ini?” tanya ayah Neulmi, membuat gadis itu tersedak karena segelas susu yang sedang ia teguk.

“Neulmi, kwaenchanha?” tanya ibu tirinya, dan dibalas anggukan singkat gadis itu.

Kwaenchanha, eomma.. Aku pulang telat hari ini, appa..”

Wae?”

Ngg..,” Neulmi refleks melirik Myungsoo yang tampak asyik menikmati sarapannya, “..ngg.. Ada kerja kelompok.. Harus dikerjakan bersama.. Jadi.. Yeah, aku janji pulang sebelum jam enam sore, kok!”

Ibu Myungsoo melirik putranya, “Myungsoo, kau bisa menjemput Neulmi, kan?”

Sekarang giliran Myungsoo yang tersedak susu.

Mwo? Aish, eomma, jarak sekolahku ke sekolahnya itu cukup jauh,” tolak Myungsoo, membuat Neulmi mendengus ke arahnya, “lagipula aku ada latihan band sepulang sekolah sampai malam.”

“Band?” Ayah Neulmi mengangkat alisnya, “kau ikut band?”

Myungsoo menatap ayah barunya, “ne, abeonim. Waeyo?”

“Myungsoo!” tegur ibunya, mengingatkan putranya untuk bersikap sedikit lebih sopan pada ayah barunya.

“Tidak apa-apa,” ayah Neulmi tersenyum, “tapi apa kau bisa menyempatkan waktu untuk menjemput adikmu?”

Cih. Adik.

Myungsoo dan Neulmi benar-benar merasa jijik dengan sebutan kakak dan adik.

“Myungsoo-ya, mobil satunya akan dipakai oleh appamu dan mobil satunya akan eomma pakai ke Daegu untuk mengurus beberapa berkas. Kau bisa kan menjemput Neulmi?”

Eomma –”

“Lagipula appa dan eommamu rasa, kau dan Neulmi butuh pendekatan ulang. Kalian sekarang kakak dan adik. Harus bersama dan saling menjaga. Jadi appa harap kau mau mengantar dan menjemput adikmu mulai hari ini,” ucap ayah Neulmi membuat bola mata Myungsoo nyaris keluar dari rongganya.

MWO?!”

“Myungsoo!” tegur ibunya lagi.

Melihat ibunya yang tampak sedikit memohon, Myungsoo mengatupkan rahangnya dengan sedikit gemertak, “aish… baiklah.”

Neulmi menenggak susu segarnya bagai menelan batu. Sepertinya mulai hari ini dan seterusnya, ia akan diantar jemput malaikat pencabut nyawa bernama Kim Myungsoo.

Bunuh saja ia sekarang.

+++

“Aku tahu kau berbohong.”

Neulmi megedikkan bahunya, sementara angin menerbangkan rambut brunette-nya yang tergerai dari sela-sela helm, “sok tahu sekali kau, oppa.

“Tch~ jangan memanggilku oppa. Geli.”

Neulmi terkikik, “yeah.. kau sekarang sudah tahu rahasiaku, bukan?”

Myungsoo menghentikan motornya tepat di depan gerbang SMA Cheongdam. Menunggu sejenak adik perempuannya –yeah, walaupun mereka seumur, tapi mereka berbeda nyaris delapan bulan– itu turun dari motor. Neulmi menyerahkan helm Myungsoo dan membenarkan jas seragam cokelatnya dan juga rambutnya yang cokelat, “kau jadi menjemputku?”

Myungsoo mengangkat alisnya dan turun dari motor. Beberapa siswa tampak mengamati Neulmi dan Myungsoo –karena ini pertama kali seorang Han Neulmi naik motor bersama seorang pria dari sekolah yang berbeda.

Rupanya Myungsoo meletakkan helm milik Neulmi di bagasi motor dan menatap gadis di depannya itu, berkata dengan angkuh, “jam lima sore di sini. Lewat satu menit, kupastikan kau naik bis, nona Han.”

Neulmi merengut.

Benar saja. Ia benar-benar merasa sial harus diantar jemput oleh pria bernama Kim Myungsoo ini.

+++

YAH HAN NEULMI KAU BERHUTANG CERITA PADA KAMI KAU TAHU!!”

Tahu-tahu, Yura dan Lizzy sudah menarik-narik Neulmi saat gadis itu masuk kelas, “HAN NEULMII, siapa pria yang mengantarmu tadi itu~ huh? NEULMII.”

YAAAH kalian mau membuatku tuli atau apa?” tanya Neulmi kesal.

“Satu sekolah gempar karena kau diantar seorang pria, kau tahu?” tanya Lizzy, “asal perlu kau ketahui bahwa tadi aku melihat Woo Zico mengumpat saat melihatmu turun dari motor pria itu.”

“Ya ampun,” Neulmi mendesah pelan, “ini salah kalian yang tidak datang ke pernikahan ayahku.. hh, dia adalah kakak tiriku. Well…bukan kakak juga sih, dia seumuran denganku.”

“OOOOOOOOOH!!” dua gadis itu berteriak heboh lagi, membuat Neulmi menutup telinganya, “AIGOO KALAU BEGITU KAKAK TIRIMU ITU BOLEH BUAT KAMI, KAN? TAMPAN TAUUU!!”

Neulmi melengos dan menyumpal telinganya dengan headset.

Tunggu, kata mereka, Zico mengumpat saat melihatnya turun dengan Myungsoo?

Neulmi terkekeh geli. Tandanya cassanova itu masih menaruh hati dengannya, dong?

Salah sendiri berubah menjadi menyebalkan, coba kalau tidak mungkin Neulmi masih bertahan dengan playboy itu.

Who Knows.

+++

“Maaf terlambat,” Myungsoo menghempaskan tas ranselnya ke sofa di sebelah Sandeul yang tengah asyik bermain PSP. Di sofa lain, Seunghyun sedang memainkan gitarnya, Jungshin sedang membetulkan senar bass-nya, dan Minhyuk tengah bersama stick drum kesayangannya, “aku ditahan Park seonsaengnim.”

Wae? Kau tidur lagi di pelajarannya?” tanya Sandeul, dan Myungsoo menjawabnya dengan acungan jempol.

“Sekarang kau harus memperhatikan nilaimu, Myungsoo-ya,” Seunghyun menghentikan permainannya, “sekarang kau punya ayah baru yang harus kau banggakan.”

Myungsoo menghela nafasnya, tidak merespon.

“Eh, kudengar kau punya adik baru, Myungsoo-ya?” tanya Minhyuk.

Jinjja?” tanya Seunghyun, “kemarin aku tidak bertemu adikmu di pernikahan.”

Myungsoo menatap tiga temannya, “bisakah kita melanjutkan lagu buatan kita yang belum selesai ini?” Ia mengangkat selembar partitur yang penuh coret-coretan, “daripada kalian seperti gadis-gadis tukang gosip.”

Sandeul mengedikkan bahunya, “Kim Myungsoo yang tidak pernah mau digosipi.”

“Ngomong-ngomong,” Minhyuk menyodorkan sebuah majalah fashion dengan cover sebuah grup perempuan yang ia bawa pada Myungsoo, “Naeun sudah debut minggu lalu. Dia sudah mengabarimu?”

Myungsoo mendorong majalah itu dengan sedikit gemertak di giginya, “bukan urusanku.”

+++

Aku tidak bisa menjemputmu, jadi aku sudah meminta salah satu temanku menjemputmu. Namanya Kang Minhyuk. Rambut acak-acakan dan memakai kacamata.

Neulmi berdesis, “tch~ lihat pria ini. Dia yang menyuruh jam lima tepat dan ia mengutus orang lain? Kakak macam apa dia?!”

Neulmi menatap jam tangan putih yang melingkari pergelangan tangan kirinya, “sudah jam lima lewat lima belas. Hhh awas saja dia. Tch~ Kim Myungsoo dan sifat menyebalkannya itu…”

Neulmi mengambil nafas, dan menyumpal telinganya dengan earphone yang menyenandungkan lagu boyband kesukaannya, SHINee.

Sebenarnya ia terengah-engah usai latihan dance. Ekskul dance-nya hari ini mengharuskan mereka menari empat gerakan sulit sekaligus, membuat Neulmi benar-benar ingin pingsan. Tapi ia harus berusaha untuk masuk tim inti dance untuk sebuah misi.

Sebuah skuter berwarna biru langit yang ditunggangi seorang pria berkacamata berhenti tepat di depan Neulmi. Sang pengendara dengan helm biru langit itu mendapati Neulmi yang menunduk sambil bersenandung kecil.

“Ah, chajatta.”

Neulmi mendongak dan mendapati seorang pria berkacamata berambut cokelat acak-acakan tersenyum dan bertanya padanya, “adiknya Myungsoo, kan?”

Neulmi mengangguk dan berdiri, melepas earphone-nya, “temannya Myungsoo?”

Pria tersebut mengangguk dan tersenyum lagi, “Kang Minhyuk, panggil saja Minhyuk.”

Annyeong haseyo, Han Neulmi imnida,” Neulmi membungkuk singkat, “terima kasih sudah menjemputku.”

Aigoo kwiyeopta,” Minhyuk memamerkan deretan gigi putihnya dan mengulurkan sebuah helm berwarna pink, “ayo, kakakmu sudah menunggu.”

Neulmi menerima helm tersebut dan naik ke jok belakang skuter Minhyuk, “oh iya Minhyuk-ssi, perlu yang kuketahui, bahwa aku kurang suka dengan titel adik dari Kim Myungsoo.”

Minhyuk terkekeh dan menjalankan skuternya menuju studio band tempat di mana Light berlatih yang terletak di distrik Gangnam.

+++

“Nih adikmu, kau kenapa tidak cerita sih kalau punya adik semanis dia,” Minhyuk masuk diikuti Neulmi di belakangnya yang membungkuk pada tiga teman Myungsoo.

Neulmi sedikit terkejut sebenarnya saat tahu Myungsoo dan Minhyuk adalah teman satu band. Mengingat Myungsoo yang angkuh, punya teman ramah seperti Minhyuk rasanya mustahil.

“Oh, ini adik tirinya Myungsoo,” pria berambut gondrong berwarna cokelat yang memiliki nama Lee Jungshin terkekeh, “duduklah.. Eh, siapa namamu?”

“Han Neulmi,” Neulmi tersenyum dan duduk di sofa yang berlawanan sisi dengan Myungsoo yang tampak acuh dengan kehadiran Neulmi, “terima kasih.”

“Aku Lee Jungshin.”

“Aku Lee Sandeul!” Seorang pria yang sama imutnya dengan Minhyuk langsung mengambil posisi duduk di samping Neulmi, “vokalis utama Light. Senang berkenalan dengan adik baru Myungsoo.”

“Sandeul-ah, dia tidak suka dipanggil adiknya Myungsoo,” Minhyuk berkata sambil menenggak minuman di sudut studio, “ya kan Neulmi?”

Neulmi mengangguk, dan sesekali curi-curi pandang pada Myungsoo. Pria itu benar-benar tampak acuh dengan kehadirannya –buktinya pria itu masih asyik memainkan gitarnya dan sesekali menulis sesuatu di atas selembar kertas.

“Mana Seunghyun?” tanya Minhyuk.

“Sedang beli makanan di luar. Dia bilang tidak sopan jika ada tamu tapi tidak disuguhkan makanan,” jawab Jungshin sambil mengulurkan Neulmi segelas air mineral, “minumlah. Kau akan sedikit lama di sini, Neulmi. Kami membutuhkan Myungsoo sampai setidaknya pukul tujuh malam.”

“Terima kasih,” Neulmi tersenyum, “butuhkanlah ia semau kalian. Jangan keberatan padaku.”

Sementara Sandeul tampak tertarik dengan Neulmi –masih duduk di samping gadis itu, “oh iya, Neulmi, bagaimana perasaanmu setelah mempunyai kakak seperti Myungsoo?”

Neulmi yang tengah minum agak sedikit tersedak dan itu mencuri perhatian Myungsoo, “uhuk!”

“Kau tidak apa-apa?” tanya Sandeul dengan penuh perhatian hingga membuat Myungsoo jijik.

Kwaenchanha,” Neulmi terkekeh, “uhm.. Bagaimana ya.. Yeah, dia memang mengesalkan sih,” Neulmi melirik Myungsoo yang balas menatapnya dengan tatapan mematikan, “lalu dia itu angkuh, arogan.. Aku bahkan heran, kenapa kalian mau jadi temannya.”

Sandeul, Jungshin, dan Minhyuk tertawa, “sampai sekarang kami pun bingung, Neulmi. Hahahahaha.”

Tawa itu masih berlanjut ketika seseorang membuka pintu studio dan masuk, “apa adiknya Myungsoo sudah datang?”

“Oh! Seunghyun! Apa kau membawa bibimbap pesananku?” tanya Minhyuk dengan nada seperti anak kecil yang meminta makanan pada ibunya.

“Tentu saja bawa,” pria itu meletakkan belanjaannya di atas meja, “mana adik Myungsoo?”

Neulmi menengok ke arah pria tersebut –ingin tahu– dan tampak terkejut, “oh! Seunghyun-ssi?”

Seunghyun menoleh, “Neulmi?”

Hangat kembali menjalari pipi gadis itu dan juga pipi Seunghyun.

“Kalian saling kenal?” tanya Sandeul shock dan tidak terima, “b –bagaimana bisa??”

Neulmi dan Seunghyun saling bertatapan dan terkekeh geli, “aku tidak sengaja menabrak Seunghyun saat pernikahan ayahku dan ibu Myungsoo.”

“Aku tidak menyangka kau adalah adik Myungsoo, Neulmi.”

Sandeul menggigit bibirnya dan Minhyuk menepuk bahu vokalisnya itu penuh simpati, sementara Myungsoo melirik keduanya tajam.

Ada sesuatu yang tidak beres di sini.

+++

“Ternyata kau adiknya Myungsoo?”

“Dan kau teman satu band-nya?”

Neulmi dan Seunghyun kembali tertawa dan tampak kompak, mengundang iri dari Sandeul yang menatap keduanya dengan tatapan sedih mungkin seperti ini àㅠ__ㅠ.

“Dunia ini sangat sempit, Neulmi,” Seunghyun terkekeh.

“Oh iya, bagaimana dengan tuksedomu? Apa sudah bersih?” tanya Neulmi dengan raut bersalah.

“Semuanya sudah beres, percayalah, sudah kubilang tidak apa-apa, Neulmi,” Seunghyun tersenyum dan mengulurkan Samsung Galaxy S-nya, “oh iya, apa aku boleh meminta nomor handphonemu?”

“Tentu,” Neulmi tersenyum, menyambut handphone Seunghyun, mengetikkan nomor handphone-nya, “coba misscall.”

Seunghyun menekan tombol call dan terdengar intro lagu yang dikenalnya milik boyband SHINee, lalu dilihatnya Neulmi menekan layar touch iPhone-nya, menyimpan nomor Seunghyun, “sudah!”

Gomawo,” Seunghyun tersenyum.

Myungsoo sudah tidak bisa tahan lagi melihat keberadaan adiknya itu dan berdiri, “yah Han Neulmi, ayo pulang.”

Yah Myungsoo! Bait terakhir belum kau temukan kunci gitarnya!” Jungshin mengacungkan selembar kertas berisi coret-coretan.

Myungsoo menyambar jaketnya dari sofa, mengacuhkan protes Jungshin, dan melirik Neulmi, “ayo pulang.”

Neulmi melirik jam tangan swatch putihnya, “tapi ini masih jam enam, katanya kau pulang jam –”

Tanpa mendengar protes lebih lanjut dari Neulmi, Myungsoo menarik gadis itu.

Yah! Yah!”

Terkutuklah Kim Myungsoo dan sifat arogannya itu. Ia bahkan tidak sempat pamit undur diri dari Seunghyun.

+++

please leave some comments on my poor blog ihik TT__TT

4 thoughts on “My Step Brother [Part II/?]

  1. Pingback: My Step Brohter [Part III/?] « Fictions

  2. Waahh kereennnn *0* ada SHINee plus KARA nya lagi xD
    Now I’ll try to imagine that Neulmi is me. But unfortunately I’m Yoo Hyunjo. ;-( LOL.

    Next author~! Fighting!!!^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s