Pergilah Kau [ONESHOT]

Casts: SHINee’s Jinki (Onew), and Minho. OCs: Kim Haerin and Jang Minri.

Category: Oneshot

Rate: PG-13

Genre: Romance

Disclaimer: I don’t own Onew nor SHINee but maybe I do own Minho. LOL. I also own the plot, story, and OCs.

a/n: Setelah Minri putus dari Minho, Minho-nya jadian sama author ;)) *plak ea ngarep

———————————————————————————————————————————————————————————–

“Aku sudah lihat semuanya. Semuanya sudah jelas, Minho. Apa yang mau kau jelaskan lagi padaku??” Aku menyeka air mata yang menggenangi pelupuk mataku dan berbalik.
“Haerin-ah, ini tidak seperti yang kau lihat,” Minho menarik tanganku, dan aku melepaskan tangannya paksa.
“Tidak seperti yang kulihat? Sudah jelas kau mencium bibirnya!” Aku berteriak dan air mataku semakin deras mengucur.
Kau kecewakan aku.

“Haerin-ah, dengarkan,” Minri menghampiriku dan menatapku. Kugenapkan kekuatanku dan tanganku bergerak menampar pipi kananya.
“Kau. Aku tidak pernah menyangka kau- jerk,” aku menangis dan berlari sambil mengaduk isi tasku. Mencari tissue.
Aku berjalan cepat tak menggubris panggilan Minho dan Minri. Persetan dengan mereka.

Langit mulai mendung, ku percepat langkah kakiku menuju mobil audi putihku. Aku masuk ke mobil dan gerimis turun. Kuputar kunci mobil dan meng-gas mobil sekencang mungkin. Roda mobilku berderit dan meninggalkan taman laknat itu.

Kubiarkan air mataku tumpah. Berkali-kali handphone ku menderingkan ringtone tapi kubiarkan saja.
Handphone itu berdering lagi. Terpaksa kunyalakan speakerphone.
“Yoboseyo,” sapaku pelan.
“Haerin? Haerin-ah??”
Jinki menelepon.
“Haerin-ah gwenchanayo? Kau di mana??”
Sepertinya dia sudah melihat handphone Minho yang tergeletak di sofaku.
“Gwenchanayo. Sudah ya. Annyeong”.
Kubanting saja handphone itu dan menghapus air mataku dengan tangan. Kujalankan wiper mobil agar kaca depannya bersih. Kupertajam penglihatanku. Aku mencoba konsentrasi.

Sial setir ini…ah jerk kenapa setir tolol ini tidak mau dikendalikan?! Mobilku miring ke kanan dan kiri akhirnya sebuah pohon tepat di depan mobil. BRAKKKK!!!!! Kepalaku mebentur setir. Semuanya gelap.

Flashback~

“Jagiyaaaaa,” aku bergelayut manja di lengan Minho.
Minho mengelus kepalaku dan mengecup keningku.
“Ini!”
Minri menyerahkan dua buah eskrim, sedangkan ia sendiri meminum air putih.
“Gomawo,” ucapku mengambil pesananku. Kuberikan satu eskrim pada Minho.

“Ya, chagiya, eskrimmu sampai hidung,” Minho menyentuh hidungku.
“Mwo? Aish,” aku merogoh kantung celana jeansku.
“Ini,” Minri menyerahkan tissu.
“Gomawo”.
Minho menyeka noda eskrimku pelan dan tersenyum.
“Saranghae,” bisiknya di telingaku. Aku hanya tersipu, “nado”.
Lalu Minho mengecup pipiku.
“Minho-ah ada Minri di sini,” bisikku.
“Ups”.

Minho. Kekasihku sejak kuliah semester awal hingga aku mau lulus kuliah. Minri adalah sahabatku sudah lama. Forever friends. Terdengar konyol, tapi Minri friend ku sejak SMP.
Saat Minri memiliki pacar bernama Kibum, kami sering double date. Tapi Minri baru saja putus.

Aku tidak enak pada Minri. Sehingga Minri seringkali kuajak pergi bersama Minho.

Hingga suatu hari. Malapetaka itu datang.
Aku sangat sibuk menjelang wisudaku. Minri masih harus menjalankan satu semester lagi yang ia lewatkan karena ia sakit flu setahun lalu. Minho seringkali ngambek karena aku sibuk.

Lee Jinki. Asisten dosen yang seumur denganku itu adalah dosen pebimbingku. Ia seumur denganku tapi satu angkatan dengan Minho. Hm, akselerasi saat bangku SMA. Wajahnya imut. Rambutnya cokelat pendek dan dia punya smile-eye yang lucu.
Apa aku suka padanya? Tidak. Jinki hanya dosen pebimbingku. Minholah satu-satunya namja yang merebut hatiku.

“Annyeong,” aku mencium pipi Minho dan ia tersenyum singkat sambil masuk ke mobil mazda-nya. Mobil itu meninggalkan rumah. Aku bersiul kecil dan tersenyum pada umma yang sedang memasak di dapur.

“Noona, HP minho hyung ketinggalan,” Gangsan, adik laki-lakiku menyodorkan HP Minho.
“Aish dasar dia itu babo. Baiklah akan kuberi padanya besok. Gomawo gangsan-ah,” aku mengambil Handphone touchscreen itu. Gangsan mengangguk dan kembali bermain PS.

Aku duduk di sofa dan tertarik mengetahui Handphone Minho.
Wallpapernya Minho baru diwisuda. Saat itu aku benar-benar bangga padanya. Dia peraih IP tertinggi ketiga di kampus.
Kugerakkan jariku, menekan icon galeri, tapi sesuatu menghentikanku.

1 New Message from Jang Minri.

Aku mengernyitkan dahiku dan menekan yes.

Jagi kau dimana? Sudah belum dari rumah Haerin? Hari mulai gelap. Cepat ya^^ love you.

Tanganku gemetaran. Aku tidak percaya. Tidak mungkin.
Aku menangis.
Kugerakkan jariku menekan ikon message, membuka semua sms dari Minri.

Taman Seoul.
Aku segera berlari mengambil asal tasku dan memasukkan HPku. Bodohnya, kutinggalkan handphone Minho di atas sofa dan berlari menuju garasi. Kujalankan audi-ku dan menyetir ngebut menuju Taman Seoul. Air mataku ingin keluar tapi kutahan. Tidak mungkin mereka berpacaran. Tidak.

Kuhentikan mobilku dan keluar dari mobil. Aku setengah berlari mencari mereka. Kuedarkan pandanganku ke seluruh penjuru taman. Kucari Minho dan Minri. Kutemukan dua orang muda-mudi duduk di kursi kayu. Aku mendekat.

“Sampai kapan kita begini?”
“Sabar…aku sendiri belum bisa menghilangkan perasaanku pada Haerin”
“Aish kau mau membuatku menunggu sampai tua?”
“Ani!”
“Atau kau tidak mencintaiku?”
“Kau ini..”
“Buktikan kalau begitu”

Kepala Minho mendekat. Bibirnya menempel di bibir Minri. Aku menutup mulutku dan air mataku mengalir deras. Kugigit bibir bawahku dan aku berjalan.
“YA!”
Mereka terkesiap. Mereka melihatku. Minho langsung panik, Minri membetulkan rambutnya dan kaget.

“Kalian tertangkap. Permainanmu selesai Choi Minho”.
Aku menatap langit dan menggigit bibir bawahku.
“Haerin. Ini tidak seperti yang kau lihat. Aku bisa jelaskan”
Alah basi. Shut the fuck up.
“Aku sudah lihat semuanya. Semuanya sudah jelas, Minho. Apa yang mau kau jelaskan lagi padaku??” Aku menyeka air mata yang menggenangi pelupuk mataku dan berbalik. Kelanjutannya..kalian sudah tahu sendiri.

End of Flashback~

Tak mau lagi kupercaya
Pada semua kasih sayangmu
Tak mau lagi aku tersentuh
Pada semua pengakuanmu

Kamu takkan mengerti
Rasa sakit ini
Kebohongan dari mulut manismu

Pergilah kau pergi dari hidupku
Bawalah semua rasa bersalahmu
Pergilah kau pergi dari hidupku
Bawalah rahasiamu yang tak ingin kutahui….

Aku membuka mataku. Yang kulihat pertama kali adalah umma.
“Umma”.
“Haerin,” umma mengelus tanganku. Kulihat raut wajahnya yang cemas.
“Haerin”.
Jinki. Menatapku khawatir.
“Mwoya? Apa yang kau lakukan disini?” Tanyaku menatapnya lembut.

“Umma keluar dulu ya. Mau memanggil dokter,” umma meninggalkanku dan Jinki berdua.
“Kau membacanya ya?” Tanyaku.
“De. Kita ada janji bimbingan skripsi. Aku datang kau tidak ada. Kata gangsan kau pergi terburu-buru. Aku curiga dengan handphone asing di atas sofa. Dan…kubaca semuanya”.
“Terus?”
“Aku meneleponmu sambil menyusul ke taman seoul. Tak kulihat mobilmu. Aku menyusuri jalan dan menemukanmu yang pingsan di dalam mobil, terbentur setir. Mobil audimu menabrak pohon”.
“Mampus. Appa akan marah besar padaku,” kataku pelan.
“Babo..masih saja kau pikirkan mobil. Pikirkan nyawamu!”

Kutatap mata Jinki. Kulihat kekecewaan, kecemasan, dan kebahagiaan di sana. Ia terlalu baik.
“Kalau cowok itu berani menampakkan hidungnya di depanmu, akan kugunduli rambut tololnya itu”.
Aku hanya tertawa pelan.

“Haerin”.
Kulihat sosok manusia yang sangat kubenci hari ini. Choi Minho.
“Berani kau datang kesini?!” Jinki mengepalkan tangannya.
“Aku tak ada urusan denganmu”. Minho melewati Jinki dan menyerahkan sebuah buket bunga aster kesukaanku dengan sehelai kertas.

Mianhae, chagiya.

Kulempar buket itu ke pintu dan satu sosok yang kubenci menangkapnya. Jang Minri.

“Kim Haerin…,” Minri mendekatiku.
“Pergi kau,” usirku.
“Haerin-ah…dengarkan dulu”.
“Kau budek apa tuli atau jangan-jangan rumah siputmu hancur ya? Kubilang pergi!” Aku menghardik sahabatku sendiri. Sahabat seperjuanganku.

Kau juga. Jangan pernah kau berani menampakkan dirimu di depanku, tuan Choi. Berhenti memanggilku Chagiya. Aku tidak sudi,” aku memalingkan wajahku dan air mataku mengalir. Jinki dengan lembut menghapusnya.

“Haerin-ah. Mianhae. Kukembalikan Minho padamu. Sumpah aku tak akan mengambilnya lagi.”
Aku menoleh pada Minri, “kau kira aku sudi?! Minri-ah aku tak menyangka kau berbuat begitu. Kau mengambil pacar sahabatmu sendiri!!” Aku menangis. Sial.
“Haerin..aku mencintai Minho. Tapi kukembalikan ia padamu…mianhae”
“Terlambat nona Jang,” ucapku.
“Haerin..kumohon..mianhae, kita masih teman kan?” Tanya Minri.
“Forever friends? Hah bodoh. Sudah terlalu parah kesalahan yang kau buat Jang Minri,” kataku pelan, tegar, dan tegas. Padahal hatiku remuk.
Jinki menatapku dan menggenggam tanganku.

“Mianhae….”
“Pergi,” usirku. Minri membungkuk dan keluar dari kamar perawatanku.

“Chagi-”
“Stop tuan perfect,” kuhentikan langkahnya.
“Masih adakah kesempatan kedua untukku?” Tanya minho.
“Ya! Masih saja kau. Aish kutimpuk juga kepalamu dengan tabung oksigen ruang sebelah!” Jinki menatap Minho kesal.

“Tidak,” jawabku tegas.
“Kau mencintaiku. Aku mencintaimu!”
“Persetan dengan semua itu, tuan choi,” kataku pelan.
Mungkin aku terlihat tegar tapi hatiku remuk. Pecah. Berkeping-keping. Sounds over but its reality.

“Haerin, kumohon..”
“PERGI!” Aku berteriak.
Minho terkesiap.
“Ya babo! Kau dengar tidak? Kau ini tuli ya sama seperti selingkuhanmu itu? Dia bilang pergi”. Jinki mendukungku.
“Pikirkan, Haerin-ah, aku mencintaimu. Beri aku satu saja kesempat-”
PLETAK! Jinki melempar pulpen yang selalu ada di kantung kemejanya pada Minho.
“Pergi. Dia sudah bilang pergi. Kau tuli ya? Perlu aku daftarkan ke dokter THT?!”
Aku nyaris tertawa mendengar ucapan Jinki.

Bertahun-tahun bersama untuk percayaimu.
Kubanggakan kamu
Kuberikan segalanya
Aku tak mau lagi tak mau lagi…

Pergilah kau, pergi dari hidupku.

Pergilah kau Choi Minho. Pria yang kubanggakan bertahun-tahun. Aku bangga menjadi yeojachingumu dulu. Bangga menjadi orang spesial si mister perfect.
Pergilah kau Choi Minho. Pria yang telah kuberikan hatiku. Kuberi kepercayaan dan cintaku.
Tapi ini yang kau balas.

Minho menutup pintu kamar perawatanku dan aku menangis.
“Haerin-ah”.
Jinki memelukku. Aku merasa damai.
“Saranghae”.
Aku terkesiap tapi aku tetap di pelukannya.
“Aku tahu ini tidak tepat waktunya. Tapi…jeongmal saranghae”.
Aku hanya menangis.
“Aku tidak bisa menjawabnya sekarang…”
“Gwenchana. Kau butuh waktu,” Jinki mengelus rambutku. Kubiarkan diriku terhanyut di pelukannya.

———————————————————————————

Inspirated by Sherina Munaf’s Pergilah Kau :’)
Sorry for the horrible story. I’mma still amateur *kneeling*

3 thoughts on “Pergilah Kau [ONESHOT]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s