You call this: A Friendship [PART 1]

Author: Nisaiueo

Casts: SNSD’ Yuri and Jessica.

Category: Oneshot

Rate: G

Genre: Friendship

Disclaimer: I don’t own the casts, just own the story.

NO BASH, NO PLAGIARISM, AND NO SILENT READERS!

***

Seorang yeoja dengan rambut pirang dengan sedikit ikal di beberapa sisinya menenggak minuman berwarna biru muda di dalam gelas yang dipegangnya. Jessica Jung. Putri tunggal keluarga konglomerat, Jung.

“Nggak minum vodka, Sicc?” tanya salah satu temannya Tiffany.

“Bosen, gue lagi nggak pengen drunk“.

What? Apa kata dunia Jessica Jung lagi nggak mau drunk? Udahlah, nikmatin aja, beberapa bulan lagi kita ujian kelulusan! Nggak akan bisa party kayak gini, Sic! Iya nggak guys??” tanya Tiffany pada beberapa perempuan yang tengah bercengkrama di sudut klab.

IYA BANGET!teriak Stella, mengacungkan botol wine-nya dengan tinggi.

Jessica hanya bisa tergelak pelan, “no, guys. Thanks. Cocktail ini cukup enak kok”.

Entah kenapa, ia enggan meminum wine, dan sebangsanya seperti biasa.

————————————————————————————————————-

Jessica mengerem mobilnya secara mendadak dengan jarak beberapa meter dari gerbang rumahnya. Banyak sekali mobil polisi dengan sirine yang memekakkan kepala.

“Ada apa sih?” gumam gadis itu, segera menyambar sebuah jaket hitam yang tersampir di jok belakang untuk menutupi tubuhnya yang hanya memakai tube dress hitam.

Jessica melangkahkan kakinya ke rumah, dan mendapati eomma-nya menangis.

“Ada apa?” tanya Sica pada salah satu pelayannya.

“Sajangnim ditangkap polisi, agasshi”.

————————————————————————————–

BLAM.

Jessica membanting pintu kamarnya, “AAARRFFGGGH!” yeoja itu mengacak-acak rambutnya frustasi. Lalu berkali-kali menampar kedua pipinya. Memastikan ia tidak bermimpi.

Andwae! Impossible! Nggak mungkin dad kayak gitu! Ini pasti mimpi! Oh god, please wake me up! Gue cuma miinum cocktail kok dan nggak mabok, jadi gue nggak mungkin mimpi! Oh GODDDDD!!
“Sica sayang, eomma boleh masuk?”

Lalu pintu terbuka, seorang wanita berumur pertengahan 40 dengan rambut berwarna hitam mendekati putrinya yang tengah duduk di atas ranjang.

“Sica-ya, eomma tahu ini berat sayang …”

“Katakan kalau Sica lagi bermimpi, eomma! Appa nggak kayak gitu! Sica yakin!”

“Sica-ya .. dengar, ini mungkin mengejutkanmu …. Appa dituduh melakukan penggelapan pajak perusahaannya, sayang …”

Sica menggigit bibir bawahnya, lalu menunduk, perlahan butiran kristal cair mentes dari pelupuk matanya. Ia mungkin bukan anak yang berbakti pada orang tuanya, tapi ia tetaplah seorang anak yang menghormati dan menyayangi kedua orangtuanya.

“Dad belum berkomentar apapun, eomma bingung apa yang harus kita lakukan, Sica-ya ..”

———————————————————————————-

Tahu-tahu Sica terbangun dari tidurnya, ia masih mengenakan dress yang dipakainya semalaman ke klub bersama teman-temannya, Stella Kim, san Tiffany Hwang. Ia terbangun.

Semua hanya mimpi.

Gadis itu segera mengganti bajunya dengan kaos dan hotpants, menjadi Jessica biasa. Ia menganggap kejadian dad-nya ditangkap polisi hanyalah mimpi. Sica menuruni tangga putar sambil bersiul. Seperti setiap pagi, ia pasti menemukan eomma dan dad-nya di meja makan.

Tapi, yang ditemukannya hanyalah eomma-nya yang sibuk berbicara pada gerombolan ibu-ibu di ruang tamu.

“Saya mohon, bu, begitu semuanya clear, akan saya kembalikan”.

Sica mengerutkan keningnya.

“Kalau begitu, nih, ini yang hanya saya punya, semua perhiasan yang saya punya. Kalian bisa mengambilnya sebagai bayaran sementara. Saya Lim Heerin tidak mungkin menipu anda semua! Begitu suami saya, Jung Soohyun kembali, akan saya kembalikan pinjamannya, Sekarang kalian bisa ambil perhiasan saya dan pergi dari kediaman saya”.

Sica merasa lututnya lemas. Ia butuh menopang tubuhnya untuk tetap berdiri dengan berpegangan pada kursi makan. Gadis itu duduk di kursi makan dengan lemah.

Jadi ini bukan mimpi?

“HEO AHJUMMA! HEO AHJUMMA!!” Sica berteriak.

Tak ada satupun yang menghampirinya. Meja makan juga kosong, sementara eomma-nya masih mengurus urusannya.

Eomma-nya duduk di depan Jessica begitu gerombolan ibu-ibu sudah menghilang.

“Sica-ya, percuma manggil pelayan. Semua sudah eomma pecat. Eomma tidak ada biaya untuk menggaji mereka,” lalu eomma-nya menyodorkan sebuah surat, “semua aset dan uang juga rekening, semuanya diblock oleh pihak kepolisian. Semua harta kita juga. Mobil-mobil, dan barang di atas batas harga normal semuanya disita. Dan juga … rumah”.

Sica melotot, “RUMAH? TERUS KITA TINGGAL DI MANA EOMMA???!”

——————————————————————————————————————————————————————————

Jessica melepas kacamata hitam kesayangannya dengan angkuh, eomma-nya berdiri di sampingnya.

“Nggak ada flat yang lebih gede lagi, eomma?” tanya Sica.

“Sica .. kamu tahu sendiri ..”

Fine, let me try to deal with this condition, okay?

Nyonya Jung memutar kenop flat. Gelap.Wanita itu mencari tombol lampu. Klik. Lampu flat menyala. Untung saja flat itu dalam keadaan bersih dan rapi.

Flat itu jauh lebih kecil dari kamar Jessica di rumah lamanya. Flat itu benar-benar berbentuk kotak kecil. Ada kamar mandi kecil di ujungnya, dan dapur berupa susunan kitchen set berderet di pinggir kiri. Selebihnya bisa digunakan sebagai kamar sekalian ruang makan.

Oh My Godness …

———————————————————————————————————————————————————————

I know it sucks, buit I’m trying. Wait for the next part, kay?😉

6 thoughts on “You call this: A Friendship [PART 1]

  1. wahh unn, bgs y, ku kira Yurinya sdh mucul ternyata blm, oh y unn nanti disana ada romance nya g, kalog ada couplenya sm sp unn ???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s