My Step Brother [Part I/?]

Title                 : My Step Brother [Part I/?]

Casts               :

–          Kim Myungsoo/L (Infinite) as Kim Myungsoo

–          Han Neulmi (OC) as Han Neulmi

–          Song Seunghyun (FT Island) as Song Seunghyun

–          ++ Yura (Girls Day) as Kim Yura, Lizzy (After School) as Park Lizzy, Oh Sehun (EXO) as Oh Sehun, Kim Hyuna (4minute) as Hyuna, Sulli (f(x)) as Choi Sulli, Han Daegwan dan Park Nayeon (OC)

Rate                 : PG – 13

Genre              : Romance

Disclaimer      : This plot and all the OC(s) are belong to Nisaiueo – the others are not except L :p lol~ it’s fictional, oh, and please respect by leaving comments and likes.

[Prolog] 

 +++

PART I

Hi new step brother.

Teng~teng~teng~!

Lonceng yang terletak di ujung mulut koridor lantai satu berbunyi lantang usai diguncangkan oleh salah satu staff sekolah. Beberapa menit kemudian, serempak semua siswa dan siswi keluar dari kelas masing-masing, termasuk Han Neulmi –seorang gadis berambut brunette yang tampak sibuk dengan iPhone-nya.

“Neulmi, kau tidak jadi ikut dengan kami hari ini ke Insa-dong?” tanya salah satu sahabatnya yang berambut hitam –Kim Yura.

Ne.. maaf ya, ayahku mendadak akan menjemput,” jawab Neulmi dengan raut bersalah.

Kwaenchanha, jarang-jarang kau bisa bersama ayahmu, kan?” tanya sahabatnya yang lain –Park Lizzy.

Gomawo! Aku duluan ya!”

Gadis itu membetulkan posisi ranselnya dan tersenyum cerah saat melihat sang ayah sedang berbincang dengan kepala sekolahnya.

Appa!” teriak Neulmi dari kejauhan sambil melambai.

Han Daegwan –ayah Neulmi– membalas lambain tangan putri semata wayangnya. Putrinya itu tampak sumringah bertemu dengannya. Ingatannya seakan berjalan kembali di mana saat ia mengantarkan hari pertama Neulmi ke sekolah –saat TK.

Appa, ada apa?” tanya Neulmi usai ia dan ayahnya pamit undur diri dari hadapan kepala sekolah, “tumben sekali mau ke sekolah.. memangnya ayah ada urusan apa dengan kepala sekolah?”

Ayah Neulmi mengacak rambut putrinya pelan, “ada yang mau appa kenalkan padamu.”

Raut Neulmi sedikit berubah, “.. eomma baru?”

Ayah Neulmi mengangguk, “ayah tidak akan menyembunyikan apapun darimu. Jadi.. mau ikut, kan?”

Neulmi tampak menghela nafasnya berat. Walaupun ayahnya sudah mengatakan bahwa ia akan memiliki seorang ibu baru, tetap saja terasa agak sedikit berat baginya, “… ne,” seraya melangkahkan kakinya lebih cepat menuju pintu jok belakang yang sudah dibukakan supirnya.

+++

Kim Myungsoo memacu motor kawasaki ninja hitamnnya dengan kecepatan tinggi, membelah keramaian lalu lintas Seoul, menuju sebuah restoran mewah di pusat distrik Kangnam. Matanya menangkap sebuah mobil sedan mewah yang terparkir secara istimewa.

Membaca deretan angka dan huruf yang terpatri di plat mobil tersebut, Myungsoo menelan ludahnya.

Benar. Dia akan menjadi kakak tiri dari gadis itu.

Tidak ada pilihan bagi Myungsoo selain mengikuti perintah ibunya tadi pagi.

Pulang sekolah, datanglah ke Roum’s. Ayah Neulmi akan memperkenalkan dirinya secara resmi padamu.

Myungsoo tahu, ibunya tahu, bahwa Myungsoo tidak akan bisa menolak permintaan wanita yang sudah sembilan belas tahun menjaga dan melindunginya.

+++

Eommonim?

Han Daegwan dan Park Nayeon hanya bisa tersenyum kecil.

“Jadi.. Nayeon eommonim yang akan menjadi ibu tiriku?” tanya Neulmi lagi dengan nada bingung dan kaget, “oh.. wow. Hebat.”

Tidak pernah terlintas sedikitpun di benak Neulmi bahwa wanita yang menjadi sahabat ibunya bahkan sedari ia sendiri lahir, akan menjadi ibu barunya –tirinya.

“Kalau begitu…,” Neulmi teringat sesuatu, “Myungsoo?”

“Dia –”

Perbincangan itu terhenti saat seorang pria berseragam SMA yang berbeda dari Neulmi hadir di tengah-tengah mereka. Rambut hitam spike dengan headset –pastilah Kim Myungsoo.

“Ehm,” Myungsoo berdeham, “maaf terlambat.”

“Tidak apa-apa,” ayah Neulmi tersenyum, “duduklah Myungsoo, dan pesanlah sesuatu.”

Myungsoo duduk di samping Neulmi tanpa menoleh sedikitpun ke arah gadis itu. Neulmi bahkan sedikti terkejut dengan kehadiran Myungsoo.

Pertemuan mereka yang terakhir bukan sesuatu yang bagus untuk dikenang.

“Jadi, semua sudah lengkap,” ayah Neulmi tersenyum pelan, “kami, aku dan Nayeon, di sini, ingin meminta restu kalian. Kami.. akan melangkah ke pelaminan.”

“Tapi jika kalian tidak setuju,” ibu Myungsoo segera menambahkan, “kami tidak akan melanjutkan hubungan ini.”

“Tentu,” sambung ayah Neulmi, “kalian yang kami utamakan dalam hidup ini.”

“Bagaimana?” tanya ayah Neulmi dan ibu Myungsoo bersamaan, membuat anak-anak mereka tampak sedikit ragu.

Neulmi melirik Myungsoo yang tidak bergeming. Gadis itu jadi bingung sendiri. Bukan masalah yang terletak pada calon ibu tirinya, melainkan pada calon kakak tirinya.

Kakak.

Tapi apapun yang mereka ragukan, Neulmi dan Myungsoo adalah anak-anak yang mematuhi orangtua mereka. Mereka tidak akan menolak sesuatu jika itu bisa membuat orang yang mereka cintai bahagia.

Perlahan tapi pasti, Neulmi dan Myungsoo mengangguk.

+++

“Nona, Tuan Myungsoo sudah menekan klakson motornya berkali-kali,” terdengar suara salah satu pelayan mansion tempat ia tinggal dari lantai bawah

Comin!” teriak Neulmi sambil menyapukan lipbalm strawberry pada bibirnya.

Dengan sedikit terburu-buru, Neulmi menuruni tangga mansionnya, dan mengganti sandal mansionnya dengan heels putih.

Neulmi membuka pintu dan menangkap sosok Myungsoo yang sedang duduk di jok motornya. Neulmi melihat pria itu tampak sedikit lebih rapi dengan tuksedo putih, kemeja putih, dan juga celana panjang.

Tunggu..

Neulmi menghampiri Myungsoo –yang mengulurkan helm-nya dengan ekspresi datar– dengan raut muka penuh kekesalan, “YAH! Apa yang kau bawa ini? MOTOR? Memang kau kira kita akan ke mana pagi ini? Ke Apgujeong?!” teriaknya dengan nada tinggi membuat Myungsoo menutup kedua telinganya.

Astaga, bahkan ini adalah pertama kalinya mereka berbicara pada satu sama lain usai pertemuan terakhir enam tahun lalu.

“Berisik! Kau pikir aku akan menyetir sebuah jaguar?!”

“Tapi lihat! Aku pakai dress, babo,” desis Neulmi menunjuk gaun lace putih dengan bawahan mengembang sepanjang lututnya, “dan rambutku! Aku baru creambath tadi malam, dan akan rusak karena memakai helm? NO!

“Terserah kau sajalah,” Myungsoo menarik uluran helmnya, “kau bisa pergi dengan supirmu.”

Mwo?!” tanya Neulmi dengan nada tinggi, “mobil appa sudah dibawa ke tempat pernikahan begitu juga dengan mobil yang biasa kupakai, bodoh! Kau pikir kerabatku tidak ada yang datang dari Jeolla, huh?!”

“Kau bisa naik taksi,” Myungsoo mengedikkan bahunya, “atau bis?”

MWO?!”

Myungsoo mengulurkan kembali helmnya, “naik atau tidak? Eomma-ku sudah mengultimatum agar aku berangkat bersamamu. Jangan bawel atau kita akan terlambat.”

Neulmi mendengus dan menerima helm dari Myungsoo, “aish jinjja.. kalau bukan karena Nayeon eomma, aku sudah mencekikmu, kau tahu?!”

“Jangan panggil ibuku dengan sebutan eomma,” desis Myungsoo saat Neulmi naik ke jok belakang. Ia tidak belum bisa menerima bahwa ibunya akan dipanggil ibu juga oleh orang lain. Ia belum bisa.

Wae?” tanya Neulmi dengan nada tengil, “dia akan menjadi eommaku. Cepat jalan!”

Myungsoo menggas motornya dengan kecepatan tinggi, membuat Neulmi berteriak, “YAH KIM MYUNGSOO! KAU MAU MATI, HUH?!!!”

+++

Upacara pernikahan itu berjalan cepat bagi Neulmi dan juga Myungsoo. Pesta berkonsep garden party yang lovable, terasa intim dan hangat. Han Daegwan dan Park Nayeon berjalan, menyalami tamu mereka, sedangkan anak mereka masing-masing tampak mendiamkan satu sama lain di sisi kebun yang sudah disewa untuk pernikahan seorang han Daegwan. Neulmi sibuk dengan sepupu-sepupunya, sedangkan Myungsoo sibuk dengan handphone-nya –entah apa yang sedang pemuda itu lakukan,

“Aku akan mengambilkan minum untuk halemoni,” ucap Neulmi pada neneknya, dan mendelik pada sepupu-sepupunya, “kalian ini bukannya mengambilkan minuman untuk halemoni!

Oh Sehun, salah satu sepupunya terkekeh, “oh ayolah Neulmi noona. Kau adalah cucu halemoni yang paling dibanggakan.”

“Iya Neulmi,” Kim Hyuna –sepupunya yang lain terkekeh, “sudah sana ambilkan!”

Neulmi mendengus. Ia memang tinggal terpisah dari keluarga besarnya yang bermarkas di Jeolla. Iia jarang menghabiskan waktunya dengan nenek dari ibunya –terlebih setelah ibunya meninggal. Jadi ia sering digoda oleh sepupunya untuk mengambilkan sesuatu yang diinginkan dari sang nenek.

“Terima kasih,” Neulmi tersenyum pada salah seorang waiter dan berbalik dengan memegang minuman untuk neneknya. Namun ia terlalu ceroboh hingga..

“Ups!”

Neulmi menginjak kabel listrik yang terhubung dengan kipas angin di satu sisi, sehingga ia nyaris menabrak orang dan refleks memegang bahu seorang pria yang berada di depannya. Tak terelakkan, minuman milik neneknya itu mengenai sedikit tuksedo pria tersebut di bagian bahu.

“Astaga!” teriak Neulmi heboh, “jwesonghamnida! Jwesonghamnida jwesonghamnida!”

Pria tersebut tampak sedikit kaget, namun tersenyum kikuk, “kwaenchanhayo, tidak apa-apa agasshi.”

“Ah, jwesonghamnida. Aku memang ceroboh,” Neulmi membungkuk, “jwesonghamnida..

Pria tersembut tampak tersenyum, “sungguh tidak apa-apa, nona. Hanya terkena sedikit.”

Neulmi mengusapkan tangannya di tuksedo bagian bahu pria itu, “jeongmal.. jwesonghamnida..

Pria berambut cokelat dengan kemeja dan tuksedo putih itu jadi terkekeh geli dengan gadis di depannya ini, “tidak apa-apa nona.”

Neulmi mendongak dan mendapati pria itu tersenyum. Tiba-tiba saja Neulmi merasakan hangat menjalari pipinya. Pria itu dan Neulmi tampak terdiam satu sama lain, masih dengan tangan Neulmi bertengger di bagian bahu pria itu.

Saat pria itu mengarahkan tatapannya ke tangan Neulmi, gadis itu langsung tersentak, dan pipinya memerah seketika, “omo, maafkan aku!”

Pria tersebut tertawa hingga kedua matanya membentuk satu garis lurus lalu mengulurkan tangannya, “Song Seunghyun.”

Neulmi mengerjapkan matanya.

Ia diajak kenalan atau apa?

Melihat pria tampan di depannya itu mengulurkan tangannya, Neulmi menyambutnya dan tersenyum, “Han Neulmi.”

“Senang bertemu denganmu,” Seunghyun tersenyum, dan saat itu juga Neulmi merasa klepek-klepek. Bagaimana bisa ada pria muda dan tampan ada di pesta pernikahan ayahnya? Yang ia lihat sedari tadi hanyalah kolega ayahnya dan kerabat-kerabatnya.

Keduanya kemudian melepas tangan bersamaan dan terkekeh geli.

YAH HAN NEULMI!” teriak Hyuna dari kejauhan. Neulmi menengok dan mendapati bahwa sepupu-sepupunya, termasuk neneknya tertawa. Mereka rupanya melihat apa yang baru terjadi pada Neulmi dan pria tadi.

“Astaga, aku lupa,” Neulmi mengangkat gelas milik neneknya, “aku, ke sana dulu.”

“Oh, tentu,” Seunghyun tersenyum kikuk dan malu.

Neulmi membungkuk singkat dan berlalu dari hadapan Seunghyun yang masih menatap kepergiannya dengan senyum terulas di bibirnya.

“Ah… tampaknya setelah kita kemballi ke Jeolla, kita akan diundang kembali ke Seoul,” ucap Sehun saat Neulmi mengulurkan minuman pada neneknya.

“Untuk apa?” tanya sepupu Neulmi yang lain –Choi Sulli.

“Pernikahan Neulmi noona dengan pria tadi!”

MWO?!” tanya Neulmi, “YAH OH SEHUN apa yang kau bicarakan –astaga.. aku tidak sengaja menabraknya tadi!”

“Lihatlah Neulmi,” Hyuna menunjuk ke arah yang dipunggungi Neulmi, “ia bahkan masih melihat ke arahmu..”

Neulmi berbalik sesuai arahan Hyuna dan melihat Seunghyun yang menatapnya. Sedetik kemudian, Seunghyun tampak salah tingkah dan mengangkat minuman miliknya.

Neulmi tersenyum. Hangat kembali menjalari pipinya.

+++

“Myungsoo-ya,” seorang pria berambut cokelat pendek bertuksedo dan kemeja putih menghampiri Myungsoo saat pria itu asyik memainkan game di iPhone miliknya.

Myungsoo mendongak dan berdiri, “oh, Seunghyun-ah.”

“Aku belum sempat menemui ibumu, beliau tampak sibuk,” Seunghyun membungkuk singkat dan mengedikkan bahunya ke arah ibu Myungsoo, “ibuku tidak bisa datang karena ada acara keluarga di Ilsan, tapi ia menyampaikan salam untuk ibumu.”

“Tentu,” Myungsoo mengangguk, “terima kasih sudah datang, Seunghyun-ah.”

Seunghyun mengangguk dan menepuk bahu Myungsoo, “besok bisa latihan?”

“Tentu,” Myungsoo mengedikkan bahunya, “waktuku didedikasikan untuk band.”

“Sepulang sekolah di studio,” Seunghyun mengangkat tangannya, “bagaimana?”

I’ll be there,” Myungsoo melakukan high-five dengan teman satu band-nya itu.

+++ to be continued.. +++

So, leave some comments, please?❤ I’ll be so thankful^^

5 thoughts on “My Step Brother [Part I/?]

  1. Pingback: My Step Brother [Part II/?] « Fictions

  2. Pingback: My Step Brohter [Part III/?] « Fictions

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s