HANA [PART 2/?]

Author: Nisaiueo/Aeeen

Casts: HANA Girls and others

Rate: G

Genre: Friendship -for this one

Category: Continue/On-going/ Chaptered

Disclaimer: Just own the story~

a/n: Focused on Lee Jin Ah. Sorry banget ini ff telaaaaaaaaat banget dipost. Pertama karena mentok ide, kedua karena ngejer tugas. Sekarang kan libur, jadi aku berebet dah lanjutin nih ff. Jadi mohon maaf buat semua terutama HANA member yang udah bangkotan nungguin nih ff. Maaf bgt *bow* … dan maaf juga kalau gaya bahasanya amburadul begini😦 *kneel* Oh ya untuk Lee Jin Ah, pic-nya nyusul yaaa

NO BASHING, NO PLAGIARISM, AND NO SILENT READER!!!!!

Previous story: PART 1

“Annyeong haseyo,” gadis itu membungkuk. Begitu ia mendongak, sungguh kaget melihat siapa yang didapatinya di depannya kini, “Kim Youngmin sajangnim?”

***

“Lee Jin Ah-ssi, annyeong haseyo,” pria berwibawa yang berada di pertengahan kepala empatnya itu memandang perpustakaan tempat di mana gadis bernama Lee Jin Ah itu berkerja –Kim Youngmin, “jadi seusai trainee, kau kerja di sini?”

Lee Jin Ah mengangguk, “ada apa sajangnim ke sini?” tanyanya dengan nada sopan.

“Aku ingin mengajakmu, kembali ke SM,” jawab Kim Youngmin angkuh dan berwibawa.

“Jwesonghamnida, sajangnim,” Jin Ah membungkuk sopan, “tapi keputusanku untuk keluar sudah bulat, sajangnim.”

“Anniya, bukan untuk menjadi trainee atau artis,” jawab Kim Youngmin, “kau ditunjuk olehku untuk menjadi salah satu koordinator schedule SM.”

“Koordinator schedule?”

“Ne,” Kim Youngmin lalu berbalik, “datanglah ke SM besok tepat pukul delapan pagi, kalau kau masih ingin bergabung di keluarga besar SM.”

Pria itu kemudian melangkah keluar meninggalkan sebersit dilema di benak Lee Jin Ah.

***

SM Entertainment, keesokan harinya

Lee Jin Ah melangkahkan kaki ke dalam gedung yang sudah ditinggalkannya setahun lalu. Jin Ah masih bisa mengenali suasana gedung yang menjadi harapan terbesar hidupnya sejak kecil. Jin Ah masih dapat mengenali sosok resepsionis yang dulu selalu jutek terhadap trainee tetapi ramah terhadap artis. Jin Ah masih dapat mengenali wajah-wajah trainee juniornya yang sekarang tak dapat mengenalinya karena Jin Ah memilih memakai topi dan kaca mata sekedar untuk menyamarkan penampilannya.

“Jin Ah?”

Seorang wanita berambut hitam menepuk bahu Jin Ah, membuat Jin Ah menoleh.

“Ah! Jin Ah-ya!” wanita itu langsung memeluk Jin Ah senang.

“Tiff onni,” Jin Ah tersenyum.

***

“Sudah tidak apa-apa.. kami sedang latihan dance genie,” Tiffany menarik tangan Jin Ah masuk ke ruang latihan SNSD. Ya, wanita yang menepuk bahu Jin Ah adalah Tiffany Hwang, anggota SNSD.

“Aigoo~ lama sekali tidak bertemu denganmu!”

“Nado, onni,” Jin Ah balas tersenyum dan membungkuk singkat pada Sunny dan Yoona yang masih latihan. Sementara sisanya, entah ke mana –tidak terlihat di ruang latihan.

“Onni latihan dance genie? Untuk apa?” tanya Jin Ah.

“Kamu kan mau debut di Jepang pakai lagu genie,” jawab Tiffany, “ayo duduk di sini.”

Keduanya duduk bersila di pojokan ruang latihan. Tiffany lalu mengusap bahu gadis yang sudah dianggapnya sebagai adik itu, “kukira kau takkan kembali ke sini.”

Jin Ah tersenyum kecut, “apa onni kira aku kembali sebagai trainee?” Jin Ah lalu tertawa memperlihatkan deretan giginya yang rapi, “anniya onni, aku hanya disuruh Youngmin sajangnim ke sini.”

“Ada apa?”

Jin Ah lalu memelintir ujung blusnya, “aku ditawarkan untuk menjadi koordinator schedule onni..”

“Jinjja?” mata Tiffany membulat, “aaaa kau harus menerimanya! Kau harus menerimanya! Dengan begitu kita akan tetap dekat dan kau tetap menjadi bagian dari kami –keluarga SM!”

Jin Ah tersenyum kecil, “onni, aku hanya jadi koordinator schedule.. bukan artis SM..”

“Aiyya!” Tiffany menggerakkan telunjuk kanannya, “kau akan selalu menjadi artis SM. Arayyo?”

Jin Ah tersenyum lebar. Selalu saja seorang Hwang Miyoung menangkan hatinya. Ia senang memiliki sahabat sekaligus onni seperti Tiffany.

“Nah,” Tiffany lalu menepuk bahu Jin Ah –sudah seperti kebiasaannya, “sekarang kau menghadap Youngmin sajangnim. Beritahu beliau bahwa kau akan menerima pekerjaan itu. Arayyo?”

“Arayyo onni. Terima kasih untuk semuanya,” Jin Ah memeluk Tiffany erat.

“Hey, kita sudah lama berteman, jangan bertingkah seperti baru kenal kemarin,” Tiffany mengusap bahu sahabat yang dianggapnya sebagai adik itu.

Jin Ah lalu bangkit dan membungkuk. Baru beberapa langkah, Tiffany memanggilnya kembali, “Jin Ah-ya!”

Jin Ah menoleh, “ne, onni?”

Tiffany menunjuk rambut kecoklatan milik Jin Ah, “sepertinya kau harus ke salon. Lihat rambutmu tak terurus begitu.”

Jin Ah tertawa kecil, “arayyo onni. Semangat ya untuk debut di Jepang-nya!”

Keduanya lalu mengepalkan tangan ke bawah dan tersenyum lebar, “fighting!”

***

Langkah Jin Ah terasa lebih ringan setelah bertemu Tiffany. Sudah lama rasanya ia tak bertemu Tiffany –empat tahun mungkin, sejak Jin Ah resmi mengundurkan diri sebagai trainee, dan Tiffany resmi debut sebagai bagian dari SNSD.

Jin Ah kemudian melewati sebuah ruangan berisi banyak trainee yang tengah berlatih menari. Jin Ah berhenti sesaat. Menatap sepuluh gadis yang menari –berusaha semaksimal mungkin demi mimpi yang mereka rajut.

“Ah… sudah berlalu lama ya, ternyata?” batin Jin Ah pada dirinya sendiri dan berjalan memasuki lift, menuju lantai dua.

***

Kim Youngmin’s room

“Masuk.”

“Annyeong haseyo, sajangnim,” Jin Ah membungkuk dalam, lalu berjalan mendekat ke meja di mana Youngmin terlihat tengah menandatangani beberapa berkas, dan Jin Ah jelas dapat melihat judul besar di map berkas tersebut. SHINee.

“Datang juga, rupanya?” tanya Youngmin sedikit sarkastik, “bagus. Hanya kau yang kini dapat kueprcaya untuk membantuku –uhm, maksudku membantu girlgroup baru yang kami bentuk.”

“Ne, sajangnim,” Jin Ah mengangguk, “girlgroup mana yang akan kuurus nantinya?”

Youngmin membuka lacinya dan mengambil selembar foto berukuran A6. Tampak enam gadis tengah berpose dengan alat musik. Jin Ah mengenali beberapa –hanya saja ia tak begitu ingat. Ingatannya lemah sejak penyakit itu mulai menggerogotinya.

“Ini girlgroup yang akan kami debutkan tahun ini. HANA. Dengan konsep seperti TRAX, CN Blue, FT Island. Seperti itu, hanya saja perempuan. Mereka sudah tinggal bersama di apartemen Star tak jauh dari sini. Apartemen nomor 506.”

Youngmin lalu menyerahkan enam lembar kertas resume profil para anggota HANA.

“Itu resume mereka, dan kau bisa tinggal bersama mereka. Soal gaji.. kau tahu kan berapa gaji koordinator schedule pada umumnya?”

Jin Ah mengangguk.

“Manajer yang akan kutunjuk sebagai manajer HANA adalah Kim Junghyoon. Kau tahu kan? Manajer CSJH terdahulu. Kim Junghyoon-ssi tidak mungkin kutunjuk untuk mengurusi HANA di dorm, jadi itu akan kulimpahkan padamu. Arasseoyo?”

Jin Ah mengangguk, “arasseoyo, sajangnim. Kamsahamnida.”

Jin Ah membungkuk tanda undur diri dan keluar dari ruangan itu.

***

Jin Ah tahu betul di mana letak ruangan yang biasa SHINee pakai untuk latihan. Tapi tak ada yang ditemukannya di sana. Jin Ah mengerutkan dahinya sedikit. Setahunya ini bukan saatnya SHINee comback. Lalu ke mana mereka?

Jin Ah lalu mengibaskan rambutnya kecewa, “dasar tofu bodoh… aku kan rindu padamu..”

***

Apartemen Star 506

Sooae tengah khusyuk menonton We Got Married KhunToria, sementara Jirin sibuk dengan roll rambutnya yang terus-terusan turun.

“Aisssh~ dasar roll rambut babo!” bentak Jirin pada roll rambutnya.

“Kalau kau bentak, roll-nya takkan benar, bodoh,” Sooae lalu membetulkan posisi roll rambut Jirin, “harus pelan-pelan, tahu.”

“Hhh, kenapa sih hari ini semuanya menyebalkan, onni?” tanya Jirin kesal.

“Semuanya?” tanya Sooae, “siapa saja?”

“Tuh, yang didaulat jadi leader,” Jirin menunjuk Kimrii dengan dagunya. Gadis itu asyik mengelus kura-kuranya dengan sayang, “ngomong kek apa kek. Ini dorm lebih sepi dari pemakaman umum!”

Sooae tertawa, lucu juga melihat Park Jirin yang cerewet ini –sama sepertinya, “sepertinya memang hanya kita yang normal, ya?”

Jirin mengangguk setuju, “apalagi yang namanya Hwang Shinhyo. Jutek banget!”

“YA! AKU DENGAR KAU MEMBICARAKANKU!” teriak seseorang dari kamar paling ujung membuat Sooae lantas membekap bibir Jirin.

“Kau ini! Jangan menyulut pertengkaran lagi deh!” bentak Sooae.

“Abisnya. Dia tuh emang jutek! Aku inget banget waktu dia bentak aku di lobi. Hih nyebelin!” Jirin memanyunkan bibirnya dua senti.

Ting tong!

Seruan Jirin terhenti saat terdengar suara bel menggema di dalam dorm berisi tiga kamar tersebut. Kimrii sebagai leader lantas berinisiatif mengintip dari bolongan pintu. Tampak seorang gadis yang terlihat lebih tua darinya, berambut sebahu berwarna hitam di depan pintu. Memakai blus berwarna biru laut dengan rok biru tua membuatnya tampak cantik sekaligus dewasa dan juga anggun.

Kimrii membuka pintu, dan gadis di depannya membungkuk dengan ramah.

“Annyeong haseyo. Apa benar ini dorm HANA?”

Kimrri mengangguk, “ne.. bagaimana Anda tahu?”

“Onni, nuguya?” tanya Jirin ingin tahu di belakang bahu Kimrii.

“Er.. aku.. boleh masuk?” tanya gadis itu –Jin Ah sedikit keki melihat perilaku tiga anak HANA yang melongo melihatnya.

“Ah.. ne, tentu,” Kimrii mempersilahkan gadis itu masuk. Bingung juga Kimrii melihat gadis itu.

“Ssst, onni,” Jirin menyikut Sooae, “apa dia wartawan? Kok nggak ada ID-nya? Terus dia siapa? Fans? Kita kan belum debut. Iiih onni dia siap –,” perkataan Jirin langsung dipotong Sooae yang membekap bibir Jirin biar si bawel diam.

Jin Ah tersenyum pada tiga anggota HANA yang tengah menatapnya skeptis, “annyeong, aku Lee Jin Ah. Kalian bisa memanggilku onni. Aku menjabat sebagai koordinator schedule kalian, sekaligus asisten manajer membantu Junghyoon-ssi. Jadi,” Jin Ah membungkukkan tubuhnya yang menurut Sooae semampai seperti Nana After School tersebut, “mohon bantuannya.”

“Oh ya,” Jin Ah teringat sesuatu, “Aku tahu nama kalian semua,” Jin Ah tersenyum sambil menunjukkan file resume anak-anak HANA, “aku diutus Youngmin sajangnim tinggal di sini. Jadi.. mm.. di mana kamarku?”

Kimrii memutar otaknya. Pantas saja kamarku dan Ririn ada tiga kasur –batinnya, “kamarku dan Ririn ada tiga kasur yag sudah disediakan SM, onni di sana saja.”

Jin Ah mengangguk. Kimrii mengantarnya ke kamarnya dan kamar Ririn –kebetulan Ririn sedang keluar dorm, mengambil barang-barangnya yang masih tertinggal di rumahnya di daerah Cheongdam.

Tepat saat Kimrii membukakan pintu, Shinhyo keluar dari kamar mandi sambil mengalungkan handuk di lehernya. Jin Ah terpana sesaat.

“Eh, Shinhyo-ya,” Kimrii angkat bicara, “ini koordinator onni kita.”

Shinhyo –tanpa senyum, membungkuk, “annyeong haseyo, Hwang Shinhyo imnida. Bangapseumnida.”

Jin Ah tetap terpana, seakan tubuhnya membeku sesaat di setiap helaan nafas yang Jin Ah hembuskan. Bibirnya menggumamkan sebuah nama, “Jinhyo?”

***

Dorm HANA terdengar sangat sunyi kecuali rentetan teriakan Jirin atau omelan Sooae, terkadang terdengar juga gonggongan anjing Youngra atau dentingan pergesekan spatula dan pan yang tengah digunakan Ririn untuk memasak dna dibantu Kimrii. Shinhyo, sang  maknae memetik senar-senar gitarnya tanpa ekspresi.

“Annyeong,” Jin Ah duduk di samping Shinhyo. Shinhyo tersenyum kecil.

“Kudengar permainan gitarmu sangat bagus. Aku ingin mendengar permainan gitarmu,” Jin Ah tersenyum manis, “boleh kan?”

Shinhyo mengangguk. Jarinya yang lentik mulai memetik senar-senar gitar yang mengalunkan nada indah dari nada lagu CSJH – My Everything.

You are my own, my everything,” Jin Ah menggumam. Air matanya mendesak untuk tumpah. Dadanya sesak mendengar setiap petikan gitar Shinhyo. Perlahan ia terisak juga.

“Jinhyo.. Jinhyo..”

Shinhyo menghentikan permainan gitarnya. Ia ingin protes, namanya Shinhyo. Bukan Jinhyo. Tapi alangkah kagetnya si maknae saat melihat koordi onni-nya menangis terisak-isak.

“Eh.. onni.. kenapa?” tanya Shinhyo canggung, “onni.. kenapa?” Ia takut dituduh menyakiti hati Jin Ah.

“Anni.. amugeutdo anni..,” Jin Ah menghapus air matanya. Jari-jarinya menyentuh pipi Shinhyo, “kau tahu? Kau sangat mirip dengan almarhumah Jinhyo…”

“Jinhyo?” Shinhyo memangku gitarnya, “nugu?”

“Lee Jinhyo,” Jin Ah mulai menerawang, “seumur denganmu…dan sangat mirip denganmu..”

“Eh?” tanya Shinhyo canggung menunjuk dirinya sendiri, “aku? Mirip?”

“Ne… sangat mirip. Sungguh. Bedanya..,” Jin Ah terkekeh, “Jinhyo lebih ramah.”

“Maksud onni aku tidak ramah?” tanya Shinhyo manyun. Jin Ah terkekeh lagi. Tak disangkanya, maknae jutek seperti Shinhyo bisa manyun juga.

“Anni. Bukan begitu.. hanya saja Jinhyo lebih senang tersenyum,” Jin Ah meneruskan ceritanya, “Jinhyo juga pandai bermain gitar. Ia sangat menyukai lagu CSJH yang baru kau mainkan tadi… “

Shinhyo terdiam. Ia mengedikkan bahunya sekilas dan terus bermain gitar, sementara Jin Ah larut dalam kesedihannya.

***

But you’re the one who making me like this!

Sooae menyudahi nyanyiannya sambil bergaya ala menembak. Gaya itu disambut tawa oleh Jirin, “onni seperti So Nyeo Shi Dae sunbaenim!”

“Bagus,” pelatih vokal yang menemani mereka merekam mini album pertama mereka mengacungkan jempolnya, “suaramu meningkat dari latihan saat trainee. Great Job, Jung Sooae.”

“Kamsahamnida,” Sooae membungkuk. Shinhyo yang bosan setengah mati asyik mengemut lolipopnya. Maklum ia kan bukan vocalist atau rapper, jadi ia hanya menonton rekaman Sooae sebagai main vocalist, Jirin sebagai additional vocalist, dan Kimrii sebagai additional rapper. HANA sudah merekam alunan musik mereka kemarin dan sekarang tinggal menyesuaikan vokalnya saja.

“Bagaimana?” Kim Youngmin tiba-tiba saja muncul ke ruang rekaman, “apa vokalnya sudah bagus?”

“Sudah, sajangnim. Lagu Going Crazy inilah yang hanya perlu dikuatkan lagi vocalnya. Lagu lain seperti Secret Admire, Falling for You, dan Heart Attack sudah pas. Albumnya sudah bisa dibuat mulai besok.”

“Bagus,” Kim Youngmin terlihat puas, “desain album mereka juga sudah selesai didesain. Tinggal pemotretan photo jacket dan mendiskusikan style performance mereka.” Kim Youngmin kemudian melihat ke arah Jin Ah yang tengah menulis di agendanya.

“Jin Ah-ssi?”

“Ne, sajangnim?” Jin Ah langsung berdiri.

“Aku meminta jadwal HANA yang sudah kau diskusikan dengan Kim Junghyoon.”

Jin Ah membuka agendanya, “besok, HANA akan melakukan pemotretan jacket photo di studio dekat Apgujeong, disusul perkenalan singkat HANA lewat video berdurasi kurang lebih satu setengah menit di ruang latihan yang akan dipublikasikan lewat youtube,” Jin Ah membaca halaman berikutnya, “keesokan harinya, HANA shooting MV Going Crazy.”

“Bagus, semuanya sudah terencana.”

***TBC***

Kurang panjangkah? Tapi ini lebih panjang dari part 1 looooh .__. Oke deh ditunggu komennya yaa dan setialah menunggu HANA! Jeng jeng jeng~~

13 thoughts on “HANA [PART 2/?]

  1. Yeyeyeyeye akhirnya di publish juga kekekekeke ^^~
    Thor aku disini rambutnya panjang/pendek? Lanjut thor!
    Fighting! (^•^)9

  2. Waaaaa #teriakpaketoa akhirnya muncul jg ff ini aku udh nungguin ff ini sampe jamuran #plak
    Wew aku disini bawel bngt….~_~
    Ditunggu part 3 nya+update soon please ^^bngt….~_~
    Ditunggu part 3 nya+update soon please ^^

  3. Akhirnya di post jugaa~ *lari2 keliling lapangan bola(?)*
    Aku sedikit disini xD But gapapa kok ^^b chapter ini aku dapet maksudnya banget (jadi kemaren2 gak dapet feel-nya? ._. #plak )
    Lanjuttt~ xD *siapa lo?* Lanjuuut~ XDDD

  4. wwaa! Aku juga lumayan banyak di siini dibanding kemaren..
    Oh ya? Jin Ah itu nanti akhirnya sama Onew kah?? Broken heart!!! Onew oppaku😥 !!
    Seru nih kalau sama si Jin Ah ngerebutin Onewww~~ ^^

  5. Pingback: HANA [PART 3/?] « Fictions

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s