I’m Falling For You [ONESHOT]

Author: Nisaiueo (Aeeen)

Casts:

  • Han Neulmi (OC)
  • SHINee’s Minho
  • SHINee’s Key
  • f(x)’s Krystal
  • f(x)’s Sulli
  • Miss A’s Suzy
  • Slight of: SHINee’s Jonghyun and f(x)’s Luna

Rate: PG-13 :p

Genre: Romance

Category: Oneshot

Disclaimer: I own the story/plot, the fictional character (Han Neulmi) and Minho >.< The others aren’t mine😀

Recommended song: 4minute’s Creating Love on Neulmi & Minho’s part >.<

NO BASHING, NO PLAGIARISM, and NO SILENT READER!

minimal nge-like buat ninggalin jejak kalian ^^

***

Han Neulmi berjalan tergesa-gesa membawa buku-buku tebalnya. Sesekali Neulmi membetulkan posisi kacamata frame hitam kotaknya. Langkahnya terhenti di depan sebuah loker dengan nomor 251. Neulmi memutar kunci loker dan menaruh buku-buku tebalnya, dan mengambil beberapa buku biologi untuk kelas berikutnya.

BRAK!

Neulmi terkejut dan menoleh. Tahu-tahu sudah berdiri tiga orang yeoja dengan wajah angkuh yang menghadapnya. Krystal Jung -yang berambut hitam panjang, Sulli Choi -yang berambut cokelat berwajah imut, dan Suzy Bae -berambut cokelat tetapi poni rata sedahi.

“Heh!” Sulli mengangkat kerah seragam Neulmi, “Sudah kubilang tadi, aku meminta jawaban untuk ulangan kalkulus! Kenapa kau tak memberikannya, hah? Sudah pelit, kau sekarang, heh?”

Suzy tertawa kecil melihat wajah Neulmi yang pucat, sedangkan pimpinan mereka, Krystal menepis tangan Sulli dan menjambak rambut Neulmi, “kenapa pelit sekali, Han Neulmi? Apa susahnya memberi jawaban?!”

“A -aw… Jebal, lepaskan rambutku Krystal-ssi,” rintih Neulmi begitu Krystal makin kuat menjambak rambut hitam sebahunya.

“Jangan mimpi!” seru Krystal, “ini balasan bagi orang pelit seperti dirimu, nona Han!”

“Mianhae… Tadi Kim seonsaengnim sangat ketat mengawasi. Aku takut dikeluarkan olehnya.. Sungguh,” ucap Neulmi takut-takut.

“Alasan!” teriak Sulli, “kau memang pelit, kan?!”

“Sungguh! Biasanya aku memberi jawaban pada kalian, kan?” tanya Neulmi takut.

“Sst! Krystal-ah! Lepaskan jambakanmu! Park seonsaengnim keluar dari ruang guru mengarah ke sini!” seru Suzy panik. Krystal melihat ke arah ruang guru, dan mendapati sosok pria tambun berjalan ke arah mereka.

Krystal langsung melepas tangannya dari rambut Neulmi dan merangkul Neulmi. Tiga yeoja itu tersenyum lebar palsu, membuat Neulmi mengkeret.

“Sedang apa kalian di sini?” tanya Park seonsaengnim, sedikit heran melihat yeoja-yeoja onar macam Krystal, Sulli, dan Suzy tengah bicara pada yeoja baik-baik macam Neulmi.

“Ah, bicara antar teman kok, seonsaengnim. Iya kan chingu?” tanya Krystal pada Neulmi.

Neulmi menatap Krystal takut.

“Iya kan, chingu?!” Krystal memandang tajam ke arah Neulmi, membuat yeoja itu langsung mengangguk.

“Ne, seonsaengnim! Chingu,” Neulmi menyengir palsu sambil takut-takut.

“Oh.. Kenapa kalian masih di sini? Nona Jung, Nona Choi, Nona Bae, cepat kembali ke kelas anda masing-masing!”

“Ne, seonsaengnim,” ucap tiga yeoja onar itu kompak.

“Nona Han, kau bisa ikut aku ke ruang guru?”

“Ne, seonsaengnim,” jawab Neulmi sopan.

Begitu Park seonsaengnim berbalik, Krystal langsung mencekik leher Neulmi dengan lengannya yang halus, “sampai kau mengadu pada Park seonsaengnim, habis kau, Han!”

Neulmi mengkeret.

“Arasseo?!”

“Ye, arasseo!”

Tiga yeoja itu tertawa dan berlalu, setelah mendorong Neulmi ke pintu loker.

“Hash! Jinjja!” Neulmi membetulkan kerah seragamnya dan bergegas berjalan ke ruang guru.

***

“MINHO-YAA!!! MINHO-YAA!!!”

Seorang namja berambut pendek cepak hitam agak lebat berhenti menendang-nendang bola sepaknya. Choi Minho, nama namja tinggi nan tampan itu. Bibirnya melengkung sempurna begitu melihat sosok Neulmi berlari-lari ke arahnya.

“MINHO-YA!! Hosh hosh!!” Neulmi berlari dan mengatur nafasnya begitu ia berhenti.

“Tarik nafas dulu, Neulmi-ya,” Minho menahan tawa melihat sahabatnya sibuk terengap-engap menggapai oksigen.

“Aku berhasil masuk seleksi olimpiade matematika!!!” Neulmi langsung memeluk Minho tanpa malu. Refleks, Minho canggung. Wajahnya memerah seketika, darahnya mengalir seratus kali lebih cepat begitu Neulmi memeluknya.

“Hashhh, kau ini keringetan! Bau!” canda Minho.

“Jeongmal?” tanya Neulmi dengan wajah polos usai memeluk sahabatnya.

“Kidding,” Minho mengedipkan matanya.

“Ya!! Nappeun!!!!” Neulmi berancang-ancang mengambil bola sepak Minho dan melemparnya ke batang hidung Minho yang mancung.

Krystal Jung mengamati dua orang itu dengan tatapan membunuh.

“Tch, apa yang dimiliki Han Neulmi sampai-sampai Minho sangat dekat dengannya, huh?”

Yeoja itu mengepalkan tangannya, “habis kau di tanganku, nona Han.”

***

Seminggu kemudian….

“Annyeong haseyo,” seorang namja berambut cokelat cepak membungkuk. Tubuhnya tidak setinggi Minho, tetapi kulitnya putih dengan mata sipit yang lucu ditambah jawline yang berbentuk sempurna, membuat perempuan di kelas Neulmi saling ber-ooh kagum-ria, termasuk tiga yeoja centil -Krystal Jung, Sulli Choi, Suzy Bae.

“Kim Kibum imnida, tapi kalian bisa memanggilku dengan Key. Aku pindahan dari Tokyo, tapi sempat pindah ke New York. Kuharap aku bisa beradaptasi dengan baik. Manasseo bangapseumnida,” namja bernama Key itu membungkuk.

“Silahkan duduk, Kim Kibum, ada dua bangku kosong, di sebelah Suzy Bae dan Han Neulmi.”

Suzy langsung merapikan rambutnya dan tersenyum lebar, sementara Neulmi acuh.

“Lebih baik kau dengan Han Neulmi, Kibum. Dia bisa membantumu untuk beradaptasi dengan pelajaran,” ucap Kang seonsaengnim.

“Ah, seonsaengnim!” Neulmi mengangkat tangan, “bangku ini punya Luna Park, seonsaengnim! Luna Park sakit!”

“Kwaenchanha, Luna Park bisa duduk di sebelah Suzy Bae nanti.”

Suzy merengut sedangkan Neulmi bergidik membayangkan sahabatnya besok duduk di sebelah Suzy dan duduk di antara sekelompok Krystal Jung dkk.

“Ye, seonsaengnim. Aku memang ingin duduk di sebelahnya.”

Key berjalan dan membungkuk, “may I shit here?”

“Ne,” jawab Neulmi pelan, memindahkan tas ransel dari bangku.

Selama dua jam pelajaran, Neulmi diam tak bicara pada Key. Ia sibuk memperhatikan rumus-rumus kimia di papan tulis.

Teeeet!

Bel istirahat berbunyi, dan Neulmi membereskan buku-bukunya, bergegas mengajukan dispensasi untuk latihan olimpiade di ruang serba guna.

“Jamkkamannyo, Neulmi-ssi.”

Neulmi tertegun begitu Key menarik tangannya.

“Mian,” Key melepas tangan Neulmi.

“Kwaenchanha,” Neulmi tersenyum tipis dan bergegas keluar.

“Wait, Neulmi-ssi!”

Neulmi menoleh ke arah Key yang berjalan ke arahnya, “ye, Key-ssi?”

“Err.. Hash.. Jinjja, canggung sekali memanggilmu dengan embel -ssi.. Oke.. Neulmi-ya, memangnya kau tidak mengingatku, ya?”

Neulmi berbalik dan menatap Key dari ujung kepala sampai ujung jari. Yeoja itu membetulkan posisi kacamatanya, “nuguya?”

“Hashhhh,” Key mengacak rambutnya, “masa kau tidak mengenalku?? Kita teman lho sebelum aku pindah ke New York…”

“New York…,” gumam Neulmi memutar ingatannya, “teman pindah ke New… OMO!” Neulmi terkejut, “KIBUM?!”

“Hahahahaha akhirnya kau mengenalku,” Key tertawa memamerkan eyesmile-nya.

“Kau berubah total! Aku tidak mengenalmu, bubum!” Neulmi menjitak kepala Key, “kau… Kau Kibum sahabatku yang ingusan itu? Ya! Mana kacamatamu, Kibum-ah??”

Key tertawa dan menunjuk matanya, “soft lens, madam.”

“Ah, arasseo. Jinjja, aku benar-benar tidak mengenalimu, Kibum-ah!”

“Kalau begitu, kita harus jalan-jalan untuk menyegarkan ingatanmu, miss Han,” Key merangkul Neulmi, “gimana?”

“Mianhae, Kibum-ah,” Neulmi melepas tangan Key, “aku harus persiapan olimpiade dua hari lagi. Makanya aku tidak bisa.”

“Well… Allright. Berjuang, Mi-chan!”

Neulmi tersenyum, “gomawo, Kibum-ah!”

Choi Minho tidak sengaja melihat Neulmi dan Kibum. Ia baru saja akan mencari Neulmi untuk menggiringnya ke ruang serbaguna, tapi yang dilihatnya membuat namja itu sesak. Wajahnya memerah.

“Minho-ya?”

Neulmi tahu-tahu menepuk bahu Minho, “waeyo?”

“Ah? Anni,” ucap Minho menetralkan pikirannya, “kau sudah ditunggu tim persiapan olimpiade di ruang serbaguna. Hwaiting!”

Neulmi tersenyum, “gomawo Minho-ya!”

Krystal Jung kembali mengepalkan tangannya dari kejauhan.

***

Neulmi baru pulang dari persiapan olimpiade. Dilihatnya pekarangan SMA Donghwan yang sudah mulai sepi. Hanya ada segelintir orang di sekolah itu.

“Sendirian, madam?”

“Kibum!” seru Neulmi kaget, “kau belum pulang?”

“Belum,” jawab namja yang tak lain adalah Key, “kalau bisa, panggil aku dengan Key, Neulmi-ya.”

“Hahaha,” Neulmi tertawa, “fine.. Key,” Neulmi memutar bola matanya.

“Kkajja pulang denganku!”

Neulmi memandang motor besar Key dengan speechless. Baru sekali ini ia pulang diantar namja dengan motor sport mewah.

“Apa yang kau tunggu?” Key melempar helm pada Neulmi, “ppali pakai helm-nya!”

Neulmi mengangguk dan menangkap helm putih yang dilempar Key.

Dari kejauhan, Minho menatap mereka kurang suka.

***

“WHOAA KIM KIBUM!!! PELAN-PELAN!!!” teriak Neulmi.

“PELUK AKU, NEULMI-YA!” teriak Key.

“Shireo!” Neulmi mencubit pinggang Key.

“Aw! Sakit!” Key berteriak kesakitan sambil membelokkan motor sport itu tanpa arah.

“YA!! KEY!! KAU MAU MEMBUNUHKU, HAH?!!” refleks, Neulmi memeluk pinggang Key, menimbulkan lengkungan senyum berarti di bibirnya.

***

“Hash! Stupid vehicle!” teriak Key menendang motornya.

“Sudahlah, Key-ah, kwaenchanha. Rumahku tinggal dua blok lagi. Ayo kita jalan saja. Samping rumahku ada usaha bengkel kok,” ucap Neulmi melepas helm-nya.

“Well then,” Key melepas helm-nya dan mendorong motornya.

Neulmi ikut mendorong motor Key dan sesekali bercanda dengan namja itu. Candaan mereka terhenti begitu tiga orang namja berpakaian tidak pantas muncul di depan mereka.

“Wah, Donghoon-ah, sepertinya kita dapat mangsa baru,” celetuk salah seorangnya.

Neulmi membisu. Seketika ia merasa takut.

“Donghoon-ah, motornya kinclong tuh. Yeojachingu-nya juga manis. Kita apain enaknya?” celetuk yang lain.

“Habisi mereka!” perintah salah seorangnya.

Key langsung mendirikan standart motornya dan menyuruh Neulmi agar berlindung di belakangnya.

Semuanya terasa cepat. Neulmi hanya mampu memejamkan matanya. Begitu tangan Key meneuk bahunya. Neulmi membuka matanya.

“OMO! KEY!” Neulmi kaget mendapati Key yang babak belur.

“Larilah, Neulmi-ya. Cari bantuan. Ppali,” rintih Key.

Neulmi bingung. Ia tidak mematuhi suruhan Key, gadis itu langsung mengambil helm Key yang besar dan kuat, lalu memukulkan helm itu ke tengkuk salah seorang dari namja berandalan itu.

Satu tumbang.

Neulmi lalu memukul tengkuk salah satu namja yang lain.

Dua tumbang.

“NEULMI-YA AWAS!” teriak Key.

Neulmi langsung berlari, dan Key memukul namja yang nyaris menyerang Neulmi dengan sikutnya.

Namja berandal itu tergeletak tidak berdaya, membuat Neulmi membekap mulutnya.

“Ppali, cari rumahmu, Neulmi-ya,” rintih Key.

“Ne,” ucap Neulmi memapah Key.

***

“Ashh… Pelan-pelan, Neulmi-ya!” Key mengerang begitu kapas dan alkohol menyentuh permukaan wajahnya.

“Ne, aku pelan-pelan.”

Neulmi mengusap luka Key dengan alkohol.

“Neulmi-ya! Ini minum untuk Kibum!”

“Ne, eomma!” Neulmi turun dari kamarnya.

Key menatap kamar Han Neulmi yang tidak berubah sejak ia dan Neulmi kecil, dan selalu bersama.

Ya, Key adalah sahabat Neulmi dari kecil. Dulu ia sering kerja kelompok dengan Neulmi saat sekolah dasar. Ia masih sedikit ingat di mana rumah Han Neulmi.

Mata Key bertemu dengan sebuah pigura di meja belajar. Key berdiri dan memegang pigura putih itu. Sebuah foto Han Neulmi -ia sangat yakin-, dengan seorang namja yang berseragam sama dengan Neulmi, dan ia sekarang.

Key berpikir… Sepertinya ia pernah bertemu dengan namja di foto ini.

“Choi Minho?” tanya Key tidak percaya.

“Key-ah, minumlah,” Neulmi menyodorkan segelas air pada Key.

“Neulmi-ya, kau berpacaran dengan Choi Minho?” tanya Key to the point.

Blussssh~

Pipi Neulmi merona seketika. Walaupun ia cuma bersahabat, tapi rasa-rasa suka mulai muncul di hati Neulmi. Jadi pantas saja yeoja itu memerah seketika.

“Neulmi-ya?”

“Eh? Ah, anniya… Kami hanya bersahabat sejak masa orientasi, Key-ah. Kami sekelas dari kelas satu. Hehe,” jawab Neulmi gugup.

“Kukira kalian berpacaran,” Key meneguk minumannya sambil tersenyum.

***

Minho menendang bola sepaknya ke sembarang arah sambil merengut. Teman-temannya saling berpandangan sambil mengangkat bahu.

“Grrr!!! Mati kau Kim Kibum!” gumam Minho menghentakkan kakinya kesal.

“Galau nih ye~,” ledek Kim Jonghyun, salah satu temannya.

“Hash, diam kau, Jjong!” seru Minho kesal.

“Minho-ya!”

Seorang yeoja berambut hitam berlari kecil menghampirinya -tak lain adalah Krystal Jung.

“Bah, nenek lampir datang,” Jonghyun mengibaskan tangannya.

“Minho-ya! Bisakah kau datang ke pesta ulangtahunku minggu ini? Di pantai mokpo. Satu angkatan kuundang,,” Krystal memegang tangan Minho, “kumohon kau datang… Kau tamu spesialku, Minho-ya….”

Minho ingin menjawab malas, tapi karena keformalan, Minho menjawab, “kulihat nanti, Krystal-ssi. Trims atas undanganmu.”

Krystal tersenyum kecut mendengar sapaan formal Minho. Baru ia akan memulai pembicaraan lagi, Minho tahu-tahu sudah berteriak, “NEULMI-YA!”

Krystal berbalik, mendapati yeoja yang dibencinya berhenti melangkah dan melambai ke arah Minho.

“Maaf, Krystal-ssi. Terima kasih sekali lagi atas undanganmu,” Minho melepas tangannya dari Krystal dan berlari ke arah Minho.

“Ya! Ya! Minho-ya! Jamkkaman! Hashh!! Han Neulmi lagi!!” teriak Krystal frustasi sambil tak melepas pandangan tajamnya pada dua orang itu.

“Neulmi-ya! Besok kau olimpiade kan? Mian tidak bisa menemanimu.”

“Kwaenchanha, Minho-ya,” ucap Neulmi membetulkan posisi kacamatanya, “lagipula Key akan menemaniku kok.”

“Key?” tanya Minho dengan nada tidak suka, “Kim Kibum, maksudmu?”

“Siapa lagi,” Neulmi memutar bola matanya.

“Sejak kapan kau dekat dengannya, Neulmi-ya?”

“Sudah lama sebenarnya. Memangnya kenapa?”

“Menjauhlah darinya.”

“Eh?” tanya Neulmi tidak mengerti.

“Jinjja.. menjauhlah, Neulmi-ya.. kumohon. Dia tidak sebaik yang kau kira.” Minho memegang tangan Neulmi.

“Minho-ya, aku mengenal Key jauh sebelum aku mengenalmu. Aku tahu siapa Key, dan dia sangat baik, Minho-ya. Sudahlah, aku harus pulang, besok aku akan olimpiade,” Neulmi melepas tangan Minho, dan berlalu, meninggalkan Minho yang berdecak kesal.

***

“HAN NEULMI DARI SMA DONGHWAN MEMENANGKAN OLIMPIADE MATEMATIKA TAHUN INI!!!”

Neulmi melonjak kegirangan. Matanya langsung berkaca-kaca saking terharunya. Ia menyalami guru matematikanya, Park seonsaengnim dan tersenyum bangga begitu wajahnya disorot kamera. Ia yakin orangtua-nya dan juga oppa-nya akan bahagia melihat namanya menghiasi deadline harian esok hari.

“Neulmi-ya! Chukkhae!”

Neulmi langsung memeluk Key yang sudah menyambutnya dengan bangga, “aku menang, Key! Aku menang!”

“Aku sudah tahu.. selamat ya Mi-chan!”

“Gomawooo,” Neulmi tersenyum tulus.

“Kalau begitu,” Key melepas pelukannya dan merangkul yeoja berambut hitam berkacamata itu, “kau harus kutraktir. Merayakan kemenanganmu. Gimana?”

“Mmm…,” Neulmi melirik jam tangan birunya, “boleh. Di mana?”

“Ice cream?”

“Yeay! Jeongmal gomawo, Key-ah!!”

***

“Ahjusshi, es krim strawberry satu, es krim cokelat satu,” pesan Key pada ahjusshi penjaga kedai es krim. Dan semenit kemudian, sebuah mangkok kecil es krim cokelat sudah ada di tangan Neulmi.

“Gomawo, Key,” Neulmi tersenyum lebar, “kau masih ingat rasa kesukaanku, eh?

“Tentu saja, pabo…,” Key menyuap es krimnya.

Mereka asik menikmati ice cream masing-masing.

“Key-ah, mianhae…,” ucap Neulmi pelan melihat biru-biru di wajah putih Key.

“Kwaenchanha..,” balas Key menatap Neulmi. Lalu namja itu menahan tawanya.

“Ya! Waeyo?” tanya Neulmi bingung.

“Sini,” Key menarik wajah Neulmi mendekati wajahnya.

“Kkkkkk,” Neulmi terbata-bata begitu sedikit lagi Key menyentuh wajahnya.

Set.

Ibu jari Key menyentuh ujung bibirnya, lalu namja itu berbisik di telinga Neulmi, “kau dari dulu sama saja ya, kalau makan belepotan.”

Blushhhh~ pipi Neulmi merona.

“Ya! Kau in–”

Ucapan Neulmi terhenti begitu bibir Key menyentuh ujung bibir Neulmi, tepat di mana noda yang dibersihkan Key tadi.

Key tersenyum dan melanjutkan makan eskrim-nya. Tapi tidak dengan Neulmi yang membeku.

***

“Minho-ya!!!” Neulmi berlari ke arah Minho yang tengah menendang bola di ruang olahraga SMA Donghwan dengan memegang medalinya.

Minho menoleh, ia ingin sekali menyambut Neulmi, tapi ada sesuatu yang mengganjalnya.

“Minho-yah! Masa kau tidak memberi selamat pada sahabatmu sih?” tanya Neulmi kecewa.

“Ucapan selamat dari Kim Kibum cukup kan?”

Neulmi mengerucutkan bibirnya, “ya! Kau ini kenapa sih?! Sejak Key kembali jadi temanku kau jadi uring-uringan nggak jelas!”

Minho menghentikan aktivitasnya, “tau-lah!”

“Minho-ya!!” Neulmi mengguncangkan bahu Minho, “apa salah aku kembali berteman dengan Key, hah?”

Minho melempar bolanya ke sembarang arah dan memegang bahu Neulmi dengan kedua tangannya, “Key tidak sebaik yang kau kira!”

“Minho-ya! Dia itu sahabatku. Lebih lama dari kau! Asal kau tahu, kemarin saat ia mengantarku, ia nyaris mati untuk melindungiku dari berandalan!”

“Hash, Han Neulmi! Kau ini polos apa bagaimana sih?! Bisa saja kan ia sengaja mencelakakanmu untuk menjadi hero untuk-”

“Keumanhae!” bentak Neulmi, “aku benci kau memfitnah Key!”

Neulmi membetulkan posisi kacamatanya dan berbalik. Air matanya perlahan turun, “aku benci kau, Choi Minho!! Sahabat macam apa, kau, hah?!”

Neulmi berbali menggenggam medali-nya keluar dari ruang olahraga.

“Ash!!!” Minho meninju tiang gawang dengan kepalan tangannya, “mengertilah, Han Neulmi!!! Aku cemburu!!!”

***

Han Neulmi berjalan tergesa-gesa keluar sekolah. Digendongnya malas ranselnya.

“Han Neulmi! Mau ke mana?”

Dilihatnya Krystal Jung, dan klonco-klonconya -Sulli Choi dan Suzy Bae- sudah menghadangnya.

“Tch,” desis Neulmi. Ia malas berurusan dengan tiga yeoja onar itu. Neulmi menunduk dan berjalan cepat, tapi bahu Suzy dan Sulli menghadangnya.

“Mau ke mana, nona Han?” Krystal mengangkat dahunya, hingga mata Neulmi dan Krystal bertatapan.

“Sungguh,” Krystal memutar wajah Neulmi ke kanan dan kiri, “tidak ada yang bagus darimu….”

Krystal lalu melepas kacamata Neulmi.

“Ya!” teriak Neulmi. Pandangannya kabur seketika.

“Bahkan tanpa kacamata pun kau tetap jelek, Neulmi-ya,” Krystal lalu menjambak rambut Neulmi yang dikuncir kuda dengan tangan kirinya, tangan kanannya tetap memegang dagu Neulmi. Yeoja angkuh itu menyodorkan kacamata pada Sulli.

“Sulli-ya, hancurkan kacamatanya.”

“Ya! Ya! Andwae!” teriak Neulmi. Bukan masalah materi, tapi kacamata itu ia dapatkan dengan susah payah menabung. Kacamata itu sangat bersejarah baginya sejak SMP kelas dua.

“Sorry, Neulmi-yaaaa,” Sulli terkekeh, “ppali Suzy-ya, kita injak bersama-sama!”

Duo dayang Krystal Jung itu dengan kompak menginjak kacamata Neulmi, diiringi bunyi retakan dan patahan beserta cekikikan dua yeoja itu.

“Hasssshhh!” Neulmi memberontak, tapi tenaga Krystal terlalu kuat.

“Aku heran,” Krystal menyentuh pipi Neulmi, “kulitmu pucat. Matamu sipit. Hidungmu mancung sih, tapi tidak sebagus punyaku. Belum lagi tubuhmu sangat di luar kata proporsional dibanding tubuhku…,” Krystal lalu melepas tangannya dari dagu Neulmi, “bahkan rambutmu tidak terawat! Lalu apa yang membuat Minho bertekuk lutut padamu, heh?!”

“Minho?” tanya Neulmi tidak mengerti.

“Choi Minho, tentu saja bodoh!” teriak Krystal.

“Aku hanya bersahabat dengannya! Sumpah,” jawab Neulmi ketakutan.

“Nonsense!” Krystal menarik rambut Neulmi, “Choi Minho menyukaimu! Jelas sekali, nona Han! Ckck… Jangan-jangan kau pakai pelet ya?”

“Anniya!”

“Geotjitmal!!!”

“YA!”

Sebuah suara menghentikan aktivitas Krystal dkk. Suara serak yang akrab di telinga Neulmi.

“Key?” Neulmi bertanya karena pandangannya buram melihat seorang namja berjalan ke arah mereka.

“Jauhkan tanganmu dari Han Neulmi, Krystal-ssi,” ucap Key sambil menatap tajam Krystal.

Krystal melepas tangannya dan menaikkan alisnya sebelah, “oh.. Key Kim rupanya.. Jangan-jangan kau dipelet juga olehnya?”

PLAK!

Neulmi membekap mulutnya. Ia yakin Key menampar Krystal.

“Jaga ucapanmu, miss Jung,” ucap Key tajam, “lebih baik kau dengan chingudeul-mu pergi dari hadapanku dan jangan pernah ganggu Neulmi lagi. Atau tidak, yakinlah besok kalian takkan diterima bersekolah di sini.”

Krystal langsung menarik tangan Sulli dan Suzy, melirik tajam ke arah Neulmi seperti urusan-kita-belum-selesai-nona Han- dan berjalan keluar sekolah.

“Kwaenchanha?” tanya Key.

“Kwaenchanha… Tapi kacamataku patah,” ucap Neulmi.

“Gampanglah itu. Ayo ikut aku.”

***

“Bagaimana?”

Neulmi mengerjapkan matanya, “aneh..”

Key tertawa kecil dan mengelus ubun-ubun Neulmi, “you look prettier. Don’t you realize?”

“Jeongmal?” tanya Neulmi tidak percaya, lalu melihat wajahnya di kaca optik. Matanya yang biasa dibingkai kacamata frame kotak kini ditambahkan soft lens berwarna kehijauan –pilihan Key.

“Sudah kuduga, kau memang cantik, Neulmi-ya,” bisik Key membuat wajah Neulmi memerah (lagi).

“Gomawo, Key-ah,” ucap Neulmi pelan menoleh ke arah Key yang berjalan di sampingnya, “soal lensa-nya nanti sampai rumah kuganti.”

“Tidak usah,” jawab Key singkat, “that’s what friends are for, right?”

Neulmi mengangguk dan menghirup udara segar musim gugur Seoul.

“Kau diundang ke ulangtahun Krystal Jung?” tanya Key pada Neulmi.

“Tidak, tentu saja. Dari dulu aku tidak pernah diundang,” jawab Neulmi memutar bola matanya, “kau diundang?”

Key mengangguk, “dia bilang satu angkatan diundang semua. Ia bilang padaku tadi siang.”

“Kau akan datang ke pestanya, Key-ah?”

“Mungkin. Malam minggu di Mokpo, kan? Kurasa, daripada jenuh di rumah.”

“Setelah kau menamparnya tadi sore?”

Key tergelak dan mencubit pipi Neulmi, “ya, membuatnya malu sedikit, hahahaha.”

Mereka terus berjalan, Key memang tidak membawa motornya, “hey, Neulmi-ya! Bagaimana kalau kau menemaniku ke pesta ulang tahun Krystal Jung?”

“Hah?” tanya Neulmi cengo.

“Ne! Kita berdua bisa membuatnya sedikit shock bukan? Kita bisa lihat apakah dia berani bicara pada kita setelah aku menamparnya,” Key tersenyum, seakan senyumnya takkan habis untuk seorang Han Neulmi.

“Apa boleh?”

“Keureom, Neulmi-ya! Kau kan satu angkatan dengannya, pasti boleh. Kalau kau diusir,” Key menggulung lengan jas sekolahnya, “di headline majalah dinding akan ada foto Krystal Jung yang keluar dari sekolah. Trust me.”

Neulmi tertawa, “fine, aku akan ke pesta nenek sihir itu.”

“Denganku, ya?” tanya Key menyodorkan sikunya yang dilipat, “madam?”

Neulmi tersenyum dan menggamit lengan Key, “yes, sir.”

“Bagaimana kita sedikit shopping? Persiapan ke pesta Krystal Jung?” tanya Key antusias, “kuyakin kau tak punya gaun bagus, kan?”’

“YA! Kau mengejekku, ya?” Neulmi mencubit lengan Key.

“Ya! Sakit, Han Neulmi! Yeah… kan dari dulu kau tidak suka pakai gaun, ya kan?”

“Mmmm…,” Neulmi memutar bola matanya, membuat Key gemas dan langsung menarik tangan yeoja itu ke sebuah toko gaun di deretan pertokoan tak jauh dari optik mereka membeli soft lens.

***

Dua hari kemudian…

Han Neulmi mematut bayangannya di depan cermin kamarnya. Ia merasa di cermin itu bukan bayangannya. Han Neulmi itu memakai kacamata, rambut dikuncir dua atau digerai lemas biasa, dan hanya memakai bedak bayi di wajahnya. Tapi sekarang berbeda.

Han Neulmi mengenakan gaun berwarna hitam tanpa lengan dengan model tali yang menyilang klavikanya dan terdapat bunga di atas bahunya. Gaun itu sepanjang pahanya, membungkus kakinya yang ternyata jenjang juga.

“Kami pergil dulu, agasshi,” dua orang dari salon yang disewa Key membungkuk.

“Kamsahamnida,” Neulmi balas membungkuk, dan dua orang itu keluar dari kamarnya.

“Neulmi!” Eomma-nya dan eonni-nya heboh melihat si itik pemalu kini sudah menjadi angsa untuk malam ini. Eyeliner menghias matanya, bibirnya dilapisi lipgloss. Rambut hitamnya agak sedikit mengembang dan ikal.

“Omo!! Putri eomma, neomu yeppo!”

Neulmi tersenyum malu-malu.

“Akhirnya yeodongsaeng eonni berubah! Kamsahamnida, Tuhan!” ucap eonni-nya berlebihan.

“Eonni!!” Neulmi meninju pelan lengan kakak perempuannya.

Tiiin tiin!

Sebuah mobil sport merah berhenti di depan rumah Neulmi.

“Neulmi-ya! Temanmu sudah datang tuh!” teriak kakak laki-lakinya dari lantai bawah.

Neulmi menyambar clutch-nya, dan turun dari kamarnya.

“Aigoo, yeodongsaeng oppa sudah punya namjachingu ruapanya…,” ucap oppa-nya Neulmi menggoda adiknya.

“Hash, oppa!” Neulmi memukul lengan kakaknya.

“Sudah sana pergi. Jaga dirimu baik-baik!” eonni-nya mendorong Neulmi pada Key yang tersenyum hangat.

“Titip Neulmi, ya, Kibum,” pesan eomma-nya.

“Ne, ahjumma. Pasti,” Key tersenyum.

Neulmi mengamit lengan Key begitu Key menyodorkan sikunya.

“Kami pergi ya!”

“Ne! Hati-hati!”

Tiga orang keluarga Han itu melambai.

Neulmi benar-benar ba-ha-gia. Sepanjang hidupnya sebagai remaja, ia tidak pernah sebahagia ini!

“Masuk, princess,” bisik Key refleks membuat pipi Neulmi merona.

“Ah, ye, gomawo,” Neulmi masuk ke bangku penumpang depan.

***

Mobil sport merah Key melengang melewati jalan tol menuju Mokpo.

“Neomu yeppeoda,” ucap Key.

“Kau mengejekku?” tanya Neulmi.

“Anniya.. I swear, you are pretty…”

“Sudahlah, fokus menyetir saja!”

Key tersenyum usil, “aku tidak melihat appa-mu. Di mana beliau? Aku belum izin membawa little girl-nya pergi lho..”

“Appa dinas ke Shanghai. Eh, Key-ah, perjalanan ke mokpo habis berapa jam sih?”

“Hanya sejam kok,” jawab Key menggeser gigi tangan mobilnya, “tapi bisa setengah jam kalau aku yang menyetir.”
Wusssh~

“KEY-AH PELANKAN SEDIKIT MOBILMU!!”

***

Minho memutuskan untuk tidak pergi ke pesta Krystal Jung, toh Neulmi juga takkan datang, persis setahun lalu.

Minho asyik mencuci foto-foto candid Neulmi -ya, dia diam-diam memotret sahabatnya sendiri dengan kamera SLR-nya.

“Ck… Kau ini manis, Han Neulmi,” bisik Minho pada sebuah foto yang dipegangnya. Foto di mana Neulmi sedang memakan kembang gula di depan sekolah mereka. Foto di mana pencahayaan yang sangat bagus mengarah pada yeoja itu.

Minho yersenyum sekilas melihatnya.

Drrrttt.

Minho menoleh sekilas ke arah handphone-nya yang bergetar di atas meja. Display-nya berkedip-kedip di ruang merah tanda ada telepon masuk.

Kim Jonghyun calling.

“Yoboseyo?” tanya Minho.

“Minho-ya, kau tidak datang ke pesta Krystal Jung? Kukira kau menyusul dengan mobilmu,” ujar temannya –Kim Jonghyun. Terdengar hingar bingar musik.

“Tidak, aku malas, lagipula pasti Neulmi tidak datang, untuk apa aku ke sana?”

“Lho? Han Neulmi datang kok.”

Ucapan Jonghyun membuat Minho melepas foto yang dipegangnya dan langsung berseru, “Neulmi datang?”

“Ye, dengan Key Kim. Baru saja tiba. Kau harus tahu, dia sangat cantik lho!”

Minho langsung menekan tombol merah dan keluar dair ruang pencucian fotonya. Minho langsung menyambar jaket, dompet, dan kunci mobilnya. Beberapa detik kemudian, mobil sedan hitam Minho sudah melenggang keluar dari garasi kediaman keluarga Choi.

***

“Whoah… Han Neulmi rupanya sudah berubah menjadi angsa, ya?” Krystal Jung menyambut Key dan Neulmi. Yeoja angkuh itu memang terlihat sebagai si empunya pesta dengan dress hitam seksi yang menawan. Sulli Choi dan Suzy Bae yang setia mengikutinya tersenyum-senyum aneh pada Neulmi.

“Selamat ulangtahun, Krystal-ssi,” ucap Key.

“Trims, Key-ssi,” lalu Krystal menyentuh rambut Neulmi, “ternyata kau bisa cantik juga ya.”

Neulmi merasa risih segera menepis tangan Krystal dari tangannya.

Krystal tersenyum penuh arti, “silahkan menikmati pestaku, fellas…” dan melenggang bersama dua dayangnya.

***

Minho menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi.

“Key Kim! Mati kau di tanganku sampai kau menyentuh gadisku!” Minho memutar setir mobilnya dengan emosi. Ingatannya berputar ke beberapa hari lalu, tepat saat kedatangan namja bernama Key itu.

Flashback.

Minho berjalan keluar sekolahnya lesu. Pemandangan tak mengenakkan sore ini merusak mood-nya. Neulmi pulang dengan namja lain, benar-benar membuat Minho kesal setengah mati.

“Hahahahaha.”

Minho berhenti melangkah. Bulu romanya meremang sedikit mendengar tawa dari kelas Neulmi. Sekolah harusnya sudah sepi dari siswa-siswi. Ia sendiri pulang terlambat karena latihan futsal seperti biasa.

“Kau gila, Krystal-ah,” ujar salah satu perempuan.


Minho mendekatkan kupingnya ke pintu, sambil mengintip. Didapatinya tiga orang di dalam kelas, Minho yakin itu Krystal Jung, Sulli Choi, dan Suzy Bae.

Minho medesah lega, setidaknya bukan setan yang tertawa.

“Kau benar-benar dendam ya sama Han Neulmi?” tanya Sulli Choi sambil memilin rambutnya.


Begitu mendengar kata Han Neulmi, Minho langsung menajamkan pendengarannya lagi.

“Sampai-sampai ide gila seperti itu! Ckck…,” decak Suzy.

“Ayolah girls, Han Neulmi itu harus dikerjai sekali-kali,” ucap Krystal sambil mengikir kukunya, “Han Neulmi itu merebut Minho. Kalian tahu aku sudah mengincarnya dari ospek!”

“Ya ya, tapi idemu benar-benar gila, Krystal-ah!” seru Suzy, “kau merusak image Han Neulmi selama ini.”

“Bukan merusak,” Krystal menatap Sulli dan Suzy sambil tersenyum evil, “menghancurkan.”


Minho tertegun. Ucapan mereka masih berlanjut dengan ide-ide gila dan membuat Minho kaget setengah mati.

“Ck, Krystal-ah, kalau ketauan bagaimana?”

“Sudahlah, sepupuku itu takkan comel.”


Minho mengepalkan tangannya. Kalau ia tidak dapat menahan emosi-nya, bisa saja tinjuannya sudah melayang ke pipi Krystal Jung. Tak ada yang bisa Minho lakukan selain pergi dengan cepat sebelum tiga yeoja onar itu tahu keadaannya.

End of flashback.


Minho membelokkan mobilnya ke jalur Mokpo dan memacu kecepatan mobilnya tinggi.

“Neulmi-ya… Tunggu aku…”

***

Hingar bingar musik di pinggiran pantai Mokpo sangat ramai. Han Neulmi benar-benar bosan total, tidak ada Minho benar-benar membuatnya bete berat. Key sedang berbincang-bincang dengan beberapa teman satu ekskul-nya. Luna, teman sebangkunya yang datang ke pesta Krystal sedang asyik bercengkrama dengan Kim Jonghyun, kecengannya sejak lama.

“Minum, madam?”

Neulmi menoleh, Key menyodorkan segelas minuman berwarna biru.

“Nggak deh, lebih baik aku cari air mineral. Nggak biasa minum gituan,” Neulmi menunjuk gelas yang disodorkan Key.

“Ini bukan alkohol, kok,” Key menyodorkan gelas itu lagi, “ini Blue Sky.”

Melihat tatapan tulus Key, Neulmi menerima gelas itu dan tersenyum, “gomawooooo.”

***

Krystal tersenyum lebar, diikuti cekikikan Sulli dan Suzy.

“Kau yakin, Krystal-ah?” tanya Key menatap Krystal, lalu beralih menatap seorang yeoja yang tertidur dengan polosnya.

“Yakin! Lakukan tugasmu dan kita tinggal memotretnya,” seru Krystal, “oh ya! Jangan lupa kau juga harus berpose, Key-ah.”

“Hash, ne!” Key mendengus, “bukannya ide awalmu itu memamerkan aku dan Neulmi di depan Minho?”

Krystal berdecak, “ck, Minho tidak datang. Jadi kita pakai plan B! Sudah cepat!”

Key mendudukkan Neulmi yang tidak sadarkan diri ke sandaran ranjang. Sulli menyorot mereka berdua dengan handycam, sementara Suzy memotret-motret. Tinggallah Krystal yang tersenyum-senyum melihat rencananya.

***

Minho memarkirkan mobilnya sembarangan. Ia berlari ke pinggiran pantai Mokpo, didapatinya Jonghyun yang tengah meminum minuman dan bercengkrama dengan Luna Park.

“Ya! Ya! Kim Jonghyun!” teriak Minho berlari.

“Ige mwoya?” Jonghyun kaget.

“YA! Kalian tahu di mana Neulmi?” tanya Minho tak sabaran.

Jonghyun dan Luna mengangkat bahu tanda mereka tidak tahu.

“Lalu di mana Key?”

Mereka mengangkat bahu lagi.

“Hash!! Ppali ikut aku!!” Minho menarik tangan Jonghyun.

“Ya! Ya! Minho-ya!!”

Luna pun mengekor dua namja di depannya.

***

Key meneguk ludahnya begitu kulitnya menyentuh permukaan kulit Neulmi. Wajah yeoja polos itu damai tertidur, tak sadar bahwa gaun yang menutupi tubuhnya beberapa waktu lalu kini sudah ada di pinggangnya.

BRAKK!

Krystal, Sulli, Suzy, dan Key langsung menoleh ke arah pintu. Key langsung memakai kemejanya asal dan berteriak, “YA!”

Minho masuk menerobos dan langsung terkejut melihat sahabatnya tertidur di atas kasur. Melihat handycam dan kamera yang dipegang Sulli dan Suzy, ia tak segan langsung mengangkat kerah kemeja Key dan meninju wajah namja itu.

BUGH!

BUGH!

Wajah Krystal Jung memucat seketika begitu melihat sepupunya habis dihajar namja yang selama ini disukainya.

“Minho-ya!” Jonghyun berusaha melerai, sementara Minho menepis tangannya, “minggir kau Jjong, biar aku habisi namja brengsek ini!” Minho melayangkan tinjuannya lagi tanpa memberi kesempatan Key untuk melawan.

Luna langsung menutup tubuh Neulmi dengan gaun Neulmi, kembali diresletingnya gaun hitam itu. Untunglah Neulmi memakai dalaman sehingga tidak terlihat bagian tubuhnya, tapi tetap saja memalukan.

Jonghyun merebut handycam dan kamera dari tangan Sulli dan Suzy, mengeluarkan dua memory card dan menghancurkannya sampai berkeping-keping. Sulli dan Suzy menoleh ke arah Krystal yang pucat pasi melihat rencananya hancur bak rumah kartu yang disenggol secara tidak sengaja.

“Ayo, Minho-ya, Jonghyun-ah, lebih baik kita sadarkan Neulmi saja,” ucap Luna memapah Neulmi yang mengigau pelan.

“Taruh Neulmi di mobilku, Luna-ya, aku akan membawanya pulang sekarang juga,” suruh Minho. Namja itu masih menatap Key dengan kebencian, “harusnya kau mati di tanganku, brengsek!”

“Sudah, sudah, kau mau membunuhnya?” tanya Jonghyun melihat keadaan Key yang mengenaskan, “lebih baik kau cepat bawa Neulmi ke Seoul. Biar kuurusi Key dan tiga yeoja itu selanjutnya.”

Minho lalu berjalan ke arah Krystal Jung yang semakin pucat pasi, “kau, Krystal Jung, jangan harap urusanmu selesai denganku!”

Nyaris saja Minho membogem yeoja di depannya jika tidak ingat prinsipnya untuk tidak menyerang yeoja.

“Hhh!” Minho mengepalkan tangannya.

“Sudah, ayo keluar,” Jonghyun mendorong Minho.

Krystal menitikkan air matanya dan jatuh merosot ke lantai. Hancur sudah ia di depan namja yang disukainya.

***

“Kau yakin akan pulang sekarang juga?” tanya Jonghyun begitu Minho masuk ke mobilnya.

“Ne. Jonghyun-ah, Luna-ya, gomawo,” ucap Minho menstrater mobilnya.

“Ye, kalau Neulmi sadar, beritahu aku Minho-ya. Aku khawatir,” ujar Luna.

“Ne. Annyeong.”

Minho segera menjalankan mobilnya kembali ke Seoul.

***

Minho tak bisa fokus menyetir sementara Neulmi tertidur dengan memakai gaun yang menurutnya minim. Mobil sedan hitam itu sudah memasuki kawasan Seoul, hanya butuh setengah jam untuk Minho menyetir mobilnya kembali ke Seoul.

Minho menyetop mobilnya sebentar dan menyambar jas milik hyung-nya yang tertinggal di jok belakang. Ia sampirkan jas itu untuk menutupi bagian atas tubuh Neulmi. Minho lalu mencari handphone Neulmi di clutch hitam di samping yeoja itu, mengetik pesan pada nomor handphone ibu Neulmi bahwa Neulmi pulang esok hari karena menginap di Mokpo. Minho tak tega membawa Neulmi dengan keadaan begini kembali ke rumah.

Minho kembali menjalankan mobilnya. Mungkin ia bisa membawa Neulmi ke rumahnya, untuk sementara, atau mungkin rumah pacar hyung-nya yang terletak di kawasan Dongdaemun.

“Ngggg,” Neulmi mengerang, dan membuka matanya pelan, “eodi?”

Minho menoleh, “sudah bangun?”

“He?” Neulmi mengernyitkan dahinya, “Minho?”

Kepalanya sakit saat memutar ingatannya… Neulmi ingat hal terakhir yang ia lakukan adalah meminum minuman bernama Blue Sky yang diberi Key dan berdansa dengan namja itu. Tapi tiba-tiba kenapa ia sudah ada di mobil Minho?

“Kita di Seoul, Neulmi-ya,” jawab Minho.

“Seoul? Bukannya Mokpo?” tanya Neulmi bingung.

“I’ll tell you later,” Minho membelokkan mobilnya ke Namsan Park.

“Minho, kenapa kita ke sini?” tanya Neulmi lagi.

“Sebentar,” Minho keluar mobil dan masuk ke sebuah minimarket.

Neulmi mengernyitkan dahinya lagi, lalu ia mendapati jas yang menutupi dadanya. Semakin bingunglah yeoja itu. Tapi Neulmi sangat suka Namsan Park. Yeoja itu turun dan duduk di atas kap mobil Minho, memandangi bintang-bintang yang menghiasi langit Seoul, mencari jawaban kenapa bisa ia ada di mobil Minho?

“Ini, pegang dulu, jangan diminum, masih panas,” Minho menyodorkan secangkir kecil kopi hangat, “kau butuh sesuatu yang hangat, Neulmi-ya.”

“Ah,” Neulmi menerima cangkir kecil itu dan membungkuk tiga puluh derajat, “gomawo, Minho-ya.”

Keduanya sempat diam sesaat, mengingat terakhir mereka bicara adalah pertengkaran di ruang olahraga karena Minho cemburu atas kedekatan Neulmi dan Key.

“Kau pasti bingung kan?” tanya Minho, “kenapa kau bisa ada di mobilku?”

Neulmi mengangguk, “rasanya baru saja aku berdansa dengan Key… Tahu-tahu aku ada di mobilmu.”

Melihat wajah bingung Neulmi, Minho tertawa, “karena semuanya panjang untuk diceritakan, Neulmi…”

“Yaaaa! Minho-ya ceritakan padaku,” rengek Neulmi, “kau mau membiarkan sahabatmu ini tidak tahu cerita apa yang menimpa dirinya, heh?”

“Well then…,” Minho meniup kopinya, “kau mabuk di pesta Krystal Jung, Han Neulmi….”

“He?” Neulmi cengo, “maldo andwae Minho-ya, aku cuma minum Blue Sky….”

“Blue Sky tidak memabukkan, Neulmi-ku yang polos,” balas Minho, “tapi kalau alkohol dicampurkan di dalamnya, maka ia akan memabukkan.”

“Maksudmu ada seseorang yang memasukkan alkohol ke minumanku?”

Minho mengangguk.

“Lalu?”

Minho tak tega menceritakan bahwa yeoja di depannya nyaris kehilangan kehormatannya oleh namja yang dianggap Neulmi sahabatnya sendiri.

Minho menghela nafas, “lalu aku tidak tahu kau melakukan apa saja. Yang jelas, aku menggagalkan rencana Krystal dan Key.”

“Rencana?” Neulmi bingung,  “Krystal-Key?”

“Ye, untuk menghancurkanmu dengan menyebarkan fotomu yang tidak sadarkan diri dengan namja brengsek bernama Kim Kibum itu.”

Neulmi terdiam. Bahunya bergetar tanda gadis itu benar-benar kecewa, “jeongmal?”

“Ne, tadinya rencana mereka menunjukkanku hal itu….,” Minho menghela nafasnya, “tapi karena aku tidak datang, jadi mereka akan merekammu dan Key, menyebarkan…… Hey, uljima Neulmi-ya.”

Neulmi sudah terisak. Kalau Minho tidak datang, ia tidak tahu bagaimana dirinya.

Neulmi menutup wajahnya dan menangis sejadi-jadinya.

“Kenapa Key tega, Minho-ya?”

Minho menarik Neulmi ke dekapannya, “tentu saja bisa, Neulmi-ya… Kau tidak tahu kalau mereka sepupuan?”

Neulmi memutar ingatannya dan kembali menangis, “aku ingat… Dulu waktu aku main ke rumah Key, ada sepupunya Key… Yeoja bernama Soojung… Aku baru ingat nama korea Krystal itu Soojung…… Hiks…”

“Sssssh… Uljima, Neulmi-ya…,” Minho menghapus air mata Neulmi.

“Aaah, jinjja, sakit sekali pakai lensa,” Neulmi mengeluarkan soft lens dari matanya, dan membuang soft lens itu.

Minho turun dari kap mobil dan masuk ke mobilnya. Neulmi meminum kopi-nya untuk menenangkan diri.

“Pakailah,” Minho menyodorkan sekotak kacamata. Neulmi terperangah.

“Aku tahu kacamatamu hancur, makanya kubelikan yang persis,” Minho membuka kotak iitu dan mengambil sebuah kacamata berframe biru kotak itu, menenggerkan tangkai kacamata ke telinga Neulmi, dan menatap Neulmi. Wajah putih Neulmi yang seputih salju persis namanya memerah karena kecewa atas Key, tapi sedikit gugup atas Minho.

“Ada noda kopi di ujung bibirmu, Neulmi,” tunjuk Minho.

“Jeongmal? Eodi?” Neulmi meraba-raba pinggir bibir kirinya, padahal noda kopinya di pinggir kanan.

“Di sini lho,” Minho membersihkan noda kopi itu dengan ujung jarinya.

Deg.

Neulmi benar-benar merasakan kegugupan seperti ia dengan Key -mungkin lebih dari itu. Noda di ujung bibirnya dibersihkan oleh Minho padahal jantungnya yang terus berdegup tak karuan.

Pipi Minho merona seketika begitu berhadapan sangat dekat dengan yeoja yang selama ini ia sukai. Jantungnya memompa darah gila-gilaan.

Minho memegang pipi Neulmi yang dirasanya panas dan mendekati wajahnya dengan wajah Neulmi.

Ujung hidung mereka mulai bersentuhan. Neulmi ingin menghindar, tapi ia tak kuasa. Alam sadarnya memerintahkan ia untuk menerima apapun perlakuan Minho yang selama ini ia sukai -terutama sebelum Key datang.

Minho memiringkan kepalanya, dan…

Cup.

Bibir mereka bertemu. Pipi Neulmi semakin panas saat bibir Minho menyentuh bibirnya. Bulu roma yeoja itu meremang seketika begitu tangan Minho beralih dari pipinya ke tangannya. Bibir Minho bergerak bersamaan bibir Neulmi. Keduanya larut berpagutan di Namsan Park, di bawah sinar bintang yang berkelip.

***

Neulmi benar-benar gugup. Hanya ke sekolah saja ia merasa pusing tujuh keliling seperti ini. Padahal tak ada yang istimewa selain Minho akan menjemputnya, mengantarnya ke sekolah.

“Hashhh, kenapa tasku butut semua?” tanya Neulmi pusing.

“Sudahlah, Neulmi-ya!!” Neulmi menepuk pipinya sendiri, “ini hanya Minho!! Kau kan biasa bertemu dengannya, pabo!”

Akhirnya as usual, Neulmi menyambar ransel cokelatnya dan memasukkan buku-bukunya.

Rambutnya ia sisir, dan ia ikat setengah dari rambutnya, menyisakan poni sedahinya, dan matanya yang dibingkai kacamata pemberian Minho.

“Neulmi-ya!! Minho sudah datang!” teriak eomma-nya.

“Ne, eomma!” Neulmi langsung keluar kamarnya dan turun.

“Dia sudah sarapan?” tanya oppa-nya.

“Sudah pagi-pagi tadi sebelum mandi,” jawab eomma-nya.

“Ya! Neulmi-ya!” eonni-nya keluar dari kamar mandi, “kau habiskan maskerku, ya?”

“Hehehehehe,” Neulmi menyengir, “nanti aku ganti kok eonn….”

Neulmi mengecup pipi eomma-nya dan kaget mendapati appa-nya sudah akrab dengan Minho. Neulmi memang sudah mengenalkan Minho pada keluarganya sejak lama, but as best friend.

Begitu Minho menoleh ke arahnya, dan tersenyum, wajah Neulmi langsung merona saking gugupnya.

Appa-nya yang tadi malam baru pulang dari Shanghai tersenyum, “sana berangkat dengan namjachingumu!”

Neulmi mengecup pipi appa-nya, “jalljayo appa!”

“Kami pergi dulu, ahjusshi,” Minho membungkuk sopan.

“Ye, hati-hati!”

Minho membuka pintu untuk Neulmi, “duluan, putri.”

“Trims, pangeran,” jawab Neulmi masuk ke jok depan. Minho masuk ke mobilnya di samping Neulmi, mengklakson sekali tanda pamit, dan mobil hitam itu melenggang menuju SMA Donghwan.

***

Warga SMA Donghwan tidak heran dengan pasangan Minho dan Neulmi, toh mereka memang dekat dari dulu. Hanya saja kini Minho berani menggenggam tangan Neulmi.

“Kau itu manis, tahu,” bisik Minho.

“Geotjitmal,” respon Neulmi malu.

“Jeongmal,” bisik Minho lagi.

“Aaaaah Minho-yaaaaaa!”

Minho terkekeh.

Candaan mereka terhenti begitu melihat Krystal Jung berjalan ke arah mereka.

“Minho-ya, ada Krystal Jung,” ujar Neulmi takut.

“Tenang saja, ada aku,” Minho menggenggam tangan Neulmi.

Krystal Jung membungkuk sedikit dan tersenyum miris melihat namja yang disukainya bergandengan dengan yeoja yang dibencinya.

“Boleh aku bicara empat mata dengan Han Neulmi, Minho-ssi?”

Minho menoleh ke arah Neulmi, dan Neulmi mengangguk.

Minho lalu menoleh ke arah Krystal, memandang yeoja di depannya dengan tajam, “boleh. Tapi sampai kau mencelakakan yeojachinguku, kau akan habis, nona Jung,”

Krystal mengangguk, “kamsahaeyo, Minho-ssi,” dan membungkuk. Sangat bukan Krystal Jung.

Minho mengecup ubun-ubun Neulmi dan tersenyum hangat sebelum Jonghyun menariknya ke kelas untuk meminta contekan PR.

“Ehm, sebelumnya…,” Krystal merasa canggung berbicara sopan dengan Neulmi, “aku meminta maaf atas kelakuanku selama kita bersekolah di sini, Neulmi-ya….”

Krystal melanjutkan ucapannya, “semua kelakuanku pribadi, baik kelakuan Sulli dan Suzy.”

Neulmi mengangguk.

“Kau memaafkanku, Neulmi?” tanya Krystal tak percaya bahwa ia dimaafkan segitu mudahnya.

“Ne,” jawab Neulmi singkat, “tak ada gunanya juga menyimpan dendam padamu.”

“Kamsahamnida!!!” Krystal memegang tangan Neulmi, “jeongmal kamsahamnida! Kau terlalu baik, Neulmi-ya.”

Neulmi mengangkat sudut bibirnya.

Krystal lalu merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah amplop putih, “ini titipan sepupuku, Key. Dia sudah mengundurkan diri dari sekolah ini, dan pulang ke Tokyo hari ini juga.”

Neulmi menerima amplop itu dan mengangguk.

“Mulai hari ini dan seterusnya, kau takkan melihatku ataupun Key,” ujar Krystal, “aku mengundurkan diri dari sekolah ini sebelum dikeluarkan,” yeoja itu terkekeh miris, “Sulli dan Suzy tidak keluar dari sekolah ini, tapi kumohon, jangan balas dendam pada mereka. Mereka hanya menuruti perintahku, Neulmi-ya…”

Neulmi mengangguk lagi. Tak disangkanya Krystal peduli dengan dua dayangnya itu.

“Baiklah,” Krystal tersenyum tulus, “aku bisa lega keluar dari sekolah ini,” tiba-tiba saja Krystal memeluknya.

“Aku hanya iri denganmu, Han Neulmi,” ucap Krystal lirih, “kau.. Manis.. Cantik.. Walaupun kau nerdy.. Kau pintar, dan kau dekat dengan Minho.”

Krystal melepas pelukannya, “maafkan aku…”

“Sudah kubilang, aku sudah memaafkanmu,” ucap Neulmi sambil tersenyum.

“Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu. Longlast ya dengan Minho.”

Krystal Jung membungkuk dan berjalan keluar dari SMA Donghwan.

Neulmi lalu menatap amplop di tangannya.

***

Neulmi duduk di bench taman dan membuka surat dari Key saat istirahat.

Dear Mi-Chan / Han Neulmi

Saat kau baca surat ini, aku sudah resmi mengeluarkan diri dari SMA Donghwan.

Aku terlalu malu untuk tetap di sana, sehingga aku memutuskan untuk pulang ke Tokyo, dan nanti melanjutkan kuliah di New York, in case you’re curious. Kekekeke.

Han Neulmi, aku tidak bermaksud jahat padamu. Aku hanya jealous, Mi-Chan… Choi Minho begitu beruntung bisa dekat denganmu… ya aku memang… bodoh =_=

Aku mengikuti rencana tolol Krystal sepupuku untuk mendapatkanmu, sementara Krystal mendapatkan Minho. Aku rela menukarkan persahabatan kita hanya untuk mendapatkanmu, Neulmi… Because you’re too precious to me.

Uh.. by the way, kejar cita-citamu, menjadi dokter bukan? Ayo aku mau melihat Han Neulmi menjadi dokter lima tahun mendatang! Hwaiting!

From your ex-best friend -but I wish I’d always be your best friend, Bubum/ Kim Kibum


Neulmi tersenyum singkat. Tahu-tahu sudah ada tangan yang melingkar di pinggangnya.

“Jagiya,” bisik Minho, menggelikan Neulmi.

“Mwoya?” tanya Neulmi.

“Surat siapa sih itu?”

“Key,” jawab Neulmi.

“Oooh dia… Ke kantin yuk. Lapeer,” rengek Minho.

“Hash, kau ini seperti anak kecil,” Neulmi mencubit pipi Minho, “kkajja ke kantin.”

Sebelum Neulmi berdiri, Minho mencuri kesempatan untuk mencium pipi Neulmi.

“Ya! Choi Minho!!!”

Minho tertawa melihat Neulmi yang salah tingkah.

***FIN***

a/n: Yak buat Krystal biased/Key biased maaf ya karakternya dibikin kayak gini. Sori sori *joget sorry-sorry* Yak ditunggu komennya, mongoooo ^^

3 thoughts on “I’m Falling For You [ONESHOT]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s