[Neulminho Couple /Oneshot] Untitled

Casts:

  • Choi Minho (SHINee)
  • Han Neulmi (Author)

Rate: PG (?)

Genre: Whatever ehehehe

a/n: Background year is 2017🙂 an oneshot about Neulmi and Minho’s marriage and they get a child ^^ pls comment and like ya n_n and this oneshot is a mess -_- i made it just for two hours straight, lol. enjoy.

+++

“Minho-yaaaaaaaaaa!!!!!”

Terdengar teriakan yang tak asing lagi di telinga Choi Minho menggema di penjuru apartemen yang bernuansa putih itu, membuatnya terpaksa mengecilkan gas dan berlari dari dapur ke kamar.

“Minho-yaaaaaaaaaaa!!!”

“Sebentar, Mi..,” Minho masuk ke kamar utama dan mendapati Han Neulmi yang tengah merengut di atas ranjang. Ia menghampiri istrinya dengan perasaan was-was sambil mengelus perut istrinya yang membulat besar itu, “wae yeobo?”

“Aku mau nonton Pororo tapi lagi nggak ada karena ada penggantian program. HUEEEEEEEEEEEEEEEEE~!!!”

Minho menepuk dahinya. Ia kira ada yang mengagetkan atau apa! Ia takut istrinya mengalami pendarahan atau apa –maklum, hamil tua harus diwaspadai– ternyata hanya gara-gara Pororo!

“Coba cari di channel lima, biasanya ada Pororo juga kan?” Minho mengambil alih remote TV yang ada di genggaman Neulmi.

“Nggak adaaaaaaaaaaaa~~~!!!” Neulmi merajuk sambil meninju-ninju guling yang dipeluknya, “channel satu sampai seratus aku cari tapi tetap nggak ada! Aku mau Pororo~ hueeeeeeeee!!!”

Arggggh! Minho mengacak rambutnya frustasi. Sejak menginjak kehamilan bulan keempat, Neulmi memang memiliki kemauan yang aneh-aneh. Mulai dari yang wajar seperti ingin makan pasta, sampai yang absurd kayak pagi ini, ingin menonton kartun Pororo. -_____-

“HUEEEE POROROOOOO!!!!” rengek Neulmi kekanak-kanakkan.

Neulmi memang kekanak-kanakkan, tapi tidak sekanak-kanakkan sekarang. Minho hanya bisa mengelus dadanya sambil menghela nafas. Demi anak yang dikandung Neulmi.. demi anak yang dikandung Neulmi..

“Kenapa diam saja?” tanya Neulmi, “carikan DVD Pororooooo!”

Mwo?

“CARI DVD POROROOOOO!!!!!”

+++

“Hihihi.”

Minho menggelengkan kepalanya sambil terkekeh kecil. Tidak sia-sia ia merayu anak tetangga apartemen bawah untuk meminjamkan DVD Pororo miliknya dengan lima permen cola yang secara beruntung berada di saku jaketnya tadi. Jadi ia tidak perlu pergi ke pusat penjualan DVD nun jauh di sana hanya demi sekeping DVD Pororo.

Minho meninggalkan Neulmi yang tengah mengelus perutnya sambil tertawa kecil. Neulmi sebelum hamil tidak begitu suka Pororo, Neulmi lebih suka kartun barat seperti Spongebob Squarepants atau Barney, sekarang berbeda. Mungkin anak Minho dan Neulmi-lah yang menginginkan Pororo.

Sambil tertawa kecil, Minho kembali meneruskan kegiatannya yang tertunda. Ia memasak bubur tahu untuk ia dan istrinya. Memang, sejak awal pernikahan, selalu Neulmi yang memasak. Namun melihat Neulmi yang hamil tua, Minho tidak tega rasanya meminta Neulmi yang memasak. Biarlah ia berjibaku dengan buku resep dan segala peralatan dapur yang jarang ia sentuh. Demi Neulmi dan anak yang dikandungnya. Sebentar lagi maka penderitaan ini akan berakhir.

+++

“Ini apa?”

Minho menggaruk tengkuknya sambil tersenym grogi pada Neulmi yang menatapnya penuh selidik, “bubur tahu..”

“Bubur tahu mwoya?” tanya Neulmi menyedokkan sesuap bubur yang lebih mirip air putih diberi tahu itu, “kau tidak baca takarannya kaan?”

Minho kembali tertawa grogi, “eh~hehehehe aku…aku salah baca. Seharusnya tiga gelas untuk dua porsi, tapi aku malah menakar tiga gelas untuk satu porsi. Jadi… hehehe.”

“Aissssh neo jinjja Minho-yaaaaaaaaaaa,” rengek Neulmi, “aku nggak mau makan iniiiiiiiiiiii. Aku mau kimchi!!!”

Minho kembali mengeluh dalam hati. Mulai deh Neulmi yang menyebalkan. Biasanya, kalau Minho gagal memasak, Neulmi hanya tertawa dan mengajaknya masak bersama –seperti saat perayaan seratus hari pernikahan mereka– tapi ini? -__-

“Pokoknya pagi ini aku mau makan kimchi. Super pedas. Ingat! Super pedas. Kimchi. Super. Pedas,” Neulmi memberi tekanan pada tiga kata terakhir, dan mendelik pada Minho, “kau mau anak kita memakan air putih dan tahu seperti ini?”

“Tapi ini masih pagi, Mi-ya! Masa kau tega memberi makan anak kita kimchi super pedas?”

“Tapi dia maunya ituuuuu!” rengek Neulmi, “pokoknya kimchi super pedas!!”

“Mi-ya…”

“KIMCHI KIMCHI KIMCHIIII!!!” Neulmi menggetok meja makan dengan bersungut kesal, “cari KIMCHI SUPER PEDAAAAAS!”

Aishhhhhh!! Minho lagi-lagi mengacak rambutnya frustasi. Ya Tuhan.. kapan penderitaan menghadapi Neulmi yang tengah menyebalkan ini selesai??

“KIMCHI KIMCHI KIMCHIIIIIIII!!!” rengek Neulmi mengayun-ayunkan kakinya di bawah meja, “pokoknya mau kimchi kimchi kimchiiiii!!!”

Minho menggertakkan giginya kesal dan menyambar jaket, lalu pergi keluar.

“JANGAN KEMBALI SEBELUM MEMBAWA KIMCHI SUPER PEDAS!!!!!!!”

+++

Keberuntungan masih memihak pada Minho. Tak jauh dari jalan di seberang apartemen, ada penjual kimchi. Ia tak perlu pergi jauh-jauh untuk membeli pesanan Neulmi.

Walau diiringi gerutuan dan sungutan, tetap Minho tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya melihat Neulmi yang memakan kimchi dengan lahap.

Biarlah.. demi anak yang dikandung Neulmi…

+++

“Minho-yaaaaaaaa~~~”

Minho membalikkan tubuhnya dan menarik selimutnya lebih tinggi. Mencoba menghiraukan Neulmi yang menggoyangakan lengannya. Ia sangat lelah hari ini –tidak tahu mengapa.

“Minho-yaaaaaaaaaa~~”

Minho menghembuskan nafasnya kesal dan mengalah. Dengan mata setengah melek, ia menoleh ke arah Neulmi, “wae geurae, yeobo?”

Neulmi menunjuk perutnya yang besar, “dia mau ramyeon.”

“Ramyeon?”

Neulmi mengangguk. Minho bernafas lega. Untung saja Neulmi tidak minta yang macam-macam. Ini kan sudah pukul sepuluh malam, agak sulit mencari makanan yang tidak instan.

Ara, tunggu sebentar ya, akan kubuatkan.”

Anniyaaa!” Neulmi menahan lengan Minho yang hendak bangkit, “aku nggak mau masakan buatanmu. Tapi ramyeon buatan Jihae onni.”

Mata Minho melebar, “mwoya??”

Neulmi mengangguk polos, “kau mau kan mengantarku ke apartemen Jihae onni?”

“Mi-ya, ini sudah jam berapa…”

“Hueeeeeeeeeeeeeeeeeeeee~,” Neulmi kembali merengek, “tapi aku mau ramyeon buatan Jihae onniiiiiiiiiii.”

“Tapi..”

“RAMYEON BUATAN JIHAE ONNI!!!! TITIK!!!!!! HUEEEEEEEEEEEEE!!!

Aaarggggghhh!!!

+++

“Neulmi? Minho?”

Mata sipit Jihae menatap pasangan yang tahu-tahu sudah ada di depan pintu apartemennya malam-malam begini. Tanpa telepon dan tanpa pesan. Mengejutkan sekali.

Annyeong onni!!!” Neulmi memeluk Jihae, namun perut besarnya memberi cukup jarak antar keduanya, “aku masuk ya?”

“Masuklah,” Jihae mempersilahkan pasangan itu masuk ke apartemennya yang bernuansa ungu muda, “ada apa kalian ke sini? Maksudku malam-malam begini?”

Neulmi tidak menjawab dan malah ngeloyor duduk di sofa ruang tengah.

“Neulmi ngidam, noona,” desah Minho, “kali ini ia ngidam ramyeon buatanmu.”

“Wah?” tanya Jihae, “ramyeon buatanku?”

Minho mengedikkan bahunya, “akhir-akhir ini ia semakin menjengkelkan, noona.”

Jihae terkekeh dan masuk ke dalam dapurnya, membuka almari dapur, “yah.. kau harus memahaminya. Di sinilah peran calon ayahmu diuji, Minho-ya. Sebesar apa cintamu pada Neulmi, sebesar apa sayangmu pada calon anakmu,” Jihae mendapati dua bungkus ramyeon berbeda rasa dan berteriak pada Neulmi, “Neulmi! Aku ada ramyeon rasa kimchi dan ramyeon rasa jigae. Kau mau yang mana?”

“KIMCHIII!” teriak Neulmi dari ruang tengah.

Jihae terkekeh dan memasakkan air di atas kompor, menoleh sekilas ke arah Minho, “kau mau juga?”

Minho menggeleng, “aku kenyang makan rengekan Neulmi.”

Jihae tertawa kecil, “Neulmi memang kekanak-kanakkan, tapi ia tidak menjengkelkan seperti sekarang. Setelah melahirkan, semuanya akan kembali normal.”

Minho menghela nafasnya. Berharap ucapan Jihae benar adanya.

+++

Jinjja mashitdaaaa!” teriak Neulmi riang seperti anak kecil yang diberikan permen sekarung, “onni gomawooo!”

Jihae mengangguk dan membereskan mangkuk bekas makan Neulmi, “kapan kau melahirkan, Neumi-ya?”

“Sekitar minggu depan,” Neulmi menyengir.

“Sudah tahu yeoja atau namja?”

Neulmi mengangguk, “yeoja. Doakan ya onni!”

“Tentu!” jawab Jihae dari dapur.

Kkajja, Mi-ya,” Minho membantu Neulmi untuk berdiri, “kita harus pulang. Besok aku ada….”

“AAAAAAAAAAAAHHHH!!!” teriak Neulmi refleks membuat Minho kaget dan Jihae kembali ke ruang makan.

“Neulmi? Wae –

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!” teriak Neulmi kesakitan sambil memegang perutnya, “perutku.. AAAAAAAAAAAAAA!!”

“Panggil ambulans cepat!!!” teriak Jihae pada Minho. Minho mengeluarkan telepon genggamnya dengan gemetaran, terlebih melihat cairan yang mengalir pada kaki Neulmi.

“Neulmi-ya, tenang,” Jihae menopang Neulmi. Ia tahu Neulmi akan melahirkan sesaat lagi.

Onni.. AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!”

Yoboseyo? Saya butuh ambulans di apartemen Sky Seoul sekarang!! SEKARANG!!! ISTRI SAYA AKAN MELAHIRKAN!!!!”

+++

“Tarik nafas, Nyonya…..”

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!”

Bukannya menarik nafas, Neulmi malah terus berteriak tidak karuan. Tangannya mencengkram pegangan di sisi kanan dan sisi kiri ranjang ruang bersalin. Keringat meluncur dari pelipisnya, membuat Minho ingin mati rasanya melihat Neulmi begitu sakit.

“Tenang, tarik nafas….”

“HHHHHHHH,” Neulmi menarik nafas sebisa mungkin.

Minho benar-benar kalut melihat Neulmi yang berjuang setengah mati. Benar saja, ternyata kelahiran anaknya terjadi lebih cepat dari yang diperkirakan.

“Tarik nafas dan hembuskan perlahan, Nyonya Choi…”

Minho bergegas menarik tangan kanan Neulmi yang mencengkram erat sisi kanan ranjang, dan menggenggamnya erat. Berharap itu bisa memberikan kekuatan.

“HHHHHHH,” Neulmi kembali mengatur nafas sementara seorang dokter kandungan perempuan yang memang menangani kehamilan Neulmi dari awal sudah mengotak-atik bagian bawah Neulmi.

Minho dapat merasakan keringat dingin mengucur di seluruh permukaan kulit Neulmi. Ia benar-benar salut pada wanita, dan termasuk ibunya yang pasti bersusah payah melahirkannya dan tentu melahirkan kakaknya juga. Ibunya pasti bahagia mendengar kabar bahwa menantunya sudah melahirkan.

Minho mendengar suara Chaeri, Jihae, dan Soojoon di luar ruangan, disusul suara adik kandung Neulmi, Yeonrin yang memang berada di Korea karena gadis itu tengah menuntut ilmu di Korea, dan ada juga suara dari Onew, Jonghyun, Key, dan Taemin.

“Ya, sekarang dorong bayinya sekeras mungkin. Rambutnya mulai terlihat.”

“AAAAAAAAAAAAAAARRRGGHHH!!” teriak Neulmi, mendorong sekuat mungkin. Nafasnya tak beraturan. Jantungnya berdegup kencang dan aliran darahnya berpacu sangat cepat.

“Aku di sini,” bisik Minho memberi semangat. Ia dapat merasakan tangan Neulmi mencengkramnya. Biarlah. Ia rela asal Neulmi dan anaknya dapat selamat.

“Dorong lagi..”

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRGGGH!!!!”

“Terus, Nyonya.. Kepalanya mulai muncul…”

Neulmi menarik nafas dan kembali mendorong sekuat tenaga, “AAAAAAARRGGGGHH!!!!”

Jantung ingin copot rasanya saat sekuat mungkin Neulmi mendorong bayinya keluar.

“Tubuhnya sudah keluar. Ayo dorong lagi, Nyonya!”

“Dorong lagi, yeobo!”

Sekuat tenaga, Neulmi kembali mendorong sambil menahan teriak, “NGGGG AAAARGGGHHH!!”

“Satu dorongan kuat, maka akan selesai, Nyonya…”

Hana…”

“Dul…”

“Set…”

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGHHHHHHHHHHHHHHH!!!!!!!!!!!!”

Berkat dorongan kuat dan tarikan pelan sanng dokter, terdengan hingar bunyi tangisan khas seorang bayi.

“Selamat, Tuan, Nyonya, bayinya perempuan,” sang dokter tersenyum mengangkat bayi kecil berlumur darah yang menangis hebat, “perawat akan memandikan bayinya. Pulihkan dulu tenaga Anda, Nyonya…,” sang dokter tersenyum tipis sambil menghapus sedikit peluhnya, “saya tinggal dulu.”

Neulmi menarik nafas lega. Sangat lega. Penantiannya selama sembilan bulan selesai sudah…

Minho memeluknya hangat, “kau hebat, yeobo… Nae jeongmal saranghae… Kau benar-benar hebat, Neulmi-ya…” sambil dikecupnya kening sang istri.

Neulmi tak mampu lagi berkata. Ia tersenyum lemah. Memulihkan tenaganya sekaligus menahan nyeri di bagian dalam bawahnya.

“Sudah lahir?” Jihae, Chaeri, Soojoon, Yeonrin –adik Neulmi–, Onew, Jonghyun, Key, dan Taemin masuk ke ruang bersalin.

Minho mengangguk sambil tersenyum, sedangkan Neulmi mengatur nafasnya dan tersenyum lemah.

“Nyonya, mari saya bawa untuk pembersihan dan Anda akan dipindahkan ke ruang rawat biasa,” seorang perawat tersenyum pada Neulmi.

“Bayi saya?”

“Sedang dimandikan, Nyonya. Mari.”

Neulmi tersenyum lemah saja saat dua perawat mendorong kasur bersalinnya menjauh dari kerumunan.

+++

“Mom dan Appa akan ke sini besok pagi. Mereka tidak dapat flight malam,” Yeonrin duduk di sofa, di samping Taemin yang tertidur pulas (nggak ngerti deh, yang capek kan Neulmi sama Minho kenapa Taemin yang tidur -__-), “Taekyung oppa berjanji akan terbang ke sini dari London besok siang karena masih ada yang harus ia urus di kampusnya.”

Neulmi mengangguk lemah dan mengunyah bubur yang disuapkan Minho untuknya.

Hanya ada Neulmi, Minho, Taemin dan Yeonrin di dalam kamar perawatan. Keadaan Neulmi membaik walaupun ia tengah lemah. Proses persalinan memeras banyak tenaganya dan ia butuh pemulihan.

“Permisi, Nyonya.. Tuan,” seorang perawat masuk mendorong sebuah boks bayi. Perawat itu meletakkan boks tak jauh dari ranjang Neulmi dan menggendong seorang bayi berselimut merah muda dengan hati-hati.

“Ini bayi perempuan Anda,” sang perawat menyerahkan bayi itu ke gendongan Neulmi.

Rasa bahagia mengisi relungnya saat tangannya menggedong pelan bayi perempuannya yang amat cantik dan tengah tertidur.

“Aku boleh gendong?” tanya Minho.

“Tentu,” Neulmi menyerahkan bayinya pada Minho. Minho menggendong bayinya perlahan. Tak urung, rasa hangat membanjiri hatinya begitu menggendong seorang bayi perempuannya. Anak pertamanya.

“Ihk – hoekkkk.”

Bayi itu terbangun dan menangis, membuat Minho panik, “aigoo, appa membangunkanmu ya? Aigoo cup cup cup…”

“Sini biar eomma yang menggendong,” Neulmi menjulurkan tangannya, menggendong bayinya pelan dan mengelus rambut bayinya lembut, “aigoo.. anak cantik jangan menangis… cup cup sayang…”

“Cup cup.. jangan menangis, ponakanku sayaaang!” Yeonrin muncul dari balik bahu Neulmi, “ayo berhenti memangis, ada bibi yang cantik di sini…”

“Yeonrin-ah,” tahu-tahu Taemin bangun dan berdiri di sebelahnya, “kita kapan punya anak?”

Sontak, Yeonrin menggetok kepala Taemin, “kau ini bicara apa, oppa..”

Aku serius!”

Neulmi terkekeh, “lamar dulu dia secara resmi! Menikahlah kalian, baru punya anak!”

Minho mengiyakan sambil tertawa. Tahu-tahu Jihae, Chaeri, Soojoon, Onew, Key, dan Jonghyun masuk. Mereka memang baru dari kantin rumah sakit.

“Woaaah bayinya ada!!” teriak Key yang disambut jitakan Chaeri.

“Nggak usah berisik!!”

“Woaah sini biar paman Jjong yang gendong!” Jonghyun mengulurkan tangannya. Neulmi menyerahkan bayinya, dan Jonghyun mencium pipi bayi yang tengah sedikit meredakan tangisnya, “yeppeoda..

Namun lagi, si bayi menangis keras, membuat Jonghyun panik, “wae? Ya! Anakmu kenapa menangis?!”

“Kau menyeramkan, hyung. Dia takut dinosaurus sepertinya,” jawab Minho asal, disambut tawa renyah dari yang lain.

Mwo? Aish.. ya, keponakanku sayang, lihat, pamanmu tampan begini masa menangis sih. Ayo sudah cup cup..”

“Sini biar aku yang gendong!” Chaeri maju, namun Jonghyun urung memberikan bayi itu pada Chaeri.

“Hey hati-hati!!” teriak Minho, “awas kalau anakku jatuh!!”

Neulmi terkekeh, namun tahu-tahu Minho mengecup keningnya.

“Choi Miho. Bagaimana?”

“Apa?” tanya Neulmi.

“Nama anak kita… Bagaimana?”

Neulmi tersenyum, “nama yang bagus..,” matanya memandang ke arah Chaeri dan Jonghyun yang tengah menghibur bayinya yang menangis.

“Jadi…,” Minho berdeham, “kapan kita bisa memberi Miho adik?”

Mwo??” Neulmi menjitak kepala Minho, “Ya! Sakitku saja masih begini masa kau sudah membciarakan hal itu.. aish, neo jinjja CHOI MINHO!!”

+++ THE END +++

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s